Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bentuk Asli Gedung Dipertahankan

Mardi Sampurno • Rabu, 17 Agustus 2022 | 18:07 WIB
(nationaalarchief_nl)
(nationaalarchief_nl)
Tak ingin gedung pemerintahan Gemeente (Kota Madya) Malang (kini Balai Kota) dijadikan markas tentara Belanda di tahun 1947, para pejuang memilih menghancurkannya.

Bom-bom dipasang di sejumlah titik. Tak cukup dengan itu, mereka juga membakar gedung tersebut. Hasilnya, atap dan beberapa ruangan rusak. ”Cukup mengerikan jika membayangkan saat itu, atap dirusak sampai bolong dan ruangan dibakar,” kata Sejarawan Kota Malang Dwi Cahyono. 

Misi para pejuang pun terlaksana. Tentara Belanda yang saat itu ingin menduduki Kota Malang mulai kocar-kacir. Pasca kejadian tersebut, Dwi menyebut warga bumiputra kemudian menjaga gedung tersebut. 

Meski dulu sempat dirusak, Dwi menyebut bila Balai Kota Malang akhirnya kembali diperbaiki setelah Belanda angkat kaki. Bentuk bangunannya sengaja diperbaiki seperti semula, dan bertahan hingga sekarang. ”Beberapa gedung yang masih bisa digunakan direhab, seperti yang kita tahu saat ini,” kata dia. 

Bergeser ke Hotel Pelangi. Saat itu, hotel dengan 126 kamar tidur tersebut juga dibakar dan dibom para pejuang. Hasilnya, dua tower di hotel itu hancur. Jika menengok kondisi saat ini, dua tower itu sudah tidak tampak. ”Dulu saat dibangun ulang oleh pengusaha Banjarmasin membutuhkan biaya cukup besar, karena rusaknya kan parah,” kata Marketing Hotel Pelangi Arda Orbita. 

Arda menambahkan, saat tragedi itu para pejuang langsung mengarahkan serangan ke coffee shop hotel. Bukan tanpa alasan para pejuang menyasar Hotel Pelangi. Sebab hotel tersebut dulunya kerap dijadikan tempat pesta dan dansa warga-warga Belanda. Beranjak dari sana, para pejuang berusaha untuk mematikan gerak para tentara Belanda agar tidak menguasai Kota Malang kembali. Imbas dari peristiwa bumi hangus itu membuat bagian depan hotel harus dirombak. 

Saat ini, bagian depan hotel tersebut sudah menjadi lobby untuk menerima tamu. Meski demikian, pihak manajemen hotel tetap mempertahankan bentuk fisik semirip mungkin seperti dulu kala. ”Warna cat kami upayakan putih dan beberapa sudut ruangan juga sama,” tambah Arda. 

Hal serupa juga terjadi di SMAS Katolik Cor Jesu. Gedung di sana juga pernah dihancurkan pejuang. Saat ini, bentuk gedung tersebut sudah berubah. ”Dulu masih dua lantai, sekarang hanya satu lantai,” kata Kepala SMAS Katolik Cor Jesu Agatha Ariantini. Meski begitu, Agatha menyebut bila ornamen di bagian depan gedung tak mengalami perubahan. Cat berwarna cokelat masih dipertahankan. Bila melihat foto, bentuk bangunan dulu dan saat ini memang tak jauh berbeda. (adn/by) Editor : Mardi Sampurno
#balai kota malang #SMAS Katolik Cor Jesu #Hotel Pelangi malang #Bangunan Belanda Kota Malang