Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Efek Pertamax Naik Mulai Terlihat di Kota Batu, Konsumen Ramai-Ramai Beralih ke Petalite

Rori Dinanda Bestari • Selasa, 16 Juni 2026 | 15:33 WIB
Pengendara sepeda motor antre mengisi di SPBU Lahor, Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu, Selasa (16/6) siang. ( Rori Dinanda Bestari/Radar Malang)
Pengendara sepeda motor antre mengisi di SPBU Lahor, Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu, Selasa (16/6) siang. ( Rori Dinanda Bestari/Radar Malang)

BATU, RADAR MALANG – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax mulai mengubah pola konsumsi masyarakat Kota Batu. Sepekan setelah penyesuaian harga berlaku, antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite terlihat lebih panjang di sejumlah SPBU, menandakan banyak konsumen beralih ke BBM bersubsidi untuk menghemat pengeluaran.

Pantauan di SPBU Lahor, Jalan Panglima Sudirman, Kecamatan Batu, Selasa (16/6), menunjukkan antrean didominasi kendaraan roda dua. Fenomena tersebut muncul setelah harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Selisih harga dengan Pertalite yang kini mencapai Rp 6.250 per liter menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam menentukan pilihan bahan bakar.

Kenaikan Harga Pertamax Ubah Kebiasaan Konsumen

Sebagian pengguna Pertamax mengaku terpaksa beralih ke Pertalite agar pengeluaran transportasi tetap terkendali. Salah satunya Mohammad Soleh, warga Kelurahan Songgokerto.

Menurut dia, kenaikan harga Pertamax membuat biaya operasional kendaraan meningkat cukup signifikan. Karena itu, dirinya memutuskan mengganti jenis BBM yang biasa digunakan.

Baca Juga: Harga Pertamax dan Pertamax Green Naik, Pengendara Bisa Tekan Pengeluaran dengan 10 Langkah Sederhana Ini supaya BBM Tetap Irit

“Biasanya saya isi Pertamax dua liter dengan Rp 25 ribu dan cukup untuk kebutuhan tiga hari. Sekarang dengan nominal yang sama tidak sampai dapat dua liter. Makanya mulai minggu ini saya beralih ke Pertalite,” ujarnya.

Soleh mengaku kini mengalokasikan Rp 30 ribu untuk sekali pengisian Pertalite. Dengan nominal tersebut, dirinya mendapatkan volume BBM yang lebih banyak sehingga dinilai lebih efisien untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

“Secara hitungan memang ada tambahan biaya sekitar Rp 5 ribu, tetapi bensin yang saya dapat lebih banyak. Jadi lebih terasa manfaatnya,” katanya.

Kekhawatiran Performa Mesin Mulai Muncul

Meski memilih beralih ke Pertalite, sebagian konsumen mengaku masih menyimpan kekhawatiran terhadap performa kendaraan mereka.

Baca Juga: Harga Pertamax dan Pertamax Green Naik, Warga Kota Malang Mulai Ramai-Ramai Beralih ke Pertalite

Haris Setyawan, 29, mengaku keputusan menggunakan Pertalite bukan pilihan yang ideal. Namun kondisi ekonomi membuatnya harus menyesuaikan pengeluaran.

“Sebenarnya khawatir juga karena banyak yang bilang kalau pakai Pertalite mesin jadi lebih sering brebet. Tapi mau bagaimana lagi, harga Pertamax sekarang cukup berat,” ujarnya.

Menurut Haris, dirinya akan kembali menggunakan Pertamax apabila kondisi keuangan memungkinkan. Untuk sementara, penghematan menjadi prioritas utama dibandingkan pertimbangan lain.

Pergeseran Konsumsi Terlihat di SPBU

Meningkatnya antrean di jalur Pertalite menunjukkan adanya pergeseran konsumsi BBM di tingkat masyarakat. Pengendara yang sebelumnya memilih BBM non-subsidi kini mulai mempertimbangkan aspek ekonomi akibat selisih harga yang semakin lebar.

Jika tren ini terus berlanjut, permintaan Pertalite diperkirakan meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi langsung memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat di daerah, termasuk di Kota Batu.

Editor : Aditya Novrian
#harga Pertamax #Pertalite Kota Batu #SPBU Kota Batu #BBM non subsidi #konsumen beralih