Bahan organik sengaja dipilih karena memiliki kesan yang lebih elegan. Mengingat perpaduan warna seperti hijau hingga merah mampu mereka buat dari bahan-bahan tersebut. Sayangnya, masih sedikit jumlah perajin di Batik Tulis Organik, Kedungkandang. Tercatat hanya ada empat orang yang bertugas mencanting. Fatah sendiri bertugas mendesain sejumlah motif batik.
Untuk mengerjakan satu kain batik sepanjang 2,5 meter, Fatah dan timnya bisa menghabiskan waktu kurang lebih tiga pekan. Waktu yang cukup lama itu dibutuhkan karena kain yang disiapkan juga khusus. Jika pembuatan batik dengan pewarna buatan, kain tinggal dibubuhi pewarna saja. ”Kalau pakai bahan alami, sebelum decanting kain harus direndam di air selama satu hari satu malam. Tujuannya saat pewarnaan pori-pori kain terbuka,” jelas pria berusia 51 tahun itu.
Dengan begitu, warna yang menempel di kain bisa tahan lama dan merekat dengan baik. Teknik itu dia ketahui karena Fatah sudah menggunakan metode pewarnaan alami mulai 2015. Selama proses belajar, beberapa kali dia mengalami kegagalan. Dari kegagalan itu lah Fatah tahu bahwa pori-pori kain harus terbuka terlebih dahulu sebelum dibubuhi pewarna alami.
Bahan organik yang dihabiskan mencapai 10 kilogram itu bisa digunakan untuk tiga sampai tujuh kain batik. Tak jarang, beberapa pembeli datang ke sana untuk memesan motif dan warna khusus. (adn/by) Editor : Mardi Sampurno