"Kami dari FKUB memang memiliki agenda untuk berdialog dengan para tokoh agama, sepekan yang lalu kita mulai di Pura Agung di Lesanpuro, dan kita ke sini juga ikut berbelasungkawa atas kejadian di Makassar," terang Ketua FKUB Kota Malang, Ahmad Taufiq di Gereja Katedral Ijen, Rabu (31/3).
Secara keseluruhan, forum ini merilis enam pernyataan sikap. Selain mengutuk aksi bom bunuh diri di gereja Makassar yang dilakukan pasutri, para perwakilan tokoh lintas agama ini juga mengucapkan duka cita bagi para korban dari peristiwa tersebut.
FKUB menegaskan, insiden pengeboman tidak terkait dengan ajaran agama tertentu, karena semua agama melarang adanya tindak kekerasan terhadap sesama.
FKUB juga meminta kepada seluruh jajaran Kepolisian RI untuk mengusut tuntas insiden tersebut.
"Dengan terjadinya kejadian di Makassar itu, kita turut menyampaikan rasa duka kepada Uskup, terutama kepada umat Katolik. Kami juga berharap nantinya kejadian serupa tidak terjadi di Kota Malang atau di tempat lainnya," lanjutnya.
Selain itu, ia berpesan kepada seluruh umat beragama untuk memperkokoh kesatuan agar setiap umat tidak terpancing hal-hal yang menyinggung isu SARA.
"Intinya kita kembali merapatkan jajaran umat memberikan pembelajaran dan pengertian agar tidak terjadi gesekan antar umat," tutupnya.
Selaras dengan hal tersebut Romo Gereja Katedral Ijen Henricus Pidyarto Gunawan mengatakan, pernyataan sikap tersebut merupakan aksi simpati yang positif guna menyatukan seluruh umat beragama.
"Sikap simpati yang diberikan kepada umat di Makassar sudah disampaikan kepada saya, yang di sana sudah mengucapkan terima kasih," terang Pidyarto.
Kemudian ia menuturkan bahwa Kapolsek telah menghubungi seluruh gereja di Kota Malang untuk melakukan penjagaan gereja pasca terjadi bom bunuh diri.
"Pihak kepolisian telah menjanjikan akan melakukan penjagaan yang lebih ketat. Sejauh ini semua peribadatan masih berjalan normal bahkan minggu lalu tiga ibadah masih kita jalankan," terangnya.
Ia juga yakin bahwa pihak kepolisian telah menjaga seluruh gereja agar tidak terjadi hal serupa di seluruh gereja, khususnya di Uskup Malang.
Pewarta : M. Ubaidillah Editor : Shuvia Rahma