DINGIN udara Kota Batu menyusup pelan di sela dinding tebal Vila Bima Shakti. Di balik jendela-jendela kayu berukuran besar, bangunan tua itu berdiri tenang di tengah Taman Rekreasi Selecta, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji.
Sekilas, ia tampak seperti vila kolonial biasa. Namun di dalamnya, tersimpan jejak panjang sejarah bangsa. Dari tempat inilah, sejumlah tokoh penting negeri ini pernah singgah, merenung, dan merumuskan gagasan.
Vila Bima Shakti dikenal sebagai salah satu penginapan legendaris di Kota Batu. Fasadnya menampilkan karakter arsitektur kolonial Eropa awal abad ke-20 dengan garis-garis tegas dan dinding putih yang kontras dengan hamparan hijau taman di sekitarnya.
Bangunan dua lantai seluas kurang lebih 400 meter persegi itu memiliki 10 kamar. Setiap sudutnya terasa seperti lorong waktu yang menghubungkan masa kini dengan era sebelum kemerdekaan.
Memasuki bagian dalam vila, suasana hangat langsung terasa dari dominasi furnitur kayu jati yang terawat rapi. Kursi, lemari, hingga tempat tidur mempertahankan bentuk aslinya. Aroma kayu tua bercampur udara pegunungan menciptakan kesan hening yang menenangkan.
Di ruangan-ruangan inilah, menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, para tokoh bangsa pernah beristirahat sekaligus berkontemplasi. Direktur PT Selecta Pramono menjelaskan bahwa pembangunan vila dilakukan secara bertahap sejak sekitar 1930-an.
Saat itu kawasan tersebut dikenal sebagai Bait Hotel Selecta, sebuah kompleks eksklusif yang diperuntukkan bagi warga Belanda kelas atas. ”Pada masa kolonial, hanya orang-orang Eropa yang bisa menginap di sini. Selecta memang dirancang sebagai tempat peristirahatan elit,” ujarnya.
Seiring perubahan zaman, vila itu mulai terbuka bagi pribumi. Dari sinilah nama Bung Karno dan Bung Hatta tercatat sebagai tamu istimewa. Keduanya datang pada waktu yang berbeda, tetapi sama-sama memanfaatkan ketenangan Batu sebagai ruang berpikir. Kamar nomor 47 kemudian dikenal sebagai kamar favorit Bung Karno.
”Alasan pastinya tidak pernah tercatat secara detail. Tapi kemungkinan besar karena udara Batu yang sejuk dan suasananya yang mendukung untuk beristirahat sekaligus bekerja,” kata Pramono.
Tak jauh dari pelataran vila, terdapat sebuah patok yang dikenal sebagai titik nol Selecta. Penanda itu disebut-sebut digagas langsung oleh Bung Karno. Keberadaannya mempertegas posisi Selecta bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki nilai historis dalam perjalanan bangsa.
Perjalanan Vila Bima Shakti sempat terhenti akibat gejolak perang. Pada 1948, saat Agresi Militer Belanda, kawasan Selecta ikut terdampak kebijakan bumi hangus. Bangunan vila dirusak agar tidak dimanfaatkan kembali oleh pasukan kolonial. Atapnya terbakar, menyisakan kerangka bangunan yang sempat terbengkalai selama sekitar dua tahun.
Kebangkitan Selecta dimulai pada awal 1950-an. Sebanyak 47 orang yang kemudian dikenal sebagai perintis pembangunan Selecta berinisiatif memulihkan kawasan tersebut. ”Mereka membangun kembali vila dengan sangat hati-hati supaya bentuk aslinya tetap terjaga,” jelas Pramono.
Hingga kini, meski telah mengalami penguatan struktur, wajah arsitektur Vila Bima Shakti tetap dipertahankan. Rangka bangunan diperkuat dengan tulang besi untuk keamanan, tetapi tata ruang dan perabot utama tidak banyak berubah. ”Layout-nya masih sama seperti dulu. Kami berusaha menjaga keaslian bangunan,” tambahnya.
Nilai sejarah vila itu semakin terasa dengan adanya pesan Bung Karno yang diabadikan di ruang kontemplasi. Tulisan tersebut berbunyi, “Kenang-kenangan pada Selecta tetap hidup dalam ingatan saja.
Bukan saja karena tamasya yang indah, tetapi juga karena di Selecta itu beberapa putusan penting mengenai perjuangan negara telah saya ambil.” Kutipan itu menjadi pengingat bahwa tempat ini pernah menjadi saksi lahirnya keputusan-keputusan penting.
Kini, Vila Bima Shakti tetap berdiri sebagai monumen hidup di tengah taman bunga Selecta. Ia bukan sekadar penginapan, melainkan ruang yang merawat ingatan kolektif tentang masa perjuangan. Manajemen Selecta masih membuka vila tersebut bagi umum.
Pengunjung yang ingin merasakan sensasi menginap di kamar bersejarah, termasuk kamar nomor 47, dapat menyewanya dengan tarif sekitar Rp 1,5 juta per malam.
Dengan tetap difungsikan sebagai penginapan, Vila Bima Shakti seakan menjaga denyut sejarah agar terus hidup. Di tengah dinginnya udara Batu, bangunan tua itu mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diramu di ruang-ruang sunyi, tempat para pendiri bangsa menata mimpi tentang masa depan negeri. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian