Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Leles Buah-buahan di Pasar, Tiap Hari Tebar 60 Kg

Mardi Sampurno • Rabu, 31 Agustus 2022 | 23:35 WIB
BUAH HASIL LELES: Relawan membagikan buah ke monyet. Foto kiri, Kusno Witanjoyo (tengah) bersiap membawa buah-buahan untuk dibawa ke Taman Wisata Wendit, Senin (29/8). (Kusno Witanjoyo for RADAR MALANG)
BUAH HASIL LELES: Relawan membagikan buah ke monyet. Foto kiri, Kusno Witanjoyo (tengah) bersiap membawa buah-buahan untuk dibawa ke Taman Wisata Wendit, Senin (29/8). (Kusno Witanjoyo for RADAR MALANG)
Jam menunjukkan pukul 14.00, Senin (29/8). Pemilik toko buah di Pasar Blimbing, Marlinda sedang menyortir buah untuk diberikan pada Kusno dan tiga kawannya. Tak berselang lama, Kusno dan kawan-kawan tiba untuk mengambil buah sortiran itu. Sambil menanti waktu berangkat, pria berusia 55 itu menceritakan asal mula gerakan tersebut.

“Itu dimulai dari saya dapat kabar ada monyet yang mati kesetrum di sebuah grup WhatsApp ”Bangkitnya Malang Kucecwara” pada 27 Juli 2022,” terang dia. Kabar yang dia terima, ada salah satu monyet dari Taman Wendit mati kesetrum di tepi jalan sebelah barat sebuah Indomaret Wendit Timur. Ditengarai, kera itu keluar area wisata karena untuk mencari makan. Disinyalir monyet-monyet itu kelaparan karena jatah yang diberikan pengelola wisata tidak cukup.

Namun demikian, dia sendiri tidak dapat memastikan bahwa itu betul atau tidak beritanya. Tetapi, dari sana, nuraninya bergerak. Dia langsung mencari buah-buahan sisa di pasar dan langsung diberikan ke monyet di area wisata. Ada pisang, jeruk, jambu atau sayur berupa timun. Istilah dalam bahasa Jawa-nya adalah ngeleles, atau mencari dan meminta buah sisa dagangan pedagang di pasar. Tentunya, yang masih layak, tidak busuk atau terlalu lembek. Kemudian tanggal 30 Juli, melalui komunikasi di grup WhatsApp, kemudian beberapa orang dalam grup itu ikut bergabung. ”Tanpa wacana langsung bergerak, pas itu ada beberapa yang ikut,” imbuh dia.

Karena judulnya berawal dari ngleles buah, beberapa orang yang tergerak hatinya ikut mengambil buah sisa itu. Meski buah sisa, namun kondisinya masih layak untuk dimakan hewan. Hasil inisiatif gerakan Kusno ini mendapat respons bagus. Sejumlah orang yang punya kepedulian serupa menghubunginya. Apalagi, ada kasus lagi terkait monyet kelaparan dan membawa anaknya sampai ke Pasar Pandanwangi. Dari sini, pada 6 Agustus 2, gerakan ini sudah memiliki grup WhatsApp dengan anggota grup terbaru ada 17 orang. “Latar belakangnya bermacam-macam, ada juga yang petugas kebersihan pasar, ada yang pekerja kantor,” kata Kusno.

Dari anggota tersebut, ada juga yang awalnya takut dengan monyet. Namun lama-lama tidak tidak takut lagi. Untuk makanan yang diberikan, jumlahnya tidak pasti. Rata-rata 60 kg buah per hari. Setidaknya ada dua kantong plastik besar yang dibawa. Semua berisi buah-buahan yang didapatkan dari pasar. Tapi tidak semuanya langsung diberikan. Seperti pada saat Jawa Pos Radar Malang mengikuti tahap awal sebelum eksekusi hari Senin, kurang lebih 85 kilogram buah yang terdiri dari pisang, jambu dan tomat tiba di tempat kumpul. Semuanya melalui proses sortir terlebih dahulu sebelum diberikan. Tetapi, mereka hanya punya waktu 30 menit untuk memberikan makan. “Kami biasa mulai 14.30, pukul 15.00 taman sudah tutup,” ucap dia

Dengan hati-hati dan lembut, semua buah itu langsung habis dalam waktu yang terbatas tersebut. Hari itu, ada empat anggota gerakan yang ikut. Tapi jumlah itu bisa berubah tergantung dari kondisi relawannya. Dia tidak memperkenankan gerakan kepedulian tersebut mengganggu urusan keluarga dan pekerjaan. Jadi, setidaknya dua orang sudah berkumpul, maka bisa berangkat. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#Taman Wendit #pasar blimbing #pemanfaatan buah leles #ngleles buah