UPAYA Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam mengurai kemacetan tidak melulu dilakukan dengan cara membangun jalan. Dalam kondisi tertentu, pemerintah membangun jembatan layang atau flyover.
Mengurai kemacetan di sepanjang Jalan Ki Ageng Gribig hingga Jalan Mayjen Sungkono misalnya. Sebelumnya flyover Kedungkandang dibangun, simpang tiga yang menghubungkan Jalan Ki Ageng Gribig, Jalan Mayjen Sungkono, dan Jalan Muharto macet parah. Itu karena terjadi penurunan di kawasan pintu masuk Buring (lokasi dibangunnya jembatan Kedungkandang).
Ruas jalan di lokasi tersebut tidak mungkin dilebarkan. Untuk mengurai kemacetan di Jalur Lingkar Timur (Jalitim) tersebut, pemkot membangun jembatan layang atau flyover Kedungkandang. Mulanya, proyek ini dirancang pada 2012 lalu, tapi pengerjaan mangkrak selama bertahun-tahun. Kemudian pada 2020 lalu proyek tersebut dilanjutkan oleh Wali Kota Malang Sutiaji (selengkapnya baca grafis).
Setelah flyover rampung dan difungsikan, kemacetan di sepanjang Jalan Ki Ageng Gribig terurai. Demikian juga dua titik lain, yakni kawasan Jalan Muharto dan Jalan Mayjen Sungkono.
Selain di kawasan Kedungkandang, upaya pemerintah mengurai kemacetan dengan membangun jembatan terjadi di kawasan Tlogomas. Jembatan yang dibangun bernama ”Tunggulmas”. Beroperasinya Jembatan Tunggulmas ini disebut-sebut mampu mengurai 50 persen kemacetan. ”Sedikit mengurai, walaupun masih ada evaluasi,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Malang Handi Priyanto, Jumat lalu (12/8).
Khusus di kawasan Jembatan Tunggulmas, Handi upaya mengurai kemacetan arus lalu lintas juga melalui rekayasa lalin. Salah satunya memasang traffic light (TL). Untuk memasang TL di sana, Dishub Kota Malang berkoordinasi dengan Dishub Jatim.
Meski telah terpasang TL, kata Handi, pihaknya masih perlu melakukan pelebaran di mulut simpang agar memudahkan manuver kendaraan. Untuk masalah itu, pemkot perlu berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Jatim. ”Meski begitu, bisa dilihat sedikit mengurai kemacetan,” tegas pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.
Di tempat lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Diah Ayu Kusumadewi menjelaskan, sejumlah jembatan di Kota Malang memang menjadi salah satu pemecah kemacetan.
Tak hanya jembatan besar, kata Diah, namun jembatan kecil yang ada di perkampungan juga bisa jadi alternatif. ”Seperti yang ada di Jembatan Pelor dan Jembatan Balak. Keduanya ini kerap jadi alternatif untuk pengendara roda dua,” terangnya.
DPUPRPKP juga memberikan anggaran perawatan secara insidental untuk beberapa jembatan. Pada tahun ini, setidaknya ada Rp 3 miliar yang dianggarkan. Namun habis digunakan untuk perbaikan jalan. Meski demikian, pemkot menambah anggaran lagi sebesar Rp 40 miliar. ”Iya pada PAK (perubahan anggaran keuangan) ini ditambah segitu (Rp 40 miliar),” kata Diah. (adn/dan) Editor : Mardi Sampurno