Kondisi ini membuat pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor atau sepeda angin harus ekstra hati-hati karena aspal tidak rata. Salah seorang pengendara sepeda M. Arsy mengatakan, sebenarnya kondisi aspal tidak rata bukan masalah besar. Karena kondisi tersebut juga banyak di temui di jalan lain di Kota Malang.
Namun diakui, tidak ratanya aspal jalan bisa membuat pengendara kaget. "Ya kan tiba-tiba aspal tidak rata dan bergelombang, kaget juga saya pas melintas di situ. Apalagi ini juga bisa potensi ban sepeda selip, " ujar mahasiswa sastra Inggris tersebut.
Menurutnya, secara estetika tidak singkronnya antara program perbaikan jalan dan jalur sepeda terlihat kurang bagus. Apalagi berada di tengah atau pusat kota. Karena itu, ia berharap perbaikan aspal jalan diratakan hingga bahu jalan, lantas jalur sepeda dicat ulang. "Untuk estetika juga sih, kalau gini kan kurang enak dilihat," tambahnya.
Munculnya kesan kurang terintegrasinya program Pemkot Malang dalam perbaikan aspal jalan dan jalur sepeda di seputar Alun-Alun Malang juga menjadi perhatian kalangan akademisi. "Kalau pandangan saya, setiap tindakan pemerintah harus direncanakan dengan matang, bukan parsial bahkan cenderung reaktif. Karena tindakan pemerintah itu akan berdampak luas. Pembangunan jalan atau apapun yang menyangkut urusan publik harus direncanakan secara komprehensif," ujar dosen Ilmu Administrasi Publik Universitas Brawijaya Andhyka Muttaqin S Ap MP A. Menurutnya, jika program antar lini terintegrasi, tumpang tindih perbaikan jalan dan pengecatan ulang jalur sepeda dipastikan tidak akan terjadi.
Pewarta: Errica Vannie Editor : Ahmad Yani