”Ayo-ayo,” ucap penuh semangat ketua Mimo Cycling, Stevani Krisma menyemangati teman-temannnya. Hari itu, anggota komunitas pesepeda perempuan yang sudah berdiri sejak tahun 2018 lalu itu memang tengah menuju Batu bertolak dari Malang. Jadi memang ada beberapa track tanjakan yang tidak hanya butuh effort, juga motivasi untuk bisa menaklukkannya. Jalan raya Malang ke Batu memang menjadi kegemaran Mimo Cycling ketika gowes.
Ada beragam alasan kenapa rute Malang-Batu menjadi favorit komunitas yang juga menjadi bagian Ratjoen Cycling Malang. Dikatakan Vani-panggilan karib Stevani Krisma-meski menanjak, track tersebut diakuinya mempunyai udara yang sejuk. ”Ya, salah satunya karena Batu itu dingin dan saat gowes kesana juga dapat elevansinya,” jelas perempuan 29 tahun itu kepada Jawa Pos Radar Malang. Selain itu, di Kota Batu view juga masih banyak yang asri. Mulai dari hutan, gunung, sampai dengan pertanian sayur mayur.
Penggabungan banyak kelebihan itu semua membuat bersepeda ke Batu tidak hanya mendapatkan sehat, namun juga bisa me-refresh pikiran dari rutinitas setiap hari. ”Apalagi saat riding, Mimo itu suka gowes yang benar-benar fun. Sampai kami punya slogan yakni itu Mancal, Makan, dan Ngakak,” terang Vani sembari tertawa. Karena hal itulah, Mimo Cycling acap kali tidak memburu waktu saat gowes bersama. Mereka mengutamakan olahraga yang benar-bener menyenangkan namun tetap sehat.
Dalam sekali riding, Mimo Cycling rata-rata menempuh jarak sejauh lebih kurang 40 sampai 45 km. Rute terjauh yang pernah mereka tempuh adalah gowes ke Wonokriti Pasuruan-Bromo. Menurut Vani, bisa menaklukan rute tanjakan dan menempuh jarak berkilo-kilo tidaklah dicapai secara instan. Ada beragam persiapan yang harus dilakukan. Salah satunya dengan membiaskan gowes. Apabila jika ingin menempuh jarak 20 Km maka terlebih dulu gowes di jarak 15 dulu, baru ditingkatkan lagi jarak tempuhnya.
Saat ini Mimo mempunyai sekitar 24-25 anggota aktif. Di mana para anggotanya terdiri dari beragam kalangan, mulai dari runner, manager, pengusaha, ibu rumah tangga sampai dengan fashion desainer. ”Kenapa memilihnya sepeda?. Karena bersepeda itu lebih enjoy,” paparnya. Sebelum terbentuk, para anggota Mimo acap kali gowes dengan Ratjoen Cycling Malang dan tergabung di Wowen Cycling Community Malang.
Lebih lanjut, apabila ingin bergabung dengan Mimo Cycling, Vani mengaku kalau tidak ada persyaratan khusus. Asalkan suka gowes dan orangnya fun atau asyik bisa bergabung saja. ”Dan tidak hanya roadbike saja. Jenis sepeda apapun boleh bergabung,” terang perempuan asal Magelang itu. Mimo mempunyai jadwal gowes seminggu satu kali, yakni pada hari Sabtu pagi pukul 05.30 WIB.
Dalam perjalanannya, Mimo Cycling tidak hanya bersepeda saja. Beberapa kali mereka juga melakukan aktivitas di luar gowes. Seperti salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan amal. ”Selama satu tahun dua kali. Biasanya kami juga mengalang donasi untuk diserahkan ke panti-panti asuhan,” jelas Vani.
Targetnya Bisa Bersepeda Malang-Bali
SEMAKIN sering kamu bersepeda, maka keinginan gowes kamu akan semakin jauh pula. Kalimat tersebut menjadi sebuah pepatah yang benar-benar bisa menjadi kenyataan. Salah satu contohnya adalah apa yang dialami komunitas sepeda Mimo Cycling. Mereka menargetkan bisa bersepeda lebih jauh dari biasanya.
Sebelumnya, Mimo acap kali riding dengan jarak tempuh sekitar 40-45 Km setiap Minggunya. "Kedepan kami ingin mencoba bersepeda ke Malang-Bali," ujar Ketua Mimo Cycling, Stevani Krisma. Meski sangat jauh karena menempuh jarak sekitar 400 km, namun bagi dara 29 tahun itu bersepeda Malang-Bali bukan sesuatu yang mustahil.
