Jawa Pos Radar Malang kemarin (21/9) mencoba membuktikannya. Trayek angkot Gadang-Landungsari (GL) sempat dicoba Jawa Pos Radar Malang. Sepanjang perjalanan dari Gadang menuju Landungsari, tercatat hanya ada dua penumpang yang diangkut oleh Rusmanadi, sang sopir angkot. Yang pertama adalah Indri Permatasari (29), warga Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun. Satunya lagi yakni wartawan Jawa Pos Radar Malang sendiri.
Indri yang ditanya alasan tetap naik angkot, mengaku tetap setia memilih angkot karena biayanya lebih terjangkau. ”Iya, biayanya murah, walaupun agak sulit ya sekarang untuk (cari) angkot, karena banyak yang tak beroperasi,” kata dia. Hal serupa juga tersaji pada trayek angkot jurusan Gadang-Arjosari (GA). Sepanjang perjalanan dari Jalan Veteran menuju Gadang, tercatat hanya ada satu penumpang selain wartawan Jawa Pos Radar Malang.
Andri Herdiansyah, sopir angkot tersebut menyebut bila sepinya penumpang itu hampir terjadi tiap hari. ”Ya karena banyaknya transportasi online. Ditambah lagi ada (kebijakan) PPKM,” kata dia.
Sopir angkot lainnya, Ruli, berharap plat nomor kendaraan hitam tidak digunakan untuk mengangkut penumpang. ”Karena sejak adanya transportasi online, pendapatan kami (sopir angkot) berkurang sampai 40 persen. Belum lagi ada korona,” keluh dia.
Sepinya penumpang membuat jumlah armada di sejumlah trayek banyak berkurang. Hal itu pun dibenarkan Agus Hermanto (52), warga Jalan Mergan Kecamatan Sukun. Ia yang jadi pemilik trayek angkot GM (Gadang-Mulyorejo) di Kota Malang mengaku harus menonaktifkan 4 armadanya karena sejumlah sopir tidak mau narik lagi.
”Sebenarnya semenjak adanya moda transportasi online dan bus sekolah, angkot banyak kehilangan penumpang. Terlebih ada PPKM, tambah gak ada yang naik (angkot),” kata dia. Dia juga mengatakan jika setoran angkot yang dulunya bisa sampai Rp 60 ribu per hari, sekarang terus berkurang. Rata-rata para sopir hanya bisa setor senilai Rp 40 ribu kepadanya.
Bahkan beberapa kali ia mengaku jika para sopir angkota banyak yang tidak menyerahkan setoran. ”Ya para supir itu sehari kadang hanya dapat Rp 5 ribu, Rp 7 ribu, dan Rp 10 ribu. Lha kalau segitu apanya yang mau disetorkan. Sudah rugi bensin, gak ada penumpang lagi,” kata dia.
Di tempat lain, Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Sony Bachtiar mengakui bila jumlah trayek angkot terus berkurang. Dari sebelumnya ada 25 trayek, kini hanya tinggal 19 trayek saja yang aktif. ”Itu (19 trayek yang masih aktif, red) merupakan data yang kami himpun melalui kartu pengawasan,” kata dia saat dikonfirmasi kemarin (21/9).
Enam trayek yang tak lagi aktif itu kini statusnya bisa dibilang mati suri. Seperti trayek Hamid Rusdi-Mergan-Landungsari (HML), Cemorokandang-Landungsari (CKL), dan Tawangmangu-Soehat-Gasek (TSG). Meski jarang beroperasi, dia menyebut bila sopir dari trayek-trayek tersebut masih kerap narik jika ada permintaan khusus. ”Biasanya kalau ada event ataupun saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu,” sambungnya.
Di sisi lain, ia juga menyebut bila jumlah armada angkot terus berkurang. Itu terjadi lantaran sejumlah pemilik trayek memilih untuk menjual armadanya. Sony juga membeberkan sejumlah alasan mengapa angkot mulai ditinggalkan masyarakat. Hal pertama yang masuk dalam pengamatannya yakni daya saing dengan moda transportasi online yang tengah menjamur.
Mobilitas masyarakat yang saat ini tinggi cenderung memilih transportasi yang cepat dan mudah. Belum lagi masalah kenyamanan dan keamanan. Alasan lain masyarakat mulai enggan naik angkot yakni terkenal lama dan pelan. Dari dasar itu, dia menyebut pentingnya revitalisasi program agar angkot bisa kembali diminati masyarakat.
Sony pun menyebut bila pihaknya telah menyiapkan sejumlah inovasi.
”Kami ada beberapa opsi menyelamatkan eksistensi angkot. Seperti revitalisasi angkot, rasionalisasi jumlah armada, penggunaan GPS, dan fleksibilitas armada,” papar Sony. Empat inovasi tersebut dirumuskan pihaknya agar angkot bisa bersanding dengan transportasi online yang menjamur. Untuk maksud dari penggunaan GPS, dia menyebut bila itu diplot untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses angkot.
Berikutnya, fleksibilitas armada angkot juga diperlukan para pelajar. Sebab umumnya mereka membutuhkan informasi terkait keberadaan angkot yang terdekat. Opsi lainnya berupa subsidi kepada tiap angkot masih belum bisa diterapkan pihaknya. Sony menyebut bila langkah itu perlu dikaji lebih dalam dengan sejumlah pihak. Seperti pakar transportasi, pelaku transportasi, dan organisasi angkutan darat (Organda).
”Kami perlu masukan, untuk itu kami juga tidak bisa menghapuskan angkot dari kehidupan masyarakat, karena ada kewajiban menyediakan transportasi massal,” tegasnya.
Di tempat lain, Sekretaris Organda Malang R. Purwono Tjokro Darsono mengakui bila keadaan angkot di Kota Malang sudah sangat miris. Pandemi Covid-19 yang masih merebak turut berimbas pada penurunan jumlah penumpang. ”Sehingga setoran mereka (sopir, red) itu seadanya ke pemilik armada, ya akhirnya timbul adu roso,” beber pria yang kerap disapa Pur itu.
Agar bisa menyelamatkan wajah angkot di Kota Malang, dia mendorong pemkot untuk memberikan sebuah solusi. Muaranya, dia berharap Pemkot Malang tidak lepas tangan saat angkot sudah sepi penumpang.
Pur lantas mencontohkan salah satu langkah yang dilakukan pabrik rokok ternama di Kota Malang. Pabrik tersebut, disebut dia, berani memberikan subsidi biaya angkutan kepada pegawainya. Sehingga pekerjaan para sopir masih bisa terselamatkan.
”Subsidi ini sangat membantu bahkan masih terus berlangsung,” ucapnya. Organda Malang juga berharap Pemkot Malang bisa melihat keadaan para sopir. Sebab trayek-trayek angkot kini semakin hari semakin sepi ditinggal pelanggan. Pur juga berharap nanti angkot bisa menghadirkan layanan yang lebih terintegrasi. (adn/cj6/by/rmc)
Editor : Shuvia Rahma