“Jadi, baru ter-detect kalau ada (pemeriksaan) masalah penglihatan. Kadang anaknya tidak merasa ada keluhan,” ujar Sub Koordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Malang Sri Wahyuni, kemarin. “Hal itu bisa jadi karena penggunaan gadget. Kemudian, tuberculosis (TBC) juga,” tambahnya.
Dia mengatakan, ada beberapa bentuk pemeriksaan kesehatan. Yakni, skrining yang ditujukan untuk siswa baru meliputi kelas 1 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA.
Selain itu, katanya, ada pelayanan kesehatan pada usia pendidikan dasar bagi siswa-siswi di tingkat SD-SMP yang dilakukan berkala. “Untuk tahun 2022, skrining dilakukan pada tahun ajaran baru 2022- 2023,” terang Sri.
Proses skrining, lanjut Sri, biasanya dilakukan bersamaan dengan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Nasional). Pelaksanaannya sekitar Agustus-Desember. Sementara pemeriksaan berkala selama satu tahun ajaran. ”Tapi selama Covid-19, kami tidak bisa terjun melakukan pemeriksaan. Melainkan menggunakan google form yang disebar melalui UKS,” imbuhnya.
Namun, selama pandemi siswa-siswi SMA yang terjaring pemeriksaan lebih sedikit dibandingkan SD dan SMP. Sebab, banyak dari mereka yang kurang terpantau mengisi google form. Berbeda dengan siswa-siswi SD atau SMP yang dipantau oleh orang tua serta guru.
Selain dinkes, pelaksanaan pelayanan kesehatan juga dibantu oleh dinas pendidikan bagi SD dan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang untuk madrasah. Bagi siswa-siswi di SMA/SMK mengikuti dinas pendidikan di tingkat provinsi. “Target standar pelayanan minimal (SPM) 100 persen untuk sekolah yang melakukan skrining,” ujarnya.
Di samping pemeriksaan, ada pula pelayanan kesehatan remaja. Hal itu dilakukan di wilayah masing-masing melalui puskesmas jika ada anakanak yang mengeluhkan sakit. (mel/dan) Editor : Mardi Sampurno