“Dan dari 73 persen itu, sebanyak 80 persennya memang dari sampah makanan,” ungkapnya.
Sampah makanan itu terdiri dari berbagai macam jenis. Contohnya sampah rumah tangga hingga sampah dari kulit buah dan sisa sayuran. Artinya, bila sampah organik sebanyak 400 ton per harinya, paling tidak sekitar 320 ton di antaranya adalah sampah makanan.
Menurut dia, banyak faktor yang memicu food waste sedemikian banyak. Misalnya, masyarakat belum terbiasa memilah sampah sejak di rumah. “Memilah sampah sejak dari rumah itu sangat berpengaruh, karena sebenarnya bisa digunakan untuk pakan ternak atau untuk pembuatan kompos,” ungkapnya.
Sehingga sampah yang seharusnya bisa dimanfaatkan ulang tak lantas terbuang percuma.
Selain itu, kondisi tersebut juga tergantung pada pola hidup masyarakat. Mulai dari pengolahan menu makanan harian hingga porsi makanan sesuai kebutuhan. “Kalau itu bisa disesuaikan, secara tidak langsung bisa menekan sampah makanan secara bertahap,” tambahnya.
Dia menjelaskan, sebenarnya sampah organik dan anorganik bisa sama-sama berbahaya. Bisa mencemari lingkungan dan memicu pemanasan global. “Karena ada yang gampang terurai dan ada yang mudah terurai, yang bisa menyebabkan mencemari lingkungan,” ungkapnya.
Sampah makanan bisa berpengaruh pada pemanasan global karena menghasilkan gas metan. Seperti diketahui, gas metan merupakan salah satu gas yang memicu pemanasan global. (ulf/nay/rmc)
Editor : Shuvia Rahma