M A L A N G KOTA – Hari ini (2/4), dunia memperingati hari peduli autisme internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal peringatan itu untuk mendorong semua orang lebih peduli terhadap pemenuhan hak-hak pengidap autisme. Sebab, selama ini banyak kasus autisme yang sudah terlambat untuk mendapatkan intervensi.
Contohnya di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Dalam sebulan rata-rata terdapat dua sampai tiga kasus baru dengan diagnosis autis. Artinya, dalam satu tahun ada 24 sampai 36 kasus autis yang ditangani oleh rumah sakit yang berlokasi di Jalan Jaksa Agung Suprapto itu. ”Rata-rata mereka yang datang sudah berusia 4-5 tahun, di mana sudah agak terlambat untuk diintervensi,” ujarnya spesialis anak dr Ariani SpA(K) MKes. Ariani menjelaskan, ada dua hal yang menjadi penyebab utama autis
Yakni faktor genetik dan lingkungan. Namun, ada pula faktor-faktor lain seperti faktor prenatal sampai pascanatal, imunologi, infeksi, kelainan neuroanatomi sampai kelainan neurotransmitter. Misalnya faktor imunologi. Menurut Ariani, pada anak yang ibunya menderita penyakit autoimun seperti diabetes mellitus tipe 1, arthritis, rheumatoid, dan hipotiroid, dia berpotensi 8,8 kali lebih besar mengalami autis.
Meski begitu, Ariani menegaskan bahwa anak dengan autis sangat mungkin beradaptasi di masyarakat. Utamanya jika diintervensi sedini mungkin sebelum usianya mencapai dua sampai tiga tahun. Salah satunya melalui intervensi terapi. Karena itu, orang tua sebaiknya mewaspadai beberapa gejala autis pada anak-anak agar nantinya proses penanganan lebih optimal. Beberapa gejala itu antara lain, jika anak mengalami gangguan perilaku, gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, gangguan kognitif, dan gangguan emosi.
Berdasar data yang dihimpun dari Poli Rehab Medik RSSA tahun 2021 sampai 2022, jumlah anak dengan autis yang melakukan terapi sebanyak 24 orang. Meliputi 9 pasien lama dan 15 pasien baru. Sebelum diberi terapi, pihak Instalasi Rehabilitasi Medik RSSA biasanya akan menentukan diagnosis fungsional dari anak autis. Sebab, setiap pasien memiliki permasalahan yang berbeda, sehingga penanganannya bervariasi. “Kebanyakan yang datang ke kami adalah anak dengan autis yang memiliki gangguan komunikasi. Ada yang datang awal, ada yang telat,” beber Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik RSSA, dr Dwi Indriani Lestari, SpKFR(K).
Nantinya, ada beberapa terapi yang diberikan ke anak autis. Mulai dari terapi perilaku, terapi sensori integrasi, terapi okupasi, dan terapi wicara. Namun, terapi melalui obat-obatan bukan pilihan pertama untuk anak autis. Terapi okupasi dilakukan untuk membantu anak autis menguasai keterampilan motorik halus dengan lebih baik. Terapi ini sekaligus membantu menguatkan dan memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot pada anak autis.
Sementara itu, terapi sensori integrasi dilakukan menggunakan aktivitas dan peralatan yang melibatkan fungsi sensorik dan motorik. Misalnya, berayun dan pijat. Terapi perilaku bertujuan untuk membentuk perilaku yang positif dan menghilangkan perilaku negatif, mengajari anak agar mau berinteraksi dengan sekelilingnya. Sedangkan terapi wicara digunakan untuk mengatasi masalah bicara, khususnya pada anak autis. Hal ini untuk meningkatkan kemampuan bicara dan mengekspresikan bahasa, baik verbal maupun nonverbal pada anak. (rb6/fat) Editor : Mardi Sampurno