DIBUKA sejak akhir Agustus lalu, angka kunjungan warga ke pusat perbelanjaan masih belum menggembirakan pengelola. Seperti di Mal Ramayana Alun-Alun Kota Malang. Dalam tiga pekan terakhir, belum ada peningkatan pengunjung yang signifikan. ”Daya beli juga turun bagi mereka (warga) yang sudah berkunjung,” kata Store Operation Mal Ramayana Alun-Alun Kota Malang Bambang Triyono. Dia mengestimasi bila tingkat kunjungan masih berada di angka 30 persen.
Pihaknya pun tidak berdiam diri dengan kondisi itu. Mereka mensiasatinya dengan beberapa hal. Seperti menyediakan promo besar-besaran, baik secara langsung atau via media sosial (medsos). Pada bulan ini, mereka punya program banting harga dengan tema cuci gudang. Bambang membeberkan, sampai saat ini yang terlihat ada lonjakan pembelian adalah produk sepatu sekolah.
Kemungkinan karena saat ini sudah diterapkan sekolah tatap muka. ”Itu berdampak sekali, kalau pakaian yang lainnya masih belum terlihat,” sebut pria asal Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang itu. Siasat lain yang dilakukan adalah mendongkrak pembelian di Ramayana yakni menyediakan diskon khusus untuk sembako. ”Iya, kami ada program diskon tebus murah minyak atau beras,” tambahnya.
Selain itu, juga ada promo buah-buahan saat weekend. ”Tapi itu ada penentuan jam-jamnya, ada program harga kaget intinya,” jelas Bambang.
Di tempat lain, Store Manager Sarinah Agus Sunaryo juga mengatakan bila angka kunjungan di tempatnya belum optimal. Bila dipersentasekan, tingkat kunjungan baru berada di kisaran 30 persen. ”Sama dengan yang lain, kami juga bermain di diskon besar-besaran,” kata dia. Siasat itu, dikatakan dia, belum berdampak signifikan pada peningkatan pengunjung. Sebab, Agus menyebut bila penyebab utama minimnya kunjungan adalah syarat vaksinasi.
”Mau sebesar apa pun kami ngasih diskon, yang bisa masuk hanya yang sudah vaksin saja,” kata dia. ”Kami sangat bergantung pada itu, jadi yang kami harapkan itu percepatan vaksinasi agar pengunjung kembali ramai,” tambahnya.
Di sisi lain, pihaknya juga belum bisa menggelar beragam program yang bisa berpotensi menimbulkan keramaian. ”Jadi semua memang terbatas, kami berharap kondisi ini bisa segera membaik,” terang Agus.
Di tempat lain, Mall Business Manager Malang City Point (MCP) Cinthya Anindita turut merinci sejumlah inovasi yang dilakukan pihaknya dalam menggaet pengunjung. Salah satunya dengan mengadakan pameran expo di dalam mal. Saat ini, MCP menggelar pameran thrifting, mulai 24 September hingga 3 Oktober mendatang.
”Kami memfasilitasi teman-teman pengusaha thrifting dengan acara bertajuk Malang Thrifting Festival, agar okupansi pengunjung mal bisa pulih secara perlahan,” kata dia kemarin (26/9).
Tak hanya itu, MCP juga aktif melakukan promosi di medsos, seperti di Instagram. Di sana, mereka memberikan sejumlah informasi terkait promo diskon dari para tenant. Diskon mulai 25 sampai 50 persen disajikan oleh setiap tenant yang ada di MCP. Meski sudah ada program yang dijalankan, Cinthya menjelaskan bila jumlah pengunjung mal cenderung fluktuatif per harinya. Kadang naik dan kadang turun.
”Dalam satu hari saja kapasitas kami bisa menampung 3.000 pengunjung. Tapi karena ada pembatasan, kadang bisa separo kadang tak sampai,” bebernya.
Dia menambahkan bila penurunan pengunjung itu juga disebabkan adanya larangan untuk anak usia di bawah 12 tahun masuk ke mal. Meski saat ini ada larangan, pihaknya sudah menyiapkan wahana permainan khusus anak. Wahana Fun City misalnya, yang saat ini tengah tutup, bakal langsung dibuka jika kebijakan anak di bawah 12 tahun diperbolehkan masuk mal.
Di tempat lain, adanya spot-spot foto dan tempat nongkrong di roofstop Malang Town Square (Matos) terbukti mampu menarik minat warga. ”Itu ternyata mendatangkan massa yang cukup besar, dan itu berpengaruh pada daya beli food court karena persyaratannya memang harus beli,” kata Mall Director Matos Fifi Trisjanti. Menurut dia, pihaknya memang sengaja memberikan spot khusus agar bisa menarik minat masyarakat. ”Kalau diskon atau tebus murah sudah kami lakukan sejak dulu,” terangnya.
Saat disinggung soal keringanan apa saja yang diberikan kepada tenant, dia tidak menjelaskannya secara gamblang. ”Karena itu sesuai dari tenant masing-masing, dan untuk tenant juga sudah kami beri diskon khusus,” paparnya. Sama seperti yang lainnya, Fifi juga menyebut bila adanya pembatasan usia anak di bawah 12 tahun cukup berpengaruh terhadap kunjungan di mal. ”Padahal anak-anak juga suka main ke Mal,” kata dia. (rmc/ulf/adn/by)
Editor : Ahmad Yani