BATU - Ledakan pengguna kendaraan listrik mulai terasa nyata di Kota Batu. Dalam enam bulan pertama tahun ini, transaksi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) melonjak 107 persen. Dari 270 transaksi pada Januari menjadi 560 transaksi pada Juni. Total transaksi semester I menembus 2.250 kali dengan energi tersalurkan 56.154 kWh.
Namun, di balik pertumbuhan itu, Kota Batu baru memiliki lima SPKLU. Seluruhnya terkonsentrasi di pusat-pusat wisata. Lonjakan transaksi itu menjadi kabar baik sekaligus alarm. Batu mulai dilirik sebagai kota persinggahan kendaraan listrik antardaerah. Namun, infrastruktur pengisian dayanya belum berkembang secepat pertumbuhan penggunanya.
Lima SPKLU yang dioperasikan PLN ULP Batu berada di kantor PLN, Masjid Jami’ Alun-Alun, Museum Angkut, Jatim Park 1, dan Santerra de Laponte. Tidak ada satu pun yang berada di kawasan permukiman padat, jalur penghubung antarkecamatan, atau kantong ekonomi warga.
Team Leader Pelayanan Pelanggan PLN ULP Batu Agung Rachmad Nuriyanto mengakui penempatan SPKLU mengikuti karakter kawasan. Kantor PLN dilengkapi fast charging DC CCS2 50 kW dan AC Type 2 7 kW. Sementara lokasi wisata menggunakan AC Type 2 22 kW.
“Pola transaksi memang paling tinggi saat akhir pekan dan musim liburan,” ujarnya.
Data pelat kendaraan memperkuat temuan itu. Selain pelat N, banyak pengguna datang dari Surabaya, Jakarta, Jawa Barat, Bali, hingga Jawa Tengah. Batu bukan lagi sekadar tujuan wisata, tetapi mulai berfungsi sebagai titik transit kendaraan listrik antardaerah.
Muhammad Hamzah, pengguna asal Jombang mengaku sudah tiga kali mengisi daya di Kota Batu saat bepergian ke Malang. “Tarif sekitar Rp 2.500 per kWh masih kompetitif dan fasilitas ruang tunggu cukup nyaman,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan