Dimana dalam beberapa bulan terakhir ini harus mendampingi si buah hati dalam mengikuti pembelajaran daring. Termasuk saat si buah hati mendapatkan tugas praktik mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) dari gurunya melalui pembelajaran daring.
“Ya nggak apa-apa. Ini bisa dimanfaatkan orang tua untuk mengenal putra-putrinya,” kata pria dua anak ini di sela-sela mendampingi putrinya saat praktik mata pelajaran PJOK, Rabu (2/9).
Riki mengakui memang sedikit kewalahan awalnya. Karena background-nya bukan guru, tapi dipaksa untuk menjadi ‘guru’ bagi anaknya di masa pembelajaran daring ini. “Agak kaget saja. Awalnya masih agak bingung mengoperasikan aplikasi, kami bukan pendidik (guru),” terangnya.
Hanya saja, masih kata dia, daring baginya pilihan terbaik untuk solusi pendidikan di masa pandemi. Apalagi, angka positif Covid-19 di Kota Malang terus mengalami kenaikan tiap harinya.
“Kalau dipaksa masuk, tiba-tiba ada yang kena, nanti gimana. Menurut saya, daring pilihan terbaik saat ini,” ungkap pria yang bekerja sebagai ojek online ini.
Sementara itu, Krisvalzia Kyo Sae, anak Riki Putra, mengaku lebih senang belajar di sekolah. Karena jika di sekolah bisa bertemu dengan teman-temannya. “Senang di sekolah. Bisa ketemu teman-teman,” terang gadis kelas I sekolah dasar ini.
Pewarta: Imam Nasrodin Editor : Editor : Hendarmono Al S.