Pimpinan Pondok Pesantren Sabiilur Rosyad, Gasek itu juga berharap kepada masyarakat tidak terprovokasi dengan kabar burung terkait tragedi Kanjuruhan. Terutama informasi yang menyudutkan satu pihak tanpa ada dasar bukti yang kuat. Sebab dari kasus itu ada pelajaran penting bahwa sikap kesatuan dan persatuan harus dijunjung lagi atas nama kemanusiaan.
Di sisi lain, dosen UIN Malang itu juga mendorong pemerintah dan kepolisian untuk mengusut tuntas siapa yang harus bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Penyembuhan korban luka-luka yang dirawat di rumah sakit harus didahulukan. Selain itu, PWNU juga memberikan santunan ke keluarga yang menjadi korban tragedi tersebut.
”Iya kami bantu sedikit dan jangan sampai kejadian itu (kerusuhan) terulang lagi di kemudian hari,” tutur Marzuki.
Di tempat lain, salah satu Aremania Dadang Indarto menjelaskan kejadian Sabtu malam lalu menjadi pukulan telak bagi semua masyarakat. Maka dari itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat ikut berdoa bersama.
”Nanti pas hari ketujuh kita juga lakukan salat gaib di Stadion Kanjuruhan,” kata Dadang.
Dadang juga berharap ke depan Aremania atau masyarakat lain untuk tetap tenang. Terutama menyikapi informasi yang belum tentu kebenarannya. Sebab proses penyelesaian seperti penyidikan yang dilakukan Polri masih berlangsung.
Tak hanya itu saja, deadline dari Aremania terkait tujuh hari harus ada penyelesaian tetap didorong. Ratusan penonton yang menjadi korban tragedi juga perlu keadilan. Maka dari kasus itu Dadang ingin siapa pun yang nanti bersalah harus bertanggung jawab.
”Kami juga akan bantu dari dokumentasi yang kami miliki,” tandas Dadang. (adn/abm) Editor : Mardi Sampurno