***
Selama menjadi ASN di disdikbud cerita apa yang paling tidak bisa terlupakan?
Saya punya pengalaman menarik dengan Bapak Marsudi, kepala disdik era tahun 1980-an. Dia bukan hanya sekadar atasan bagi saya, namun dia sudah seperti ayah saya sendiri. Ceritanya, dulu saya sempat dicurangi oleh salah seorang rekan saya waktu mau kenaikan jabatan. Namun, karena pertolongan dari Allah, itu ketahuan dan saya dibela mati-matian oleh Pak Kadin waktu itu. Hingga saat ini saya tidak bisa lupa jasa beliau, bahkan beberapa waktu lalu saya kunjungan ke Surabaya kemudian ada foto almarhum terpajang, saya sempat menitikkan air mata.
Selama 37 tahun jadi ASN, dinas mana saja yang sudah pernah ditempati?
Saya pertama kali dinas itu bukan di Malang, melainkan di Kalimantan Barat. Hanya 1,5 tahun, kemudian langsung dimutasi ke Malang, langsung ke disdik. Sudah tidak pernah pindah. Sudah semua bidang pernah saya tempati di sini, sampai pada 2013 dipindah ke dinas sosial, tapi tidak lama kemudian awal 2014 dikembalikan lagi ke disdikbud menjadi kepala dinas sampai sekarang.
Selama jadi kepala dinas momen apa yang tak bisa dilupakan?
Ya waktu ada kasus pem-bully-an waktu itu. Itu benar-benar momen yang tidak bisa saya lupakan karena dari kejadian itu tak hanya berdampak kepada saya sebagai kepala dinas, namun juga pada keluarga saya. Itu juga yang membuat saya akhirnya menarik diri dan sempat enggan kepada rekan wartawan, ada trauma tersendiri. Tapi, saya dengan terbuka mengatakan saat itu memang seperti itu adanya, benar saya menyampaikan kata-kata yang dipublikasikan saat itu. Karena waktu itu saya baru mendengar dari 1 sisi, yakni yang katanya pem-bully itu. Tapi saya terasa bahwa pem-bully-an itu memang tidak ada, insting saya sebagai pendidik kuat saat itu. Pasti ada sesuatu di balik itu semua. Ternyata benar yang terjadi, tapi ya sudah yang terjadi biar terjadi. Saya ambil hikmah dari kejadian waktu itu untuk lebih berhati-hati dan mendengar kedua belah pihak. Dalam pikiran saya waktu itu pokoknya bagaimana caranya saya menjadi yang terdepan untuk pasang badan melindungi pendidik di Kota Malang.
Menarik ke belakang, Anda pernah sempat dipanggil KPK 2016 lalu. Bagaimana perasaan Anda saat itu?
Waduh, ya shock. Meskipun cuma jadi saksi, rasanya tidak keruan. Saya pribadi berkomitmen untuk tidak mengambil apa yang bukan hak saya. Itu juga jadi momen yang sampai sekarang saya ingat. Bahkan, baju yang saya pakai waktu itu sampai sekarang tidak pernah saya pakai lagi. Padahal itu jadi salah satu baju kesayangan saya. Kalau lihat baju itu, kadang ya ingin memakainya, tapi trauma saya.
Disdikbud Kota Malang selalu jadi pilot project kota lain dalam kebijakan pendidikan, ide-idenya itu dari mana ?
Saya juga tidak tahu, tiba-tiba saja ide itu datang. Mungkin karena basic-nya adalah guru bimbingan konseling, jadi saya lebih memahami dan punya kepekaan yang tinggi. Jadi melihat kondisi yang ada di Kota Malang itu seperti apa, apa ya yang kurang, kira-kira enaknya dibikin gimana ya. Setelah itu, tiba-tiba ide muncul, saya tulis, saya floor-kan ke teman-teman, jadi program, jalankan. Alhamdulillahnya sering jadi pilot project untuk daerah lain.
Setelah purnatugas, kegiatan apa yang akan Anda lakukan ?
Pokoknya saya mau istirahat dulu, menikmati waktu. Yang pertama, saya mau sowan ke rumah kawan-kawan lama. Selama ini kan mereka yang datang ke Malang berkunjung ke rumah saya, sekarang waktunya gantian. Intinya itu dulu yang saya mau lakukan sambil momong cucu.
Pesan untuk para pendidik di Kota Malang serta civitas yang ada di disdikbud?
Untuk para pendidik, pokoknya selalu diingat, melakukan segala sesuatu itu dengan ikhlas, kerja cerdas, berintegritas, dan tuntas. Itu kalau diikuti akan berkesinambungan dan insya Allah bisa lancar dalam mendidik siswa. Kalau buat civitas di disdikbud, apa yang bagus saat saya masih di sini ya tetap dipertahankan, yang belum sempurna ya diperbaiki lagi. Itu saya sih.
Pewarta: Chosa Setya Ayu Widodo Editor : Editor : Hendarmono Al S.