Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Anak-Anak ”Spesial” dengan Perawatan Spesial

Mardi Sampurno • Selasa, 23 Agustus 2022 | 20:03 WIB
BUTUH KASIH SAYANG: Anak-anak yang tinggal di Yayasan Peduli Kasih Kisah Nyata dan Jeritan Hati (KNDJH) di Jalan Muharto Gang 5 Nomor 36, Kelurahan Kotalama terlihat begitu nyaman. Para pengurus yayasan begitu sabar dan telaten memberikan perawatan kepada
BUTUH KASIH SAYANG: Anak-anak yang tinggal di Yayasan Peduli Kasih Kisah Nyata dan Jeritan Hati (KNDJH) di Jalan Muharto Gang 5 Nomor 36, Kelurahan Kotalama terlihat begitu nyaman. Para pengurus yayasan begitu sabar dan telaten memberikan perawatan kepada
MALANG KOTA – Riuh rendah anak-anak mulai memenuhi kantor Yayasan Peduli Kasih Kisah Nyata dan Jeritan Hati (KNDJH) di Jalan Muharto Gang 5 Nomor 36, Kelurahan Kotalama, kemarin sore (22/8). Satu per satu anak mulai masuk sembari menyalami sekretaris KNDJH Ita Purnamasari. Maklum, mereka baru saja tiba dari mengaji. 

Tak lama kemudian, masuk seorang bocah lelaki berusia empat tahun. Sambil meraba-raba, dia melepaskan sepatu yang dikenakannya. Seperti kawan-kawannya yang lain, bocah lelaki itu juga turut menyalami Ita dan dua wartawan Jawa Pos Radar Malang yang tengah berbincang. “Namanya Azril. Dia anak yang saya ceritakan sebelumnya. Satu dari tiga anak berkebutuhan khusus yang kami rawat di sini,” kata Ita yang kemudian mengajak Azril untuk duduk di pangkuannya. 

Selain Azril, ada dua anak lainnya. Mereka adalah Arkam, anak dengan celebral palsy (kelumpuhan otak) dan Abdurrahman yang lahir dengan hidrosefalus (penumpukan cairan berlebih dalam otak). 

Beberapa saat kemudian, hadir Nur Miftahul Jannah. Siapa yang tak kenal Miftahul? Dia adalah ‘ibu’ dari 67 anak-anak sekaligus pendiri yayasan yang berlokasi di Jalan Muharto Gang 5 Nomor 36, Kelurahan Kotalama itu. Sudah delapan tahun dia hidup bersama anak-anak angkatnya. Kepada koran ini, Miftahul lantas menceritakan awal perjumpaannya dengan ketiga bocah tersebut. 

“Setiap anak memiliki kisah yang berbeda-beda. Termasuk tiga anak ini. Pertama kali, saya bertemu dengan Azril, sekitar awal tahun 2018,” ujar Miftahul mengawali ceritanya. 

Kala itu, Azril masih seorang bayi berusia 7 bulan. Dia dijemput Miftahul langsung dari Jakarta setelah mendengar bahwa orang tua kandung Azril tidak mengharapkan keberadaannya. Ini karena dia lahir dalam kondisi low vision atau gangguan penglihatan yang ditandai dengan penurunan penglihatan yang tajam dan tidak dapat disembuhkan meski menggunakan alat bantu seperti kacamata. 

“Setelah dibawa ke Malang, kami periksakan ke Malang Eye Center (MEC). Oleh dokter, dia divonis menderita low vision. Saat diperiksakan, dokter mengatakan kesempatan untuk bisa melihat hanya 5 persen. Namun, seiring berjalannya waktu meningkat jadi 35 persen,” lanjutnya. 

Padahal, Miftahul tak pernah mendorong Azril untuk mengikuti terapi khusus. Dia menduga, lingkungan sekitar Azril yang ramai menuntut sang bocah untuk beradaptasi. Sehingga perlahan-lahan, bocah 4 tahun itu mampu mengenal warna, benda-benda, kawan-kawan, hingga lingkungan di sekitarnya. 

“Bahkan, dia hapal dan bisa naik ke lantai atas. Namun, semisal keluar memang harus tetap diawasi oleh para pengasuh agar tidak membahayakan keselamatannya. Karena rasa penasarannya tinggi. Pernah waktu itu dia kira cahaya, ternyata api dari kompor,” ucap Miftahul. 

Miftahul dan Ita lalu mengajak jurnalis Jawa Pos Radar Malang untuk singgah ke lantai dua. Keduanya memperkenalkan dua bocah yang berbaring di boks bayi. Mereka adalah Abdurrahman serta Arkham. 

Tak jauh berbeda dengan Azril, Abdurrahman pun dirawat Miftahul karena kedua orang tuanya tidak mengharapkan bocah berusia 2 tahun tersebut. Miftahul menjemput langsung Abdurrahman dari salah satu rumah sakit di Bali. “Jadi bapak dan ibunya masing-masing menikah lagi. Keduanya tidak berkenan mengurus Abdurrahman karena dia lahir dengan hidrosefalus,” imbuhnya. 

Oleh orang tuanya, Abdurrahman sebenarnya pernah mau dititipkan ke sejumlah panti asuhan. Namun, tidak ada yang mau menerima karena kondisi anak dengan hidrosefalus yang memerlukan biaya perawatan besar. Terlebih lagi perlu penanganan ekstra. Bahkan, Miftahul mencatat Abdurrahman sudah pernah melakukan dua kali operasi pemasangan selang. 

“Sampai sekarang pun cairan pada otaknya masih harus kami sedot. Hal ini dilakukan agar kepalanya tidak semakin membesar. Setiap bulan, dia harus terapi. Tapi kalau kondisinya ngedrop, satu minggu bisa satu kali kontrol,” tutur wanita kelahiran Kota Malang tersebut. 

Dan yang terakhir adalah Arkham Bariklana. Jika dua bocah lain berlatar belakang tidak diharapkan oleh orang tua, Arkham lahir sebatang kara. Saat ditemukan tahun 2021, bocah asal Nganjuk itu baru saja kehilangan ibunya yang meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Nganjuk. 

Pada waktu sang ibu koma, Miftahul datang menjemput Arkham. Kebetulan, aparat desa tempat Arkham tinggal setuju jika Miftahul merawat anak tersebut. Satu hari berselang usai proses penjemputan, mereka menerima kabar jika ibu Arkham menutup mata untuk selama-lamanya. 

Meskipun punya 3 anak berkebutuhan khusus, Miftahul tak lantas abai dengan keberadaan 64 anak-anak lainnya. Apalagi, wanita yang dulunya pernah menjadi pekerja migran di Hongkong itu juga mengurus 23 lansia terlantar di panti jompo miliknya di Wonokoyo. (mel/abm) Editor : Mardi Sampurno
#anak berkebutuhan khusus #yayasan anak berkebutuhan khusus #Yayasan Peduli Kasih Kisah Nyata dan Jeritan Hati (KNDJH) #Kota Malang