BATU, RADAR MALANG – Pemkot Batu melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) bersama Paguyuban Pasar Laron memberikan klarifikasi terkait dugaan praktik tidak higienis oleh salah satu penjual wedang ronde di kawasan Alun-Alun Kota Batu yang viral di media sosial. Berdasarkan hasil konfirmasi kepada pedagang, tuduhan tersebut dibantah dan hingga kini belum ditemukan bukti yang menguatkan narasi yang beredar.
Isu tersebut mencuat setelah unggahan seorang pengguna media sosial menyebut adanya dugaan sisa kuah pembeli dicampurkan kembali ke dalam wadah penyajian. Unggahan itu kemudian viral dan memicu beragam reaksi masyarakat hingga berdampak pada aktivitas pedagang di kawasan Alun-Alun Kota Batu.
Diskumperindag: Pedagang Membantah Dugaan yang Viral
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskumperindag Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan mengatakan, pihaknya telah meminta klarifikasi langsung kepada pemilik lapak wedang ronde yang menjadi sorotan.
Hasilnya, pedagang membantah narasi yang menyebut sisa kuah pembeli dicampurkan kembali ke dalam wadah untuk dijual kepada pelanggan lain.
"Dari pernyataan penjualnya itu tidak benar. Di unggahan yang viral disebut menggunakan panci, sedangkan pedagang menggunakan ceret. Berdasarkan keterangan pedagang, kalau ada sisa kuah langsung dibuang," ujar Dian.
Ia menjelaskan, berbeda dengan kasus kuliner lain yang sempat viral dan disertai rekaman video, dugaan kali ini hanya berlandaskan narasi yang beredar di media sosial. Karena itu, kebenarannya masih perlu didalami.
Meski demikian, Diskumperindag memastikan pembinaan dan pengawasan terhadap pedagang makanan di kawasan Alun-Alun Kota Batu terus dilakukan secara berkala.
"Kami terus melakukan pembinaan dan pengawasan agar kuliner di kawasan Alun-Alun Kota Batu tetap aman dan masyarakat maupun wisatawan tidak perlu khawatir," tegasnya.
Paguyuban Pasar Laron Lakukan Penelusuran Internal
Senada dengan Diskumperindag, Ketua Paguyuban Pasar Laron Sahid mengatakan pihaknya juga telah memanggil pedagang yang bersangkutan untuk meminta penjelasan secara langsung.
Menurutnya, berdasarkan keterangan pedagang, sisa kuah maupun makanan dari pembeli memang dikumpulkan terlebih dahulu dalam satu wadah sebelum dibuang ke tempat sampah, bukan dicampurkan kembali ke kuah yang dijual.
"Menurut keterangan pedagang, sisa makanan atau kuah dari pembeli itu dikumpulkan dulu di wadah sebelum akhirnya dibuang ke tempat sampah, bukan dicampur lagi," katanya.
Sahid juga menyebut hasil penelusuran paguyuban mengindikasikan foto gerobak yang beredar di media sosial diduga merupakan dokumentasi lama dan bukan kondisi terkini.
Omzet Pedagang di Alun-Alun Kota Batu Ikut Terdampak
Di sisi lain, Sahid mengakui isu yang telanjur viral memberikan dampak terhadap aktivitas perdagangan di kawasan Alun-Alun Kota Batu.
Menurutnya, penurunan kepercayaan masyarakat membuat jumlah pengunjung berkurang sehingga turut memengaruhi omzet pedagang lain yang tidak berkaitan dengan dugaan tersebut.
"Bukan cuma di Pasar Laron saja, pedagang di seluruh area Alun-Alun ikut merasakan imbasnya karena kondisi pasar jadi makin sepi sejak isu ini muncul," ungkapnya.
Ia berharap masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum ada hasil pemeriksaan yang utuh dari pihak berwenang. Paguyuban juga berkomitmen terus mengingatkan seluruh anggotanya untuk menjaga standar kebersihan, keamanan pangan, dan kualitas pelayanan demi mempertahankan kepercayaan wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu.
Editor : Aditya Novrian