Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Hadi Santoso. Pejabat yang akrab disapa Soni ini mengatakan, peletakan batu pertama akan dilakukan sebelum dia pensiun pada Juli mendatang. Nantinya, peletakan batu pertama tersebut menandai proyek multiyears Pemkot Malang yang ditarget rampung 2022.
”Ya, itu (peletakan batu pertama) akan dilakukan sebelum saya pensiun. Tepatnya kapan, itu sedang saya bahas,” ungkapnya pada Rabu lalu (2/6).
Pria yang akrab disapa Soni itu menjelaskan, pagu untuk membangun MCC ditaksir Rp 100 miliar. Pagu anggaran tersebut memang menyesuaikan dari detail engineering design (DED) awal perencanaan pembangunan MCC.
Sedangkan harga perkiraan sendiri (HPS) senilai Rp 99,9 M. Hal ini menjadi dasar nilai pekerjaan. Pemenang tender dipilih karena penawaran harga dianggap rasional.
Setelah tahapan ini, DPUPRPKP Kota Malang akan melakukan pendandatanganan kontrak dengan pemenang tender. Bahkan, pemenang tender telah ada sejak awal Mei lalu. Namun, Soni tak mau menyebutkan siapa pemenang tender itu.
Namun, jika melihat website dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), pemenang tender pembangunan berasal dari Surabaya. Yakni, PT Tiara Multi Teknik yang bermarkas di Jalan Ketintang Baru Selatan.
Dari data tersebut, tender berhasil memenangkan proyek MCC dengan nilai penawaran Rp 96,3 miliar. Pemenang tender itu telah diumumkan pada 26 April lalu.
Mantan Pjs Sekkota Malang itu juga menjelaskan, gedung MCC akan dibangun 8 lantai. Di tahap pertama, yakni di tahun 2021 ini, gedung masih akan dibangun dengan tidak menggunakan seluruh anggaran yang ada. Tahap pertama MCC akan dibangun dengan nilai anggaran hanya Rp 25 miliar dahulu.
”Bangunannya dibuat dengan multiyears serta 2022 nanti bisa selesai dan baru dimanfaatkan seluruhnya,” sambungnya.
Wali Kota Malang Sutiaji mengungkapkan, proses pembangunan MCC tahun ini segera dimulai. Dia menargetkan tahun 2022 MCC dapat rampung 100 persen. Setelah itu, awal 2023 gedung 8 lantai tersebut bisa dipakai. ”Insya Allah 2023 bisa dipakai,” singkatnya.
Politikus Partai Demokrat itu berharap, gedung MCC dapat menjadi pusat aktivitas bagi para pelaku ekonomi kreatif serta sebagai co-working space dan sebagai pusat interaksi para pelaku ekonomi kreatif potensial untuk saling berkolaborasi bersama. Apalagi, Pemkot Malang saat ini fokus dalam mengembangkan industri ekonomi kreatif (ekraf). Di sana, para pelaku industri ekraf dapat terwadahi segala kegiatannya.
Wali kota alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya Cabang Malang (sekarang UIN Maliki Malang) itu juga berharap komunitas kreatif di Kota Malang dapat memanfaatkan peluang serta kesempatan dan fasilitas yang diupayakan oleh Pemkot Malang melalui MCC.
Pembangunan MCC ini juga diharapkannya mendongkrak perkembangan Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Malang. MCC nantinya juga dapat digunakan bagi UMKM yang sebelumnya mencari tempat untuk memasarkan produknya dan menjadi ”rumah” bagi usahanya.
Selain menjadi pusat bagi pelaku UMKM memasarkan produknya, mereka juga akan diberikan pembelajaran dan berbagai syarat agar mereka bisa bersaing di pasar. Dengan itu, mereka tetap bisa kreatif dan bersaing dengan pasar, pelatihan di MCC pun dapat menjadi kurasi bagi UMKM.
”Nanti ada program pembinaan, jadi orang bisa melihat ke sana, ini cara pembuatan produknya,” terang pria kelahiran Kabupaten Lamongan itu.
Sutiaji juga menjelaskan, pembangunan MCC tahun ini bisa on going. Namun, pandemi Covid-19 yang terus naik mengakibatkan pembangunan sempat tertunda. Sebenarnya, akhir 2020 bisa menjadi pembangunan awalnya.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Kota Malang I Made Rian Diana Kartika mengatakan, akan mengawasi proyek multiyears itu. Sebab, dia bersama tim badan anggaran (banggar) telah menyetujui pembangunan. Dia pun menyarankan pemkot harus menggeber pembangunan dengan cepat.
”Jelas kami kawal, karena kami selaku dewan berharap proyek yang dapat mengayomi ekraf dapat selesai tepat waktu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Malang beberapa waktu lalu.
Pria kelahiran Negara Jembrana, Bali, itu juga itu mengusulkan agar pembangunan MCC juga dilengkapi ruang galeri khusus bagi para seniman yang berada di Kota Malang. Sehingga, nantinya MCC juga dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Dapil Lowokwaru itu juga berencana menyediakan ruang khusus untuk Dewan Kesenian Malang (DKM). Hanya, dia masih terus berkoordinasi dengan Pemkot Malang agar penggunaan MCC tepat sasaran. Dia pun mendorong pemkot sesegera mungkin mendata terkait siapa saja yang ada di gedung tersebut.
”Upaya membangkitkan ekraf dan seni Kota Malang berjalan selaras dengan pembangunan infrastruktur dan juga pariwisata,” sambungnya.(adn/c1/abm/rmc)
Editor : Shuvia Rahma