Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Riwayat Gedung Kolonial yang Kini Menjadi Kantor Bersama Muhammadiyah Batu

Aditya Novrian • Jumat, 5 Desember 2025 | 16:10 WIB
TETAP BERTAHAN: Kondisi bangunan peninggalan kolonial yang kini jadi Kantor Bersama Perguruan Muhammadiyah Batu.
TETAP BERTAHAN: Kondisi bangunan peninggalan kolonial yang kini jadi Kantor Bersama Perguruan Muhammadiyah Batu.

Pernah Dihuni Keluarga Belanda hingga Dipakai Asrama TNI

 

DI ANTARA hiruk pikuk Jalan Welirang yang setiap pagi disesaki riuh murid berangkat sekolah, berdiri sebuah bangunan tua yang seolah menatap waktu dengan sabar. Di tengah kompleks Perguruan Muhammadiyah Batu yang diapit TK Aisyiyah Bustanul Athfal, SD Muhammadiyah 4, dan SMP Muhammadiyah 8, gedung itu berada seperti penjaga yang tak pernah benar-benar pergi.

Warnanya mungkin tak lagi seterang dulu. Namun lekuk fasadnya masih tegas, simetris, dan anggun. Memberi isyarat bahwa bangunan itu pernah menjadi saksi masa kolonial yang panjang sebelum akhirnya menjelma menjadi Kantor Bersama Perguruan Muhammadiyah Batu.

Orang yang pertama kali melangkahkan kaki ke terasnya hampir selalu terpikat oleh kesan asing yang justru terasa akrab. Fasad depan dan belakang yang dibuat persis satu sama lain membuat siapa pun mudah membayangkan bagaimana para insinyur Belanda pada masa itu menekankan keteraturan.

Pintu kayu jati yang masih merapat rapi ke kusennya memancarkan aroma masa lalu yang samar. Sementara jendela-jendela kayu berjajar simetris seolah menegaskan desain bangunan ini dibuat bukan untuk sekadar berdiri, tetapi untuk bertahan.

Atap limasan dengan tonjolan prisma yang memanjang dari depan ke belakang tampak berbeda di antara bangunan baru yang tumbuh di sekitarnya. Ujung-ujungnya yang menua seakan masih menyimpan cerita. Sebagian dindingnya terbuat dari batu besar yang ditekan rapat, sementara lantai ubin bermotif khas zaman kolonial tetap terjaga kilapnya.

Garis bingkai hitam di tepian ubin menambah kesan elegan yang tenang. Seakan waktu enggan benar-benar menghapus jejak yang sudah terlanjur melekat. ”Dulunya, bangunan ini dihuni oleh keluarga Belanda sekitar tahun 1927,” tutur Zulkifli Hasan, mantan kepala sekolah pertama SMP Muhammadiyah Batu.

Kawasan tersebut dulunya merupakan area hunian yang luas, bukan hanya satu bangunan saja. Di kanan dan kiri gedung utama berdiri dua bangunan tambahan yang difungsikan sebagai kamar. Empat kamar di sisi kanan, dua kamar di kiri, ditambah empat kamar di bangunan utama, menjadikan total sepuluh kamar untuk satu keluarga besar yang tinggal di sana.

Setelah masa kolonial berakhir dan Belanda angkat kaki, bangunan itu sempat terbengkalai sebelum akhirnya dibeli oleh seorang pedagang Tionghoa asal Surabaya bernama Hardiyati pada tahun 1948. Namun kepemilikan itu tidak berlangsung lama.

Bangunan kembali ditinggalkan, hingga pada sekitar 1960-an TNI AD memanfaatkannya sebagai rumah dinas tentara. Zulkifli menduga saat itu rumah dinas utama tidak cukup menampung prajurit. Sehingga beberapa bangunan alternatif digunakan, termasuk rumah tua ini. Asrama itu kemudian ditinggalkan lagi sekitar awal 1980-an.

Barulah pada 1981 Yayasan Muhammadiyah Batu membeli bangunan tersebut dengan harga yang bagi ukuran hari ini terasa tak masuk akal, Rp22 juta. Pembayaran yang sempat tersendat membuat transaksi dilakukan dua kali hingga total menjadi Rp 44 juta.

Di tangan Yayasan Muhammadiyah, rumah tua itu akhirnya menemukan fungsi baru, menjadi pusat pendidikan. Zulkifli bercerita, saat itu Yayasan Muhammadiyah yang sebelumnya berlokasi di Jalan Panderman memerlukan lahan lebih luas untuk membuka jenjang SMP.

Rumah Belanda yang besar ini dianggap paling memungkinkan, meski ada bagian-bagian yang harus diubah. Dua bangunan kamar di kanan dan kiri dibongkar karena tidak memenuhi kebutuhan ruang kelas.

Lobi di bagian depan dan belakang ditambahkan sekitar 20 tahun lalu. Namun di luar itu, bangunan utama tetap dipertahankan nyaris tanpa perubahan. Desain interiornya membuat banyak orang terperangah. Setiap ruang berukuran sama, sekitar 4x12 meter persegi, dibuat sepresisi mungkin.

Pintu, jendela, hingga posisi kamar mandi semuanya teratur, seakan sang arsitek menyusun setiap detail dengan penggaris yang tak pernah meleset. Ketika masuk ke dalamnya, orang bisa merasakan keheningan yang tidak menyedihkan, melainkan menenangkan semacam kesunyian yang akrab dengan usia.

”Meskipun sudah tua, bangunan ini kami pastikan sangat kokoh,” ujar Edy Susanto, kepala SMP Muhammadiyah Batu yang menjabat setelah Zulkifli. Rangka atap masih asli, hanya plafon yang beberapa kali diganti karena cuaca yang tak bersahabat.

Kini bangunan itu sudah disulap menjadi kantor bersama. Di ruang-ruangnya berjejer rak arsip, etalase, komputer, dan tumpukan dokumen. Namun perubahan fungsi tidak menghapus nilai sejarahnya.

Edy bercerita, sesekali ada mantan pemilik atau anak dari pemilik sebelumnya yang datang hanya untuk mengenang masa-masa ketika mereka atau keluarganya pernah tinggal di sana. Di antara dinding tua itu tersimpan cerita tentang orang-orang yang hidup pada masa yang berbeda, dengan latar belakang yang berbeda.

Ada keinginan dari pihak yayasan untuk suatu saat memugar kembali bangunan itu agar mendekati bentuk aslinya. Selain menjaga cagar budaya, langkah itu juga dapat menjadi sarana edukasi bagi para siswa. Mereka bisa belajar sejarah tidak dari buku saja. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#batu #TNI #gedung #kolonial