Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Temu Kangen Kosayu 85 dan 88 Bikin Guru Terharu dan Beri Tali Asih

Didik Harianto • Minggu, 24 Oktober 2021 | 15:55 WIB
Photo
Photo
MALANG KOTA – Hampir seluruhnya terharu. Air mata tak kuasa turun. Itu terjadi saat puluhan alumni memberi hormat tiga kali dengan cara membungkukkan badan. Serta memberi tepukan tangan panjang. Itu diberikan kepada guru-guru yang mendidik mereka puluhan tahun silam. Guru-guru luar biasa dari SMP dan SMA Kolese Santo Yusup Malang.
Cukup? Belum. Acara makin haru saat perwakilan alumni diminta menggandeng tangan guru. Kemudian memberikan tali asih. Mereka mengenang luar biasanya jasa para guru-guru mereka. Berkat guru guru itu lah, kini mereka sukses menjadi pribadi seperti yang sekarang ini.
Haru biru itu tersaji saat Temu Kangen Guru SMP ’85 dan SMA ’88 SMA Kosayu Malang di Jardin, kemarin siang. “Ini adalah teman-teman yang masuk SMP tahun 1982, kemudian melanjutkan ke SMA dan lulus di tahun 1988. Mereka ini yang sudah berteman sebagian dari SMP dan lanjut ke SMA,” kata panitia acara Leo Oendoen.
Leo menceritakan, di angkatan tersebut, ada sekitar 350 lulusan SMP dan juga lulusan SMA. Guru-guru mereka yang dulunya mengajar, saat ini sudah berusia 63 tahun sampai 95 tahun. “Mengapa kami adakan acara ini. Pandemi ini sudah terlalu panjang. Guru-guru kami perlu kegiatan. Apalagi di usia senja. Tentu butuh hiburan. Supaya mereka ini bisa berkumpul lagi, kami buatlah acara ini,” papar Leo. “Ini sebagai bentuk wujud rasa syukur kami kepada guru kami yang sudah penuh bakti,” sambung dia.
Ada sejumlah 15 orang guru SMP dan 18 guru SMA yang diundang di acara ini. Sementara siswa yang hadir 60 orang. “Kami menginisiasi acara ini supaya bisa mengetuk hati angkatan lain. Supaya mereka tergerak hatinya untuk makin memberi perhatian kepada para guru yang telah berjasa besar hingga kami bisa seperti ini,” ungkapnya.
Tentang mengapa yang hadir hanya 60 orang, Leo menyebutkan bahwa pihaknya menerapkan protokol kesehatan ketat. Seluruh siswa, guru, pengisi acara, sampai wartawan dan fotografer Jawa Pos Radar Malang harus menjalani screening swab antigen. Begitu hasilnya negatif, baru diperbolehkan memasuki venue acara di sisi outdoor Jardin.
Selama acara berlangsung, semua yang terlibat juga wajib mengenakan masker. Masker dilepas hanya pada sesi makan siang dan berfoto bersama. “Semoga persaudaraan angkatan ini makin kuat dan terus berjalan hingga masa mendatang,” tandas Leo. (dik)

Kepala Sekolah: Mereka Ini Ganteng dan Ayu, Tapi Niat Sekolah

Meski tertutup masker, namun rona bahagia tak bisa disembunyikan dari wajah bapak ibu guru pengajar SMP dan SMA Kosayu yang diundang di acara kemarin. Bagaimana tidak, mereka bisa kembali berjumpa dengan siswa yang dulunya mereka ajar setelah sekian tahun.
“Setiap angkatan punya karakter. Meski (angkatan ini) sedikit ndablek, tapi mereka tahu kewajibannya apa,” kata kepala sekolah SMP Kosayu Blimbing Albertus Pranjata. Pranjata menjabat sebagai kepala sekolah pada 1981 hingga 1987. “(angkatan ini) anak-anaknya ganteng-ganteng. Ayu-ayu. Tapi niat sekolah. Maka tidak heran, endingnya mereka bisa sukses seperti sekarang ini,” kata guru Geografi itu.
Pria yang dapat julukan Peta Berjalan itu melanjutkan, angkatan ini diingatnya adalah angkatan yang tidak begitu banyak menyusahkan guru. “Waktu itu masih banyak anak nakal. Maka tugas kami tidak hanya mengajar, namun juga mendidik,” ungkapnya.
Pranjata juga mengapresiasi bahwa angkatan ini memiliki pribadi dengan pola pikir yang cemerlang. Sehingga, kemampuan akademis mereka pun juga di atas rata-rata. Meski belum banyak gelaran kompetisi antar sekolah di masa itu, dia menyebutkan bahwa anak-anaknya memiliki kemampuan akademis yang cukup bagus.
“Anak-anak ini cukup bagus. Semoga seterusnya mereka bisa sukses menjadi seperti apa yang dicita-citakan,” tandas Pranjata. (dik) Editor : Didik Harianto
#angkatan85 #peksi #temu kangen #Kosayu #angakatan88