Dengan lokasinya yang berjarak 100 meter dari pinggir sungai, Lurah Madyopuro Niken Sukendari mengatakan bahwa madrasah ini bakal dioperasionalkan layaknya sekolah alam. Tujuannya tidak lain yakni agar membuat siswa merasa nyaman saat belajar.
”(TPQ) ini nantinya juga bisa menjadi bagian dari wisata religi di Kelurahan Madyopuro atau Kota Malang karena tempatnya dekat dengan makam Ki Ageng Gribig,” ujar Niken.
Karenanya, guna menunjang keasrian tempat belajar tersebut dia menginstruksikan agar pengurus madrasah menanam tanaman di sekitarnya. Dia pun berharap, hasil dari gotong-royong warga ini mampu menginspirasi tempat lainnya.
Sementara itu, pendiri sekaligus Kepala Madrasah Diniyah Nurunnahdloh Imam Chanafi mengatakan bahwa sebelumnya para santri tersebut belajar mengaji di rumahnya yang hanya berukuran 5 x 6 meter persegi. Berkat bantuan warga, dalam kurun waktu satu bulan bangunan madrasah diniyah itu dapat dibangun meski sangat sederhana.
”Saya sangat bersyukur karena tanah yang dipakai ini punya warga dan saya disuruh menggunakannya,” kisah Imam.
Karena lokasinya yang dekat dengan sungai, warga sekitar menyebut madrasah diniyah yang dikelolanya tersebut sebagai TPQ pinggir kali. Selain tempatnya yang memang berada di pinggir sungai, cerita Sunan Kalijaga yang melakukan tirakat ilmu agama di pinggir sungai turut menginspirasi pembangunan TPQ ini. Ke depan, dia berharap Madrasah Diniyah Nurunnahdloh mampu mencetak generasi santri yang sadar Alquran.
Pewarta: Aditya Novrian Editor : Farik Fajarwati