Sehingga, rencana launching Kampung Heritage Kayutangan yang akan di Launching Pada 22 April 2018 mendatang juga bakal dibanjiri komunitas yang tergabung di gerakan Save Malang Heritage.
Saat ini, warga Kayutangan sedang mempersiapkan launching kampung heritage tersebut. Beberapa rumah warga yang tergolong kategori heritage ada yang sudah dalam pengecatan agar terlihat rapi, dan di depannya terdapat tanaman - tanaman hiasan.
Edi Hermanto, Ketua RW IX mengatakan, terkait kampung heritage kayutangan ini sudah digagas sejak lama. Namun, pengerjaanya masih butuh proses untuk direalisasikan. "Sebenarnya semua konsep sudah matang, hanya saja masih belum terealisasikan. Karena untuk menggarap itu semua persiapannya juga banyak," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan di awal pembentukan akan menjadikan Kampung Heritage Kayutangan ini cukup menemui kesulitan mengajak warga di wilayah tersebut. Namun ketika ini sudah berjalan perlahan, mereka juga perlahan antusias.
Terkait dengan launching beberapa minggu mendatang, selain mempersiapkan bangunan heritage tanggal 22 April nanti akan mengadakan juga lomba memancing untuk menyemarakkan acara. "Nanti saya juga akan menggelar lomba memancing, di Sungai Wilayah Kayutangan agar warga, anak - anak turut serta bersuka ria," ujarnya Ketua RW IX tersebut.
Harapannya dengan adanya Kampung Heritage Kayu Tangan ini bisa meningkatkan perekonomian warga masyarakat. "Semoga bisa mengubah warga. Untuk meningkatkan perekonomian warga Kayu Tangan sendiri," ungkapnya.
Dari pantauan Radar Malang, bangunan - bangunan Heritage yang menghiasi Kampung Kayutangan di Malang tetap kokoh dengan gaya arsitek zaman kolonial. Bahkan ada yang dibangun tahun 1800 dan masih kokoh.
Selain itu, salah satu bangunan yang ditonjolkan di wilayah ini adalah "Makam Eyang Hanggo Kusumo".
Mila Kurniawati, sekertaris RW IX menjelaskan bangunan yang juga disebut makam Mbah Hanggo tersebut akan dijadikan sebagai kampung tematik religi. "Nantinya jika sudah berjalan makam ini bisa dijadikan wisata religi," ujarnya.
Diketahui bahwasannya makam ini disebut sebagai Makam Mbah Hanggo karena guru ngaji anak Bupati Malang yang pertama meninggal pada tahun 1833. Lokasinya pun dulu berupa kompleks besar para sesepuh keturunan Adipati Malang, sekaligus merupakan kompleks makam belakang masjid jami.
Selain itu, masih banyak bangunan rumah heritage di wilayah ini. Khas bangunan itu terlihat dari pintu, jendela, yang menunjukkan aura nostalgia di zaman kolonial.
Tidak hanya itu, untuk ke depannya yang akan lebih ditonjolkan dari kampung tersebut tidak hanya bangunan heritage, melainkan akan ada kuliner tradisional, workshop, photo booth, dan juga kedepannya akan dibuat homestay di area wilayah Kayutangan.
Pewarta: Arifina
Fotografer: Arifina Editor : Radar Malang Administrator