BATU - Jumlah petani di Kota Batu bakal terus ditambah. Kendati pertumbuhannya bisa dibilang sudah cukup bagus. Pada 2024 lalu jumlah petani meningkat 592 orang jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menargetkan adanya penambahan 1.000 petani baru pada 2026 mendatang.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Heru Yulianto mengaku sudah punya sejumlah strategi untuk mencapai target tersebut. Salah satunya melalui program subsidi sertifikasi untuk pertanian organik. Program itu mengakomodasi bantuan benih hingga pemulihan lahan.
“Kami sudah menyasar 22 desa dan kelurahan yang bersertifikat organik,” jelasnya. Melalui program tersebut, para petani dapat memiliki pangsa pasar yang lebih luas. Misalnya lewat kerja sama dengan pihak ketiga atau offtaker untuk menyuplai kebutuhan swalayan besar. Sehingga, harga jual sayur organik bisa stabil.
Heru menilai hingga sekarang iklim Kota Batu masih relevan untuk mengembangkan potensi pertanian. Sehingga, petani bisa menjadi profesi yang menjanjikan. Harapannya dalam sekali panen keuntungan bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per hektare. “Kami terus edukasi petani muda agar tidak minder karena prospek ke depan bagus,” paparnya.
Seleksi petani milenial juga tetap menjadi agenda rutin tahunan. Mengingat animo peserta selalu tinggi. Itu bisa menjadi stimulus pekembangan pertanian yang lebih baik. Khususnya dalam menciptakan inovasi baru dan terbarukan. Misalnya, dengan menemukan cara mengoptimalkan produksi pertanian dengan realitas keterbatasan lahan.
Hal itu sebenarnya sudah dilkukan petani anggrek dan krisan. Mereka hanya memanfaatkan lahan yang relatif sempit. Yaki hanya 100 meter persegi saja. Namun, di lahan itulah mereka berkreasi untuk mengoptimalkan produktifitas lahan. Salah satunya melalui pengembangan kultur jaringan berbagai jenis komoditas. Termasuk kentang dan stroberi.
Pemasaran juga bakal menjadi fokus untuk mendongkrak distribusi pasar yang luas. Di antaranya dengan menggandeng offtaker untuk kegiatan ekspor. Contohnya, petani yang menanam sawi putih dan kubis bisa diproyeksikan ekspor ke Korea Selatan. Itu bisa untuk memenuhi kebutuhan suplai bahan baku kimchi.
“Itu minimal bisa dilakukan 4 bulan dalam setahun. Sekali pengiriman bisa mencapai 10 kontainer per bulan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto mengaku akan memasifkan pengawasan terhadap sektor pertanian. Apalagi dengan penyusutan lahan pertanian yang terus signifikan dari tahun ke tahun. Dia berkomitmen untuk tidak merusak ekosistem khususnya Lahan Sawah Berkelanjutan (LSB).
“Kami akan kendalikan tata ruang wilayah agar lahan pertanian tidak semakin sempit,” ujarnya. Selain itu, bantuan kepada para petani juga terus diinventarisasi. Terutama dalam penyediaan green house. Sebab, Heli menilai petani muda lebih tertarik ke jenis pertanian modern, pengembangan, dan riset.
Itulah mengapa mereka akan dibuatkan fasilitas penunjang seperti laboratorium pertanian. Rencananya pembangunan laboratorium dilakukan di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji. “Kami rencanakan bisa berjalan tahun depan agar industri pertanian makin bergeliat dan dilirik anak muda,” tandasnya. (ori/dre/adv)
Editor : A. Nugroho