Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sepak Terjang Dhimas Galang Anngoro sebagai Eksportir Tanaman Hias dari Kota Batu

Bayu Mulya Putra • Senin, 1 Desember 2025 | 16:09 WIB
SEJAK 2020: Dhimas Galang Anngoro menunjukkan salah satu jenis tanaman karnivora di greenhouse-nya Jalan Lesti, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, beberapa waktu lalu.
SEJAK 2020: Dhimas Galang Anngoro menunjukkan salah satu jenis tanaman karnivora di greenhouse-nya Jalan Lesti, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, beberapa waktu lalu.

Awalnya Rutin Kirim Anggrek, Kini Beralih ke Tanduk Rusa

Greenhouse milik Dhimas Galang Anngoro berlokasi di Jalan Lesti, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu. Bangunan itu berukuran sekitar 100 meter persegi. Di dalamnya terdapat berbagai tanaman hias.

Mulai dari tanduk rusa atau platycerium, anggrek, hingga aroid atau tanaman berjenis talas-talasan. Beberapa tanaman yang dikembangkan di CV Anggora Nursery miliknya sudah menembus pasar internasional. Yang paling sering saat ini yakni platycerium.

Perjalanan pria kelahiran 1991 di dunia ekspor tanaman bermula pada 2019. Saat itu pandemi mulai melanda. Permintaan tanaman jenis kuping gajah di luar negeri justru meningkat. Galang yang awalnya hanya seorang pencinta tanaman, terutama anggrek dan tanaman karnivora, mencium potensi bisnis.

Adewina Nugroho, eksportir tanaman hias asal Kabupaten Blitar kerap meminta bantuannya untuk memasok tanaman jenis itu. ”Per bunga saya bisa dapat untung Rp 50 ribu. Lama-lama naik sampai Rp 150 ribu,” kenangnya. Permintaan terus bertambah. Dari yang mulanya hanya membantu, Adewina mulai menyarankan dia untuk ikut mengekspor langsung.

Awalnya Galang sempat ragu. ”Saat itu saya pikir buat apa ekspor sendiri kalau membantu eksportir saja keuntungannya sudah banyak,” kisah dia. Mengetahui itu, Adewina lantas membuka pandangan Galang untuk memahami dunia jual beli internasional.

Dari situ dia menangkap peluang yang lebih besar. Terlebih, saat itu belum ada eksportir tanaman hias dari Kota Batu. Pada awal 2020, dia memberanikan diri masuk ke pasar ekspor, meski masih menumpang di perusahaan temannya. ”Jadi sistemnya undername,” imbuh dia.

Melihat potensi yang semakin jelas, dia memutuskan membuat badan usaha sendiri. Pada akhir 2020, CV Anggora Nursery resmi berdiri. Nama Anggora merupakan akronim dari anggrek dan karnivora. Dua jenis tanaman yang menjadi fokus awal dari bisnisnya.

Memasuki 2021, Galang mulai aktif memasarkan tanaman melalui pasar daring bernama Etsy. Seiring berjalannya waktu, dia mendapat pembeli tetap dari berbagai negara. Selain lewat aplikasi, transaksi juga dilakukan secara manual melalui e-mail.

Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Regulasi ekspor tanaman hias, terutama terkait tanaman yang masuk daftar appendix Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), semakin ketat. Akhirnya, Galang dan eksportir lain harus beradaptasi.

”Sekarang anggrek dan tanaman karnivora termasuk kantong semar sama sekali tidak boleh diekspor tanpa CITES. Termasuk jenis yang tidak dilindungi,” ujarnya. Kecuali sudah mengantongi izin CITES. Padahal, pengurusan izinnya sangat rumit. Mulai dari syarat laboratorium hingga ketersediaan bibit yang terverifikasi.

Akibatnya, sejak 2020 dia berhenti mengekspor anggrek dan tanaman karnivora. Saat ini, koleksi yang tersedia di greenhouse-nya hanya untuk penjualan lokal. ”Kalau untuk ekspor, sudah tidak mungkin,” ucapnya.

Di tengah keterbatasan itu, Galang beralih fokus pada tanaman tanduk rusa atau platycerium dan beberapa jenis aroid seperti anthurium dan philodendron. Tanaman-tanaman itu tidak termasuk kategori larangan dan permintaannya justru meningkat.

Setiap bulan, setidaknya ada 500 tanaman yang dia kirim ke berbagai negara. Permintaan terbesar datang dari Taiwan, mencapai 1.000 tanaman per bulan. Jumlah permintaan itu tidak selalu bisa dia dipenuhi. ”Itu baru Taiwan, belum negara lainnya,” terang alumnus Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Negara-negara lain seperti Jepang, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Singapura, Thailand, dan Republik Ceko juga jadi langganan platycerium-nya. Harga tanaman itu pun bervariasi. ”Yang paling murah sekitar 10 dolar, yang termahal bisa 1.672 dolar Amerika,” kata dia. Omzetnya per bulan bisa menembus ratusan juta rupiah.

Beberapa jenis khusus menjadi buruan kolektor luar negeri. Seperti Platycerium Willinckii yang harga internasionalnya bisa mencapai Rp 28 juta per tanaman. Itu masih dengan ukuran yang kecil.

Untuk pasokan, Galang tidak hanya mengandalkan budi daya saja. Dia juga banyak bekerja sama dengan petani lokal di Jawa Timur. Selain itu, dia juga membantu ekspor tanaman milik temannya dan petani lain yang belum memiliki izin ekspor.

”Jadi kami berkembang bersama. Banyak petani yang akhirnya bisa merasakan pasar global,” ujarnya. Sistemnya sama dengan yang dulu dia lakukan. Yakni dengan undername CV milik Galang.

Tahun 2024, muncul satu CV baru eksportir tanaman di Kota Batu. Bagi Galang, itu bukan suatu ancaman. ”Itu jadi kabar bahwa Kota Batu bisa dikenal dunia bukan hanya lewat pariwisata, tapi juga ekspor tanaman,” kata dia.

Saat ini, Galang menjadi pionir eksportir tanaman hias dari Kota Batu. Di tengah regulasi yang ketat, dia tetap bertahan dan beradaptasi. Di balik deretan hijau dan suburnya tanaman yang nangkring di greenhouse miliknya, perjalanannya terus tumbuh. Seperti halnya tanaman-tanaman yang dia kirim ke berbagai belahan dunia. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#tanaman hias #um #CITES #malang