Protes itu digelar bersamaan dengan diskusi kebangsaan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) UB. Sesuai jadwal, pihak kampus mengundang Zulkilfi Hasan (Zulhas), menteri perdagangan (Mendag) sekaligus ketua Partai Amanat Nasional (PAN). Karena Zulhas tidak hadir karena mendampingi Presiden RI Joko Widodo.
Perwakilan peserta aksi, M Nurcholis Mahendra menuturkan, meski Zulhas tidak hadir dalam acara tersebut, tapi mereka menganggap pihak kampus sudah memiliki rencana mengundang politisi ke kampus.
Mereka beranggapan keputusan mengundang Zulhas merupakan kampanye terselubung. ”Banyak mahasiswa yang resah karena politisi berdatangan ke UB. Kami mengamati dari beberapa hari lalu politisi datang ke sini (UB). Mulai dari Siti Nurbaya Bakar, Prabowo Subianto, dan sekarang Zulkifli Hasan,” terangnya.
Dia menambahkan, sosok Zulkifli Hasan yang belakangan ini melakukan tindakan kontroversial, semakin membuat mahasiswa menolak keberadaannya di lingkungan kampus. Diketahui beberapa waktu lalu, Ketua Umum PAN itu membagikan minyak goreng gratis dan meminta masyarakat yang datang memilih anaknya dalam kontestasi pemilu mendatang.
"Etikanya sebagai menteri sangat bermasalah dan sempat ditegur oleh bapak presiden. Kami antisipasi, tidak mau UB menjadi panggung politikus menuju 2024 sebagai ladang kampanye," tegas Nurcholis.
Sementara itu, Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari yang hadir sebagai pemateri diskusi kebangsaan tersebut menanggapi santai aksi mahasiswa. Menurutnya, aksi tersebut merupakan hal yang wajar. "Ya mahasiswa harus banyak protes," jawabnya singkat.
Ketika ditanya apa kegiatan diskusi kebangsaan merupakan tergolong kampanye, Hasyim menampik bahwa kegiatan itu termasuk kampanye. "Kampanye itu ngomong visi misi. Lalu, ada ajakan memilih tokoh. Intinya kampanye itu sarana memengaruhi orang untuk memilih dirinya," tandas Hasyim.(adk/dan) Editor : Mardi Sampurno