Banyak cerita yang bisa dikisahkan dari balik ruang penjara. Ya’qud Ananda Gudban, mantan anggota DPRD Kota Malang yang kini menjalani masa penahanan akibat perkara korupsi, berbagi cerita khusus kepada pembaca Jawa Pos Radar Malang melalui catatan minggunya.
—
22 Desember 2020. Gegap gempita perayaan Hari Ibu terasa juga di dalam rumah tahanan (rutan). Kami yang berada di balik tembok tinggi dan jeruji besi ini turut merayakan momen spesial jelang penghujung tahun waktu itu. Tapi jangan bayangkan gegap gempita di sini sama seperti kondisi normal. Bisa jadi, apa yang biasa-biasa saja di luar sana, menjadi sangat berharga di sini.
Pagi itu, kami mengawali perayaan Hari Ibu dengan lomba vocal grup dengan lagu wajib berjudul Bunda milik Melly Goeslaw. Walaupun suara kami tidak semerdu penyanyi aslinya, namun suasananya begitu syahdu.
Saya betul-betul berada dalam suatu alam yang tak pernah terbayang sebelumnya. Teman-teman berlatih dengan penuh semangat. Padahal tidak ada yang tahu apa hadiah bagi pemenangnya nanti. Asal ada kegiatan yang menghibur, semuanya menjadi menarik bagi kami. Dan saya pun sangat menikmati semua proses tersebut.
Setiap malam, kami serius berlatih. Saling sahut-sahutan dari kamar masing-masing. Sungguh menyenangkan. Dan holaaa….. kamar saya menang. Kami berlima senang sekali apalagi ketika mendapat hadiah satu dus berisi permen, mie instan, sabun mandi, dan sabun cuci. Seru sekali. Kalau bahasa anak sekarang, keseruan yang hakiki.
Para petugas Lapas memang berusaha menghadirkan acara yang membangkitkan rasa cinta kepada ibu, membangkitkan rasa bagaimana seharusnya seorang ibu.
Kegiatan yang sekiranya sedikit memberi penghiburan pada kami. Awalnya, acara ini adalah refleksi bagaimana cara membalas segala jasa dan kebaikan ibu kepada kita (kami). Namun ternyata jasa ibu tak terukur dan kami tak mampu membalasnya, bahkan sampai detik inipun masih membuat mereka menangis karena keberadaan kami di balik jeruji.
Mendadak perhatian saya teralihkan pada Liz, salah satu penghuni blok perempuan. Dia duduk di salah satu sudut ruangan Lapas. Tidak gembira, tidak pula bersedih. Ekspresinya datar dan kosong. Bagi saya, Liz bukanlah orang baru. Dua tahun saya mengenal wanita muda itu. Tepatnya sejak di Rutan Medaeng sampai di Lapas Porong, Sidoarjo, sekarang. Saya kembali mengenang awal mula ketertarikan saya dengan dia. “Anaknya delapan kak,” begitu kata teman-teman.
Informasi itulah yang membuat saya ‘jatuh hati’ kepadanya. Tentu saja sebuah ketertarikan untuk mengetahui perjalanan panjang hidupnya. Ini karena di balik jeruji, kata tertarik pada seseorang bisa disalahartikan ‘belok’, sehingga harus benar-benar dimaknai dengan lurus.
Usia Liz sekitar 33 tahun. Tinggi badannya sekitar 160 sentimeter dengan berat badan cukup ideal. Rambutnya bak mayang terurai, hidung mancung dan mata belok. Perawakannya mirip orang India atau Pakistan. Kalau dimasukkan dalam jajaran artis papan atas Indonesia, Liz pantas masuk dalam klan Azhari.
Sebagai orang yang 'dituakan' di rutan, saya dengan mudah membangun komunikasi dan berbincang-bincang dengan para napi, Mereka pun dengan senang hati bercerita tentang apapun informasi yang saya ingin tahu. Rata-rata soal perjalanan hidup hingga sampai mendekam di balik jeruji.
“Liz, kamu orang Jawa?” tanya saya kepadanya.
“Bukan bun (Bunda),” jawabnya singkat. Di rutan, hampir semua penghuni memanggilku Bunda, namun ada beberapa yang memanggil kakak.
“Aku dari Padang,” sambung Liz.
Wahhh…aku suka Padang, aku suka nasinya, juga lagu-lagunya,” responsku sambil melihat Liz yang tersenyum.
“Asliku dari Bonjol, tempatnya Tuanku Imam Bonjol,” jelasnya lagi.
“Wahhh…menarik. Kok bisa sampai sini kamu Liz?”
“Panjang carito bun…,”
Dan carito (cerita) panjang itu pun dimulai.
Liz adalah produk dari keluarga broken home. Ayah ibunya bercerai. Lalu keduanya menikah kembali dengan pilihan masing-masing. Yang tentu saja, keduanya juga membawa anak dari keluarganya terdahulu. Jumlahnya cukup banyak, delapan orang (sama dengan anaknya Liz saat ini). Kehidupan Liz begitu komplek. Ekonomi keluarga pas-pasan, orang tua yang memperebutkan dirinya, hingga akan dinikahkan dengan seseorang yang jauh lebih tua dari dia.
Seketika ingatan saya pun melayang pada Datuk Maringgih, tokoh antagonis dalam roman Siti Nurbaya besutan sastrawan besar Marah Roesli, yang juga kelahiran Padang, Sumatera Barat.
Namun, pernikahan itu tidaklah terjadi. Di usia yang masih belia dia pun mulai bekerja. ya bekerja keras! Setiap pagi, dalam perjalanannya ke sekolah, Liz yang masih duduk di kelas 5 SD berjualan telur bebek. Hasilnya, dibagi berempat bersama tiga adiknya saat di sekolah nanti. Sepulang sekolah, Liz membantu ‘etek’ berjualan bakso, dialah yang membuat pentol-pentolnya.
Begitu hari Sabtu tiba, dia mendapat tugas belanja daging bahan pentol ke Pasar Bukit Tinggi yang jarak tempuh dari rumahnya tiga jam (naik turun angkutan umum sendiri), dan itu di luar tugas rutin mengurusi adik-adiknya yang masih kecil. Seperti memandikan, menyuapi, hingga menyiapkan segala kebutuhan yang sifatnya membantu pekerjaan rumah ibu, karena ibunya berjualan dipasar (Liz tinggal dengan ibunya setelah orangtuanya bercerai).
Bertahun-tahun Liz menjalani kehidupan seperti itu, sebuah rutinitas yang berat untuk anak seumurannya. (Ada bagian sangat menyedihkan yang saya tidak tega untuk memaparkan di sini).
Waktu terus berlalu, hingga sampailah Liz di Kota Surabaya, meninggalkan bangku SMP-nya mengikuti saudaranya. Dua tahun membantu kakak sepupunya sebagai asisten rumah tangga, dia dijodohkan dengan salah satu pemuda Surabaya, pernikahan pun berlangsung di usianya yang masih tergolong muda, 19 tahun. Kemudian, Liz melahirkan anak pertamanya, kembar. Sayang, umur mereka tak panjang, karena hanya beberapa saat saja melihat dunia.
Pedih itu tergantikan dengan kelahiran anak kedua yang tumbuh dengan sehat. Selang setahun kemudian, anak ketiga pun lahir, juga dalam keadaan sehat. Anak keempatnya, meninggal. Anak kelimanya yang lahir kembar juga sehat yang semuanya diasuh bersama suaminya.
Saat mengandung anak pertama, Liz didera penyakit yang menurutnya janggal. Sehingga dia dan suaminya memutuskan balik ke kampuang nun jao di mato, Bonjol.
Semua pekerjaan dan kehidupan di Surabaya pun ditinggalkan. Mereka memulai kehidupan di Bonjol dari nol dengan menempati rumah keluarga yang kosong. Beberapa anaknya lahir di sana. Ajaibnya, penyakit aneh tadi sembuh dengan sendirinya.
Dia pun kembali jadi pekerja keras. Pagi jualan ikan di pasar, sore hari pulang, dan bersih-bersih diri. Tidak lantas Liz bisa istirahat dengan tenang, setelah itu dia harus mengambil baju-baju bekas milik salah satu pengusaha di kampungnya untuk dijual berkeliling. Menyusuri satu kampung ke kampung yang lain. Aktivitasnya dimulai sekitar pukul 16.00 itu berakhir 20.00 atau jam delapan malam. Begitu sampai di rumah lagi, dia masih merangkai bunga-bunga plastik untuk disetorkan kepada pengepul.
“Empat tahun saya menjalani kesibukan itu di Bonjol,” ucapnya.
Hingga akhirnya, Liz dan suami memutuskan kembali ke Surabaya karena sang suami tidak mendapat kerja yang layak. Selain itu, mertuanya sudah tua dan sakit-sakitan. Di Kota Pahlawan, bukannya kehidupan semakin lunak, tapi bertambah keras.
Untuk menghidupi diri dan lima anaknya, Liz bahkan pernah menjadi security di sebuah pabrik sepatu. Saya sempat berpikir, menjadi satpam tentu bukan sebuah pilihan bagi perempuan dengan paras dan perawakan seperti Liz. Hampir lima tahun menjadi satpam, dia memilih mengundurkan diri karena mendapat perlakuan tidak senonoh dari orang di lingkup pabrik tersebut.
Dalam kekalutannya, dia berkenalan dengan seseorang yang menawarkannya untuk memakai narkoba. Memakai, terlena, tidak mampu membeli, maka menjadi kurir adalah satu-satunya opsi yang bisa dia lakukan. Suami, anak, bahkan orang tua tidak bisa menahan hasratnya untuk berada dalam dunia yang menurutnya mudah mendatangkan uang walau hidup tidak tenang.
“Yang penting anak-anak saya bisa sekolah dan tidak merasakan kerasnya hidup seperti yang saya rasakan. Mereka harus jadi dokter, insinyur atau apa pun yang bisa bermanfaat bagi orang lain di kehidupan sesungguhnya,” kata Liz memberi penjelasan.
Sungguh suatu niat baik dengan cara yang sangat salah.
Liz semakin masuk ke dalam dunia kelam itu dengan segala lika-likunya. Suami yang tersapu gelombang perampingan dari tempat kerjanya, tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengasuh anak-anaknya.
Perjalanan Liz dalam bisnis terlarang tidaklah panjang dalam ukuran waktu, namun untuk ukuran kesalahan nampaknya tidak berbanding lurus dengan jumlah hari-hari kerjanya. Liz ditangkap dengan barang bukti 1gram sabu dan membuatnya dituntut 10 tahun penjara dengan subsider Rp 100 miliar atau penjara 1 tahun. Vonis hakim menjatuhkan hukuman 7 tahun penjara. Upaya banding hingga kasasi pun dilakukannya, hingga MA memutuskan vonis 4 tahun 3 bulan bagi Liz.
Selama masa itu, saya melihatnya sebagai sosok yang betul-betul berusaha menjadi lebih baik. Salat lima waktu tak pernah terlewat, begitu pula dengan mengaji. Dia juga rajin membantu teman-teman sesama penghuni. Dia pernah mencangkul lahan kosong untuk menanam sayur, mencabuti rumput liar bahkan membersihkan sampah-sampah yang menumpuk di tempat pembuangan untuk dinaikkan ke truk sampah. Sampah yang tertumpuk satu minggu penuh. Sama sekali tidak terlihat jijik di wajahnya.
“Apa pun aku lakukan Bun untuk menebus kesalahanku,” ujarnya.
Dia pernah menawarkan diri menjadi tahanan pendamping (tamping) dapur, di mana pukul 04.30 pagi sudah harus berada di dapur hingga pukul 16.00 untuk menyiapkan makanan bagi semua tahanan, tiga kali sehari. Namun karena sudah terisi sehingga belum bisa. Tiap hari dia selalu berusaha hadir dahulu di masjid kemudian menempati shaf pertama. Berbulan-bulan itu saya amati karena saya menjadi imam setiap waktu salat tiba.
