”Sebab dalam beberapa kasus, kebijakan dari eksekutif juga dikritisi atau bahkan ditolak legislatif. Ketika itu terjadi, peran apa yang harus dijalankan Sekda dalam rangka menjaga kepentingan pihak ekskutif dan legislatif?,” umpan Direktur Jawa Pos Radar Malang yang akrab disapa Mas Kum ini.
Jawaban pertama disampaikan calon sekda yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang, Erik Setyo Santoso ST MT. Di awal penjabarannya, ia menyebut bila kepala daerah beserta perangkatnya, serta DPRD sebenarnya berada dalam satu domain. Ia lantas mengistilahkan posisi kepala daerah dan Ketua DPRD itu seperti sepasang suami istri. ”Suaminya kepala daerah, istrinya DPRD, nah anak tertuanya itu adalah Sekda,” terang dia diikuti tawa.
Berdasar pengistilahan itu, ia melihat pentingnya upaya menjaga komunikasi dalam semua perumusan kebijakan. Dikejar pemandu uji publik soal upaya apa yang akan dilakukan untuk mencapai itu, Erik punya jawaban tersendiri. ”Menguatkan komunikasi politik, bahasa gaulnya sekarang ya harus sering ngopi bareng,” kata dia.
Jawaban serupa juga disampaikan calon sekda lainnya, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang, Dr Handi Priyanto AP MSi. ”Memang diperlukan kepiawaian dalam menjaga komunikasi, salah satunya bisa dilakukan dengan strategi kedai kopi,” terang dia.
Senada dengan keduanya, calon sekda lainnya yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Malang, Drs Subkhan MAP, melihat pentingnya pola untuk menyeimbangkan aspirasi dari pihak eksekutif dan legislatif. ”Kalau riak-riak kecil kemungkinan memang ada, karena di DPRD ada 45 anggota dewan,” terangnya.
Suasana cair berikutnya terjadi jelang acara berakhir. Di sesi terakhir, pemandu uji publik melemparkan 10 pertanyaan yang harus dijawab dengan cepat oleh tiga kandidat sekda Kota Malang. Pertanyaan paling akhir lah yang cukup menyita perhatian.
Dari ketiga kandidat, hanya Erik lah yang memilih untuk dimarahi wali kota ketimbang dimarahi istri. Sementara Handi dan Subkhan kompak untuk memilih kebalikannya. Jawaban atas pertanyaan lainnya nampak dipilih secara kompak oleh ketiga kandidat. Seperti pertanyaan pertama, tentang karir atau jabatan. Baik Erik, Handi atau Subkhan kompak memilih karir yang akan diutamakan. Begitu pula dengan pertanyaan nomor 2 dan 6. (rmc/arl/by)
Editor : Ahmad Yani