MALANG KOTA – Selama sembilan bulan terakhir, sekitar 4.594 pelanggan Perumda Tugu Tirta (PDAM Kota Malang) di Kecamatan Kedungkandang benar-benar diuji kesabarannya. Setiap bulan selalu ada momen air PDAM tak mengalir karena pipa transmisi di Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, jebol. Pemkot Malang akhirnya memutuskan untuk menggunakan air permukaan sebagai alternatif pengganti bahan baku dari Sumber Pitu yang sering bermasalah.
Seperti diketahui, ketergantungan Tugu Tirta terhadap Sumber Pitu sangat tinggi. Bahkan 100 persen bahan baku air untuk pelanggan di Kecamatan Kedungkandang diambil dari sumber air itu. Yang jadi masalah, Sumber Pitu terletak di wilayah Kabupaten Malang. Konflik yang terjadi antara Tugu Tirta dengan Tirta Kanjuruhan (PDAM Kabupaten Malang) beberapa waktu sempat membuat pasokan air ke Kedungkandang macet total.
Saat ini memang sudah terjadi ”perdamaian” antara Tugu Tirta dengan Tirta Kanjuruhan. Air ke pelanggan PDAM di Kedungkandang juga sudah mengalir, meski belum sepenuhnya normal. Namun Tugu Tirta tidak mau terus bergantung ke Sumber Pitu. Pilihannya adalah memanfaatkan air sungai sebagai bahan baku, meski harus dilakukan penjernihan terlebih dulu.
”Sudah ada tiga titik air permukaan yang bisa dijadikan bahan baku air PDAM. Seperti di Sungai Brantas, Rolag (Kali Amprong), dan Sungai Bango. Ketiganya bisa jadi alternatif sumber air,” kata Wali Kota Malang Sutiaji.
Pria yang juga menjadi kuasa pemilik modal (KPM) Perumda Tugu Tirta itu menyebut pemanfaatan sungai bisa mengaliri kawasan Buring Atas dan Bawah dengan debit 1.500 liter per detik. Pihaknya pun menarget satu titik air permukaan bisa difungsikan mulai tahun depan. Mengingat tiga tandon sistem penyediaan air minum (SPAM) sudah dibangun bertahap sejak 2018 lalu.
Namun untuk menjadikan tiga air permukaan sebagai bahan baku PDAM butuh anggaran besar. Menurut Sutiaji, pembangunan satu titik pengolahan air permukaan bisa menyedot dana Rp 175 miliar hingga Rp 200 miliar. Duit sebesar itu digunakan untuk peningkatan tenaga listrik hingga alat pengolahan air permukaan supaya layak minum. ”Kalau pakai APBD nggak kuat. Nanti saya minta Tugu Tirta pinjam ke Kementerian Keuangan sebagai investasi,” bebernya.
Sutiaji juga sudah menghitung bahwa alternatif itu bisa menjamin kontinuitas pasokan air hingga 50 tahun. Artinya, tiga air permukaan itu bisa tahan hingga 2073. Pada tahun itu, pompa harus diganti. Begitu juga kemungkinan debit air bisa menurun lantaran penyusutan lahan. ”Itu prediksi kami,” imbuh suami dari Widayati itu.
Hal yang sama diungkapkan Direktur Utama (Dirut) Perumda Tugu Tirta M. Nor Muhlas. Dia menjelaskan, pemanfaatan air permukaan bisa jadi solusi jangka panjang. Terutama untuk optimalisasi sistem penyediaan air minum (SPAM) yang sudah ada di tiga titik. ”Rekayasa jaringan air ke depan bisa lebih banyak. Mengingat kami tak bisa selamanya bergantung ke Sumber Pitu,” tegasnya.
Pria yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang periode 2004-2009 itu menambahkan, penentuan air permukaan masih menunggu rekomendasi dari KPM. Namun untuk jangka pendek, pihaknya memilih mengalirkan air dari Tandon Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, ke Tandon Buring Tengah. Dengan begitu, beberapa waktu ke depan krisis air yang mengancam Kecamatan Kedungkandang bisa teratasi.
Menanggapi rencana itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Trio Agus Purwono menegaskan opsi memanfaatkan air permukaan memang harus diambil. Menurutnya, keputusan itu sebenarnya terlambat, mengingat di daerah lain seperti Surabaya bisa memanfaatkan air permukaan. ”Mungkin cuma di Kota Malang pengelolaan air seribet ini. Apalagi kita melihat wilayah Buring Atas juga sulit mendapat pasokan air,” tutur Trio.
Menurut Trio, mengandalkan air dari Sumber Pitu sangat berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari. Pipa transmisi bisa jebol setiap waktu dan mengancam pasokan air pelanggan di lima kelurahan. Yakni Arjowinangun, Wonokoyo, Tlogowaru, Kedungkandang, dan Buring.
Soal anggaran untuk pemanfaatan air permukaan, legislator asal PKS itu menyarankan Tugu Tirta bisa memakai jasa pihak ketiga atau swasta. Dengan cara itu, pengadaan pompa hingga pemasangan pipa bisa lebih mudah. Pelayanan ke pelanggan pun lebih optimal. ”Nanti sistemnya bisa membayar jasa yang dikeluarkan pihak ketiga. Kalau menunggu penganggaran tiap tahun jelas susah,” tegasnya.
Pelanggan Terus Mengeluh
Sementara itu, pelanggan PDAM Kota Malang di Kecamatan Kedungkandang sudah Sambungan dari hal 1 "Iya, pelaku sudah ditangkap 4 hari setelah kejadian pencurian di area makam umum di Kecamatan Dau. Saat ini masih kami dalami kasusnya," kata Kapolres Malang melalui Polsek Dau Kompol Triwik Winarni, Selasa (20/9) kemarin. Penangkapan bermula saat adanya laporan dari masyarakat bahwa ada pencurian kotak amal di salah satu musala. Warga melapor bahwa sebelum kejadian memang ada pria mondar-mandir di area musala. "Saat kami minta keterangan beberapa warga, katanya ada yang mengetahui pelaku ini bolak balik di sana sehabis isyak," kata Triwik. Namun, imbuh Triwik, warga tidak curiga sama sekali jika pria itu memiliki niat jahat. Sehingga warga acuh atas keberadaan pria tidak dikenal. "Tak lama kemudian, warga mendengar suara pecahan benda keras seperti bunyi congkelan di musala akhirnya beberapa warga keluar," kata Triwik. Mengetahui aksinya diketahui warga, LU langsung melarikan diri dan sepeda motor miliknya beserta tas berisi linggis tertinggal di TKP. "Kejadian itu sekitar pukul 23.00 WIB. Atas barang bukti yang ada, kami melakukan pendalaman dan berhasil mengamankan LU, pada hari ini Senin, tanggal 19 September 2022 sekitar pukul 02.00 WIB di dalam area pemakaman umum Dau," tambah Triwik. Selanjutnya petugas mendatangi makam tersebut untuk menghampiri lelaki yang ciri-cirinya persis dengan pelaku, "Setelah kami interogasi, orang tersebut mengakui sebagai pelaku tindak pidana pencurian kotak amal" sambungnya. Atas kejadian ini petugas berhasil mengamankan barang bukti yang digunakan untuk melancarkan aksinya yakni 1 buah linggis sepanjang 60 cm, 1 unit sepeda motor, 1 tas berwarna hitam dari pelaku, dan 1 buah kotak