Suatu pagi, begitu bukaan blok (pintu kamar dibuka sekitar pukul 06.30) Liz tampak diantar beberapa teman. Langkah kaki tergesa, mereka langsung masuk ke kamar saya. Liz menangis sesenggukan. Ketika saya tanya ada apa, dia tak mampu berkata, tetap saja menangis. Dan saya memakluminya.
Sambil menunggu tangisnya reda, kami hanya bisa duduk berimpitan di kamar yang tak begitu luas itu. Hal seperti ini bukan sekali dua kali terjadi. Karena telah menjadi kebiasaan teman-teman di sini untuk berbagi cerita dengan saya dan sama-sama mencari solusinya. Jika pun tidak ketemu jalan keluar, minimal menjadi pendengar yang baik dan saling menenangkan.
“Anakku jatuh Bun…pas bermain dengan kembarannya. Kabarnya gegar otak, sekarang koma,” kata Liz masih dengan sesenggukan.
Mendengar itu, saya pun berusaha menenangkannya. Tentu saja, saya menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mencoba menyampaikan sesuatu. Karena bagi kami para ibu di sini, tak apa kami terpasung asal anak dan keluarga di rumah selalu sehat, itu yang utama.
“Tenang Liz, jangan panik. Sekarang apa tindakan dokter?” tanya saya.
“Harus operasi Bun…, tempurung kepalanya harus dibuka,” jawab Liz sambil meraung-raung.
Bergetar hati dan pikiran saya, tapi di depan teman-teman saya harus tegar. “Kamu jangan menangis terus. Sekarang balik kamar, salat, baca shalawat dan doa, doa ibu itu mustajab, sambil pantau perkembangan di rumah,” kata saya memberi saran kepadanya.
Tak lama berselang, saya mendengar suara mengaji dari kamar Liz. Nampaknya, teman-teman sekamarnya juga ikut mendoakan. Sejak itulah, saya semakin intens berkomunikasi dengan Liz.
Dengan bersusah payah, dia bercerita, bagaimana suaminya harus mencari uang Rp 40 juta untuk membiayai operasi. Namun pertolongan Allah selalu datang di waktu yang tepat, tanpa biaya sepeser pun anaknya dioperasi. Rupanya, Dinas Sosial Kota Surabaya meng-cover semua biaya tersebut.
Sejak itu Liz pun terlihat lebih religious. Sering sekali ikut kajian-kajian mandiri yang saya dan teman-teman adakan, selain kegiatan pembinaan wajib dari rutan. Terkadang, Liz berdendang lirih lagu-lagu Padang, teman-teman pun suka menggodanya.
Liz…dia hanyalah satu dari ratusan perempuan yang terpenjara. Walaupun berbeda masalah dan kasus yang membawa kami ke sini, namun kami punya satu kesamaan. Yakni saling menguatkan. Seperti di momen Hari Ibu, 22 Desember lalu. Bahkan, Ibu Kepala Rutan secara khusus juga memberikan ucapan selamat Hari Ibu kepada kami semua disertai dengan kalimat-kalimat motivasi. Tentu membangkitkan semangat sekaligus menyejukkan di hati.
“Bun..apakah aku layak menerima ucapa selamat Hari Ibu dari anak-anakku?” kata Liz bertanya. “Apa yang bisa mereka contoh dari aku? Aku bukanlah ibu yang baik,” sambung dia.
“Bun…Apa yang harus aku lalukan untuk membayar semua ini?”
" Bagaimana aku bisa menunjukkan bahwa betapa menyesalnya aku, semua adalah kesalahan, jangan sampai ada yang salah jalan seperti saya?"
“Bagaimana aku harus memulai kehidupan di luar? Apa aku bisa diterima masyarakat?” Liz bertanya kembali kepadaku.
Pembaca bisa membantu menjawabnya...(*/nen/mas)
Editor : Shuvia Rahma