Beruntung saat kejadian, Slamet dan keluarganya tidak berada di rumah. Rahman, 72 ayah Slamet menyatakan, anaknya beserta keluarganya sudah tidak menempati rumah tersebut. "Ini memang sudah dikosongkan sejak empat bulan lalu. Anak saya (Slamet) sekeluarga saya minta pindah ke belakang," kata Rahman saat ditemui di depah rumah yang ambruk sore tadi.
Bagian teras beserta kamar rumah yang ditinggali anak beserta keluarganya yang berjumlah sekitar empat jiwa itu hampir tidak bersisa. Bangunan runtuh akibat guncangan gempa.
Keputusan mengosongkan rumah tersebut diambil ketika plengsengan bagian samping rumah bercat kuning tersebut ambrol. "Sekitar setahun lalu itu plengsengan di sebelah ambrol, saya ambil keputusan dikosongkan karena rawan," ujar dia.
Kediaman Slamet dan keluarga itu sendiri merupakan salah satu dari tiga bangunan yang terdampak gempa di Kota Malang. Dari laporan teranyar BPBD Kota Malang, jumlah bangunan terdampak gempa juga masih bertambah. Salah satunya rumah di Jalan Bandulan Baru, Kecamatan Sukun yang ambruk tinggal kerangka penyanggah atapnya saja.
Pewarta: Biyan Mudzaky Editor : Farik Fajarwati