Dia menjelaskan bila kondisi itu kemungkinan terjadi karena tidak adanya pembatasan secara ketat untuk kendaraan lalu lintas. Selain itu, bisa juga karena target herd immunity di Kota Malang sudah terpenuhi. ”Karena kalau mereka sakit, tidak mungkin bisa bepergian ke mana-mana,” kata dia. Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, sampai akhir pekan lalu capaian vaksinasi di Kota Malang sudah menembus angka 79 persen untuk dosis pertama.
Pria yang akrab disapa Widi itu juga menyebutkan bila peningkatan jumlah penumpang itu sudah tersaji sejak pekan lalu. Indikasinya terlihat dari jumlah bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang beroperasi. Kini sudah ada sekitar 30 sampai 40 unit bus AKAP yang aktif beroperasi. Sedangkan bus antar kota dalam provinsi (AKDP) sudah ada sekitar 240 unit yang beroperasi tiap harinya. ”Itu jelas meningkat dibandingkan waktu awal PPKM Darurat Juli lalu, karena yang beroperasi waktu itu tidak beberapa, bisa dihitung dengan jari,” beber ayah dua anak itu.
Widi menambahkan bila peningkatan jumlah penumpang paling terlihat saat momen weekend. Sebab per hari dia menyebut ada 666 unit bus AKAP dan 516 bus AKDP yang beroperasi. ”Itu sabtu lalu (2/10), kalau yang sekarang belum ditotal,” tambahnya. Sebelum meningkat seperti sekarang, dia menyebut bila jumlah penumpang hanya berhenti di angka maksimal 400 orang per hari. ”Padahal sekarang harus pakai aplikasi pedulilindungi untuk bus AKAP, tapi itu sepertinya sudah tidak menjadi masalah,” imbuh pria asal Kecamatan Sukun itu.
Dari pengamatannya, capaian vaksinasi di Kota Malang memang turut berimbas pada peningkatan jumlah penumpang. Sehingga masyarakat tidak khawatir untuk bepergian ke luar kota. Meski begitu, dia menyebut bila setiap penumpang tetap diwajibkan mematuhi protokol kesehatan (prokes) yang ketat. ”Khususnya masker, itu tidak boleh lupa,” tambah Widi.
Sementara itu, salah satu kondektur bus AKDP M. Arif mengakui bila penumpang bus cenderung meningkat. Sebelumnya, dia menyebut bila jumlah penumpang saat PPKM darurat sangat sepi. ”Dulu satu bus bisa cuma isi 8 penumpang, padahal ada 50 kursi (yang tersedia, red),” kata dia.
Saat ini, lanjut dia, mulai ada pergerakan jumlah penumpang. ”Kadang sampai 22 penumpang, kadang sampai 28,” bebernya. Dia berharap, kondisi dan situasi semakin membaik. Sehingga aktivitas transportasi bisa normal kembali. (ulf/by/rmc)
Editor : Shuvia Rahma