Kobaran api dari lantai dua gedung tersebut pun sontak membuat mahasiswa yang sedang nongkrong di sekitarnya semburat. Salah satunya Zakaria, 20 yang pada saat kejadian berada di laboratorium lantai 1. "Saya sama teman-teman awalnya di laboratorium lantai 1, lalu ada yang teriak kebakaran di lantai 2 saya langsung keluar," terangnya.
Begitu keluar, api dari ruang laboratorium industri terlihat menyala dengan jelas menyelimuti ruang seluas sekitar 10 x 15 meter persegi itu. "Tahu-tahu langsung menyala, apinya cukup besar," ucapnya. Beruntung, di lantai tersebut tidak ada aktivitas mahasiswa. "Tidak ada, kosong dan gelap, mahasiswa ada di lantai satu dan di luar," terang mahasiswa Teknik Mesin UB tersebut.
Berkaitan dengan penyebab kejadian tersebut, Kepala UPT Damkar Kota Malang, M. Teguh Budi Wibowo menduga karena korsleting listrik. "Ada korseleting di dalam, ada panel listrik yang terbakar," ungkapnya. Api pun menyambar beberapa alat pekerjaan yang berada di dalam seperti mesin bubut. "Karena di dalam itu laboratorium manufaktur jadi isinya alat-alat seperti mesin bubut dan lain sebagainya," tambah dia.
Teguh mengatakan, petugas keamanan gedung sempat berusaha memadamkan api dengan APAR. "Tapi tidak mampu, karena api sudah besar," kata dia.
Hydrant pemadam kebakaran yang ada di sekitar area kejadian pun juga diketahui tak berfungsi. Selain itu, banyaknya logam dan lantai gedung turut menjadi halangan petugas.
"Takut kesandung saat pemadaman, itu saja," ujar Teguh.
Dalam peristiwa tersebut, Damkar Kota Malang mengerahkan 3 unit mobil dan 15 personel untuk menjinakkan api. Si jago merah baru bisa dijinakkan setelah 1 jam. Sementara itu, kerugian diperkirakan lebih dari Rp 50 juta.
Pewarta: Biyan Mudzaky Editor : Shuvia Rahma