Bendera hitam berlogo helm dipadu dengan senjata dan pena dari bulu ayam terpajang rapi di sudut Museum Brawijaya. Di bawah logo itu, tersemat tulisan TRIP atau Tentara Republik Indonesia Pelajar. Di HUT ke-77 TNI, Jawa Pos Radar Malang kembali menilik jejak sejarah di museum militer ini untuk jadi bahan edukasi.
Setidaknya ada 1.640 peninggalan sejarah TNI masih tersimpan rapi di sana. Mulai senjata api, baju pejuang, hingga berbagai foto bisa disaksikan pengunjung. Namun memang ada satu benda dari sisa pejuang TRIP yang menarik perhatian mata pengunjung.
Kepala Museum Brawijaya Letda Supriono menjelaskan benda berupa bendera dan baju dari para pejuang TRIP masih disimpan rapi. Baju tentara pelajar yang didominasi usia 13-16 tahun itu memang jadi daya tarik untuk pengunjung.
“Sebab beberapa barang dari pejuang TRIP ini punya kisah unik, terutama ciri khasnya serba hitam,” jelasnya.
Supriono mengatakan, warna hitam digunakan karena pakaian yang dimiliki kala itu hanya warna hitam. Bahkan baju perang itu merupakan hasil rampasan perang di pabrik tekstil ketika berjuang di Surabaya. Baju itu juga menjadi saksi sejarah saat pertempuran TRIP meletus di Jalan Salak pada 22 Juli 1947 silam.
Tak hanya itu saja, museum militer satu-satunya di Kota Malang itu juga menyimpan sejumlah senjata yang dibuat dari tangan pejuang kemerdekaan. Uniknya, bahan yang digunakan ala kadarnya. Masih tersimpan mortir dengan ukuran 50 milimeter dan 90 milimeter dari tiang listrik.
“Senjata itu baru kami ketahui bahannya setelah diceritakan sama salah satu pejuang, dan memang unik memakai tiang listrik,” beber Supriono. Mortir berwarna hitam punya riwayat dibuat di Mrican, Kediri. Semua koleksi yang dimiliki Museum Brawijaya itu terus bertambah sejak diresmikan pada 1968. Bahkan ada satu galeri besar berisi foto dan biografi Jenderal Mayor TKR (Tentara Keamanan Rakyat) HR Mohammad Mangoendiprodjo.
“Kebetulan itu disumbang langsung dari cucunya, Indroyono Soesilo,” imbuh Supriono.
Terkait jumlah pengunjung Museum Brawijaya, Supriono menyebut ada peningkatan setelah pandemi mereda. Kini, rata-rata per hari ada 50 pengunjung. Dia cukup senang, mengingat museum jadi tempat belajar tentang nasionalisme.
Pihaknya pun mau memberikan penjelasan satu demi satu koleksi benda museum yang dimiliki. Peninggalan yang ada di museum militer jangan sampai tidak diketahui masyarakat. Sebab benda yang terpajang memiliki cerita perjuangan.
Sejarah pada masa lalu yang masih terekam di sana bisa jadi bahan renungan. Bagi Supriono, pesan pejuang di masa lalu sudah cukup jelas. Ingin bangsa ini maju dari usaha Bumiputera. “Maka di HUT ke-77 TNI jadi momen untuk masyarakat mengenal sejarah lagi, supaya paham bagaimana NKRI bisa bertahan,” tegas Supriono. (adn/abm) Editor : Mardi Sampurno