Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Butuh Tiga Pekan untuk Sehelai Batik Organik

Mardi Sampurno • Jumat, 30 September 2022 | 03:18 WIB
BATIK SINGO EDAN: Perajin batik tulis organik di Kecamatan Kedungkandang membubuhkan pewarna alami pada kain yang sebelumnya telah diolah. (DARMONO/RADAR MALANG)
BATIK SINGO EDAN: Perajin batik tulis organik di Kecamatan Kedungkandang membubuhkan pewarna alami pada kain yang sebelumnya telah diolah. (DARMONO/RADAR MALANG)
MALANG KOTA- Jumlah perajin batik yang memanfaatkan pewarna alami tampaknya terus bertambah. Seperti ditunjukkan sejumlah perajin batik di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Bahan-bahan alami seperti daun indigo, kayu secang hingga kayu mahoni dimanfaatkan mereka untuk menghasilkan batik tulis. ”Sekali celup saja bisa menghabiskan 10 kilogram bahan-bahan organik itu,” kata Abdul Fatah, Desainer Batik Tulis Organik.

Bahan organik sengaja dipilih karena memiliki kesan yang lebih elegan. Mengingat perpaduan warna seperti hijau hingga merah mampu mereka buat dari bahan-bahan tersebut. Sayangnya, masih sedikit jumlah perajin di Batik Tulis Organik, Kedungkandang. Tercatat hanya ada empat orang yang bertugas mencanting. Fatah sendiri bertugas mendesain sejumlah motif batik. 

Photo
Photo
PROSESNYA PANJANG: Perajin membubuhkan pewarna alami darI sejumlah bahan. Seperti daun indigo, kayu secang dan kayu mahoni. (DARMONO/RADAR MALANG)

Untuk mengerjakan satu kain batik sepanjang 2,5 meter, Fatah dan timnya bisa menghabiskan waktu kurang lebih tiga pekan. Waktu yang cukup lama itu dibutuhkan karena kain yang disiapkan juga khusus. Jika pembuatan batik dengan pewarna buatan, kain tinggal dibubuhi pewarna saja. ”Kalau pakai bahan alami, sebelum decanting kain harus direndam di air selama satu hari satu malam. Tujuannya saat pewarnaan pori-pori kain terbuka,” jelas pria berusia 51 tahun itu. 

Dengan begitu, warna yang menempel di kain bisa tahan lama dan merekat dengan baik. Teknik itu dia ketahui karena Fatah sudah menggunakan metode pewarnaan alami mulai 2015. Selama proses belajar, beberapa kali dia mengalami kegagalan. Dari kegagalan itu lah Fatah tahu bahwa pori-pori kain harus terbuka terlebih dahulu sebelum dibubuhi pewarna alami. 

Bahan organik yang dihabiskan mencapai 10 kilogram itu bisa digunakan untuk tiga sampai tujuh kain batik. Tak jarang, beberapa pembeli datang ke sana untuk memesan motif dan warna khusus. (adn/by) Editor : Mardi Sampurno
#batik khas malang #Kota Malang #Pengrajin Batik #batik singo edan