"Apalagi track Malang ke Bali juga lebih flat (banyak datarnya)," ungkapnya. Dijelaskannya, bersepeda dengan jarak jauh tersebut umumnya ditempuh dalam kurun waktu sekitar 2 hari. Kalau sudah bersepeda dengan jarak seperti itu, menurut Vani persiapan bisa dibilang harus maksimal. Baik itu terkait fisik, atau keselamatan di jalan.
Maklum, karena belum ada jalur sepeda khusus mereka yang biasanya gowes di jalan harus berhati-hati. Sebab, resiko kecelakaan mengintai. Apalagi banyak pengendaraan yang biasanya karena alasan satu atau beberapa hal harus terpaksa berkendara dengan kecepatan cukup tinggi. "Biasanya kalau Mimo itu berusaha bersepeda berurutan," paparnya.
Lalu, untuk lebih aman, juga menempatkan satu swiper di belakang. Mereka bertugas menolong peserta jika ada kendala saat di jalan. Selain itu, swiper juga bertugas menemani jika ada anggota Mimo yang ketinggalan. Untuk posisi itu, menurutnya biasanya diisi oleh para pesepeda laki-laki. "Biasanya kami dikawal oleh salah satu anggota Ratjoen Cycling Club," ungkapnya.
Lebih lanjut, menurut perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai fashion designer itu mengaku, selain berisiko kecelakaan. Bersepeda di jalan juga rawan akan pelecehan seksual. Khususnya untuk para pesepeda perempuan.
Dikisahkan Vani, dahulu ada anggota yang pernah mengalami hal tersebut saat sedang gowes. Dimana, saat sedang gowes tiba-tiba ada laki-laki yang dengan sengaja memegang bagian tubuhnya. "Makanya sekarang para anggota tidak ada yang riding sendiri," ungkapnya. Minimal, lanjutnya dia, bersepeda dua atau tiga orang. Dan, kalau perlu ada pengawalan dari satu dua orang pesepeda laki-laki.
Anggota Mimo Juga Catatkan Prestasi
KOMUNITAS Mimo Cycling tidak hanya kuat bersepeda berkilo-kilo meter jauhnya. Lebih dari itu, anggota mereka juga telah bisa mecatatkan sejumlah prestasi di sejumlah event. Seperti salah satunya pada tahun 2019 lalu, sukses menjadi juara ketiga di ajang Tour de Ambarrukmo (TDA) Yogyakarta. Ketika itu, anggota Mimo mampu mengalahkan beberapa peserta dari sejumlah daerah di Indonesia.
Namun dari banyak event yang pernah diikuti anggota Mimo, menurut Ketua Komunitas Stevani Krisma yang paling berkesan adalah saat kejuaraan di Bali. Kenapa begitu? Menurutnya alasannya adalah karena untuk menjadi juara di sana butuh effort yang besar. "Sampai-sampai untuk persiapannya, kami berlatih 5 kali dalam satu minggu," jelasnya. Baik itu menempa endurance sampai power.
Dikisahkan Vani saat jalani event balap sepeda bertajuk Twelve Squared Get Out Of Your Squared 144 Challenge Bali 2019 itu. Para anggota Mimo harus gowes dengan menempuh jarak yang bisa dikatakan panjang yakni 144 km. Selain itu, track yang dihadapi juga beragam. Mulai dari yang flat (datar), jalanan berkelok, sampai dengan tanjakan."Ajang ini yang paling berat sih. Sebab saat balapan kita harus naik daerah Kintamani dan Gunung Batur. Elevansinya sekitar 2.400 mdpl," papar alumnus SMA Kristen Kolase Santo Yusup itu. Meski begitu, mengikuti sebuah even balap sepeda dinilai sangat menyenangkan. Sebab, bisa menjadi wadah untuk men-challenge diri sendiri. Apabila berhasil menyelesaikan tantangan kepercayaan diri akan meningkat.
Namun, untuk tahun ini anggota Mimo terpaksa tidak bisa mengikuti sejumlah kejuaraan. Akibat pandemi, menurut Vani ada banyak even sepeda terpaksa di-cancel atau diundur waktunya. Untuk mengobati rasa rindu bersepeda jauh dengan elevansi tinggi, Vani mengungkapkan kalau Mimo setiap satu bulan sekali lakukan long riding. "Biasnya gowes ke Wonokitri Pasuruan - Bromo," ujar dia.
Selama adanya pandemi Mimo, mengaku kalau bersepeda sesui protokol Covid-19. Selain, memakai masker, juga harus rajin-rajin untuk mencuci tangan dengan sabun. "Selain itu juga selalu berusaha menjaga jarak dan kesehatan," ungkap Vani. Apabila kondisi kurang fit, biasanya anggota diajurkan untuk tidak ikut gowes dulu. Dia sadar, virus ini tidak boleh untuk diremehkan, namun juga tidak perlu ditakuti.
Pewarta: Galih R Prasetyo Editor : Editor : Hendarmono Al S.