Jika dilihat sepintas memang cukup mengerikan. Jarak antara rumah dengan rel KA hanya 75 centimeter saja. Padahal, jarak aman untuk mendirikan bangunan minimal enam meter dari perlintasan KA. Apalagi rel di sana masih aktif dilintasi KA pengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina.
Mulai kemarin (21/6), PT KAI Daop 8 Surabaya melakukan sosialisasi kepada warga yang masih menghuni bangunan liar tersebut.Mereka meminta 200 KK yang menjadi penghuni segera pindah. ”Secepatnya saja, demi keamanan dan tata ruang lebih bersih,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif.
Luqman menambahkan, ke depan, di sekitar lintasan kereta api yang panjangnya 1,3 kilometer itu bakal bebas bangunan liar. Lahan yang harus dibebaskan juga terbilang cukup luas. Sekitar 15.600 meter persegi. Dengan pembersihan itu, aset milik KAI juga lebih aman dari potensi klaim oleh pihak lain. ”Kami juga berkoordinasi dengan Polri, TNI, dan Pemkot Malang untuk membebaskan bangunan liar di sana,” imbuhnya.
Terkait kapan penggusuran dimulai, Luqman mengaku belum bisa memastikan.Pihaknya ingin ada sosialisasi lanjutan agar tidak ada gejolak di masyarakat.
Sementara itu, warga penghuni bangunan di sekitar rel tersebut hanya bisa pasrah. Misalnya Suyanti, mengaku sudah mendapat informasi rencana penggusuran sekitar dua hari yang lalu. Kini, perempuan yang selama ini menempati lahan berukuran 3 x 3 meter mulai mencari tempat tinggal lain.
“Paling ya balik ke tempat kelahiran saya saja,” ujar wanita asal Pamekasan itu.
Dia juga mendapat informasi bahwa penggusuran bakal dilakukan pada 18 Juli mendatang. Artinya, dalam sebulan ke depan dia bersama dua anaknya harus siap pindah. ”Sudah menjadi risiko,” ujar perempuan yang sudah 25 tahun menempati lahan tersebut dan mengaku telah mengalami perubahan hidup cukup signifikan. (adn/fat) Editor : Mardi Sampurno