MALANG KOTA – Penolakan warga atas penggunaan Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) di Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing sebagai tempat isolasi terpusat (isoter) pasien Covid-19 mengundang sorotan dewan. Seharusnya situasi tersebut tak perlu terjadi. Itu jika Pemkot Malang mengawalinya dengan sosialisasi kepada warga sekitar.
Wakil Ketua II DPRD Kota Malang Asmualik menyatakan, seharusnya Pemkot Malang sudah melakukan kajian matang sebelum mengambil keputusan. Termasuk menjadikan SKB sebagai isoter pasien Covid-19. ”Bila dalam kajian dari dinkes aman maka sosialisasi kepada masyarakat bisa masif disampaikan, agar masyarakat paham dan saling bantu,” terang Asmualik kemarin (1/2).
Anggota DPRPD dari Dapil Blimbing itu juga berharap masyarakat bisa memahami jika SKB menjadi tempat isoter. Penanganan pandemi Covid-19 menurutnya juga butuh sinergi antara pemkot dan masyarakat. Asmualik berharap jika maslah ini secepatnya bisa diurai agar tak berlarut-larut.
Di tempat lain, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan hingga saat ini pihaknya masih melakukan proses penataan dan koordinasi dengan warga setempat. Hal itu guna memastikan SKB bisa segera difungsikan sebagai isoter pasien Covid-19. ”Terkait SKB sebagai isoter itu kita menjalankan SK (Surat Keputusan) Wali Kota, inilah yang saat ini masih kita sosialisasikan kepada warga sekitar," ujarnya.
Padahal, isoter yang bisa menampung 50 pasien itu dijadwalkan beroperasi pekan ini. Husnul pun menegaskan bahwa rencana tersebut masih dikoordinasikan dengan warga sekitar. Disediakannya isoter oleh Pemkot Malang ini sebagai salah satu upaya menekan angka kasus Covid-19. Pasien dengan kategori ringan bisa menjalani isolasi secara tepat dan dalam pantauan nakes.
Hal itu mengacu pada ketentuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Jika pasien Covid-19 dengan gejala ringan harus masuk ke isoter. Apalagi melihat kasus penambahan Covid-19 yang didominasi klaster sekolah dan kantor dikhawatirkan ada pasien yang bergejala. "Saya sudah menerima laporan bahwa ada satu kantor dan sekolah yang jadi klaster, mereka saat ini isoman. Semoga tak ada yang bergejala lebih parah," tutup mantan direktur RSUD Kota Malang itu. (adn/nay)