amal beserta isinya. Kini pelaku sudah diamankan di Mapolsek Dau dan dilakukan penyidikan tuntas. Atas perbuatannya, LU dijerat dengan pasal 363 Jo pasal 53 ayat 1 KUH Pidana, tentang pencurian dengan pemberatan. (nif/abm) Gagal Jarah Kotak Amal, Motor Pelaku Tertinggal Sambungan dari hal 1 Hasilnya, Made menyebut bila pemkot tetap optimistis bisa menuntaskannya selama tiga bulan. Meski begitu, kalangan dewan tetap berharap proyek tersebut ditunda demi menghindari konflik. Legislator dari PDI Perjuangan itu khawatir jika proyek dipaksakan, rekanan atau kontraktor yang memenangkan proyek bisa mengalami kerugian. ”Takutnya bukan memperindah, malah merusak wajah alun-alun itu sendiri,” tutur Made. Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji mengaku masih menimbang pilihan tersebut. Pihaknya yang sebelumnya bersikukuh tetap memugar pagar bisa sedikit melunak. Mengingat solusi yang ditawarkan DPRD juga cukup berdasar. ”Secepatnya kami putuskan, mengingat momen PAK (perubahan anggaran keuangan) juga belum disahkan,” jelas pemilik kursi N1 itu. Tak hanya itu, opsi melakukan pemugaran pagar di tahun depan kemungkinan bakal dipilih pemkot. Mengingat waktu tiga bulan ke depan juga tidak memungkinkan untuk dilakukan pemugaran. Sebagai perbandingan, pemkot melihat proses pengerjaan pedestrian di zona tiga Kajoetangan Heritage, yang butuh waktu lima bulan. ”Nanti kami ajak dewan ngobrol lagi, bagaimana enaknya,” tandasnya. (adn/by) Maju Mundur Renovasi Pagar Alun-Alun sangat akrab dengan kasus air mampet. Misalnya di Kelurahan Wonokoyo yang kembali tidak mendapat pasokan air sejak kemarin. Mereka menyayangkan masalah yang sudah sangat lama itu tidak segera mendapat solusi.
”Dalam sebulan, aliran air mati sekali sampai dua kali. Rutin, kalau tidak di awal ya di akhir bulan,” kata Yuni Aditya Pratama, warga Jl Kalisari, Kelurahan Wonokoyo,
Perempuan pemilik usaha laundry itu menjelaskan, biaya PDAM yang dia keluarkan setiap bulan sekitar Rp 100 ribu. Meski air PDAM sering kali mampet, pihak Perumda Tugu Tirta tidak pernah memberikan dispensasi. Saat air dalam kondisi tidak mengalir, dia juga mengeluhkan sikap Perumda Tugu Tirta yang tidak merespons ketika dihubungi.
Hal yang sama dikeluhkan Sofia, warga Wonokoyo RT 05/ RW 01, Dia mengatakan bahwa dalam sebulan aliran air selalu mampet sekali atau dua kali tanpa ada dispensasi. Padahal kalau pelanggan terlambat membayar tagihan selalu kena denda. ”Setiap bulan tagihan air saya sekitar Rp 58.000,” ujarnya.
Yang juga dikeluhkan warga, akhir-akhir ini tidak ada pemberitahuan dari Tugu Tirta ketika akan terjadi gangguan pasokan air. Misalnya yang diungkapkan Endy Suryani, pelanggan yang tinggal di Perumahan D’Rich Garden, Kelurahan Kedungkandang. ”Bulan ini air mampet hampir setiap hari. Seperti Senin lalu, waktu Asar mampet, Magrib mengalir lagi. Tanpa pemberitahuan,” terangnya.
Endy juga menyayangkan sikap Tugu Tirta yang tidak memberikan dispensasi ketika aliran air tidak lancar. Dia mengakui, memang ada pasokan air dari truk tangki yang dikirim Tugu Tirta. Namun hal itu jelas tidak cukup. ”Saya setuju saja kalau ada alternatif bahan baku air selain dari Sumber Pitu. Yang penting bersih, layak, dan alirannya lancar,” imbuhnya. (adn/cr2/fat) Editor : Mardi Sampurno