“Jadi setidaknya dua tahun ke depan, di sini (TPA Supit Urang) akan jadi PLTSa. Untuk itu, saat ini dimulai dengan menyiapkan landfill-nya,” terang Khofifah usai meninjau TPA Supit Urang.
Dalam kunjungannya, Khofifah sempat kagum dengan bangunan khusus kompos yang dimiliki oleh TPA Supit Urang.
“Jadi sampah di sini dipilah, sehari bisa mengolah 400 ton sampah. Kalau dapat mengolah kompos secara signifikan. Daerah sekitar, yaitu Kabupaten Malang Dan Kota Batu bisa dapat suplai kompos untuk meningkatkan produk pertanian dengan format organik. Ini adalah nilai tambah yang baik,” ujarnya.
Wali Kota Malang, Sutiaji mengatakan bahwa pihaknya juga sudah mengalokasikan dana terkait persiapan pembangunan PLTSa tersebut. “Anggaran pun sudah kami alokasikan dalam tahun 2021 ini untuk kegiatan pengoperasionalan di sanitary landfill.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Wahyu Setianto mengatakan bahwa pihaknya juga sudah menyiapkan SDM untuk pengoperasiannya. “Untuk operasi nanti sudah ada pelatihan-pelatihan untuk 45 orang. Pemateri dari konsultan dari Jakarta. Ada pengoperasian alat berat, ada pemilahan, dan lain-lain,” tuturnya.
Melengkapi pernyataan Wahyu, Kabid Persampahan dan B3, Heri Sunarko mengatakan bahwa teknologi yang nanti mereka pakai berasal dari Jerman.
“Jadi sampah diletakkan di cekungan dan ditimbun dengan coral. Di sini coral berfungsi sebagai penangkap gas metan agar tak menguap. Dari timbunan tersebut lalu keluar air licit (leacheat), yaitu air dari timbunan sampah. Kemudian air licit akan ditampung melalui sel aktif berupa gel dan masuk ke pipa di bawah cekungan untuk di simpan dalam kolam. Air tersebut berguna sebagai bahan untuk pembuatan bahan bakar, sumber energi listrik, dan sebagainya,” jelasnya.
Pewarta : Errica Vannie
Editor : Shuvia Rahma