Dalam konfercab tersebut, kurang lebih 117 peserta mulai tingkat ranting hingga cabang NU se-Kota Malang hadir. Sesuai mekanisme pemilihan, sebelum pemilihan ketua tanfidziyah diawali dengan penentuan rois syuriah. Akhitnya Drs. KH. Chamzawi, M.Hi masih kembai mendapat kepercayaan lagi.
Disusul pukul 20.30 pemilihan bakal calon ketua tanfidiyah atau pemimpin cabang dilakukan. Ratusan peserta membentuk barisan dengan membawa kertas suara yang nantinya berisikan nama. Akhirnya ada empat calon. Yakni Dr KH Isyroqunnajah dengan 61 suara, KH Syaifuddin Zuhri 54 suara, KH Chamzawi dan Ustadz Jumadiono dengan masing-masing satu suara.
Sekitar pukul 21.00, pemilihan final dilakukan. Kali ini hanya Dr KH Isroqunnajah dan KH Saifuddin Zuhri. Gus Is dan KH Saifuddin pun maju dari pemilihan bakal calon dalam pemilihan final berdasarkan syarat mutlak, maju ke babak final minimal 25 suara. Dalam perhitungan suara, Gus Is, sapaan Isroqunnajah dengan KH Saifudin saling kejar. Dsan akhirnya, KH isroqunnajah meraup 66 suara, sementara KH Saifuddin dapat 50 suara.
Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji yang membuka acara konfercab menyampaikan peran NU di masyarakat harus dimaksimalkan lagi. Karena potensi yang dimiliki berupa para ahli dan profesor ada banyak. Beberapa di antaranya ada yang masuk dalam jajaran kepengurusan PCNU Kota Malang. “Utamanya, dalam pengentasan kemiskinan, kami terapkan strategi hexa helix,” kata dia.
Hexa helix sendiri adalah kerjasama dengan enam pihak. Artinya, pemkot dengan tangan terbuka siap kerja sama dengan NU Kota Malang. “Tinggal bagaimana membangun kolaborasi, akselerasi yang Insya Allah NU akan sangat mampu untuk hal itu,” kata politisi Partai Demokrat itu.
Dalam konfercab ke-15 itu, ada 13 pokok-pokok pikiran pembahasan. Pertama, memperkuat kemitraan dengan hexa helix atau multipihak yaitu pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, media, dan lembaga keuangan. Kedua, distribusi kader profesional pada lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang diikuti dengan sekolah kader dan keempat mengorganisir dana sosial berbasis waralaba modern.
Keempat, pemusatan tata kelola LAZISNU secara integratif. Keenam membangun sistem keuangan organisasi NU yang profesional dan akuntabel. Kemudian menggiatakan Lailatul dan Naharotul Ijtima' untuk konsolidasi organisasi sebagai poin ketujuh, lalu penguatan faham Ahlussunah waljamaah dan menjawab kebutuhan umat.
Selanjutnya, ialah pendampingan program prioritas berbasis bisnis halal. Misalnya penyembelihan hewan, pembebasan rentenir, dan lain-lain. Kesembilan, optimalisasi pendataan anggota melalui kartu tanda anggota NU berbasis digital (KartaNU online). Kesepuluh meningkatkan target sertifikasi atas aset-aset NU, Yayasan, dan Lembaga. Sebelas, melembagakan kearsipan aset-aset NU, disusul revitalisasi mutu dan kualitas standansasi pendidikan pada Ma'arif NU. Serta terakhir, optimalisasi dakwah digital sebagai poin ke tiga belas "Tentu kami tempatkan yang sesuai bidang, secara umum ada program strategis kelembagaan yang menjadi prioritas dan ada yang didistribusikan ke berbagai lembaga," kata Khoirul Anwar, ketua OC konfercab. (biy/abm) Editor : Mardi Sampurno