MALANG KOTA – Cahayu Nur Dewata merupakan salah satu korban tragedi Kanjuruhan yang akhirnya bisa pulang ke rumah. Namun kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa bagian tubuhnya sulit digerakkan. Bahkan remaja berusia 16 tahun itu kehilangan banyak ingatan.
Saat Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke rumahnya di Jalan Pulau Galang Nomor 2, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Cahayu sedang berbaring di atas tempat tidur. Dia ditemani ibunya, Nurul Laily Trilestari. Tangan kirinya sulit untuk digerakkan jika tidak dibantu atau ditopang. Meski bisa bangkit dan berjalan, Cahayu harus diawasi agar tidak jatuh secara tiba-tiba.
Nurul menceritakan, pada 1 Oktober lalu, Cahayu pamit kepada kakaknya untuk menonton Arema FC melawan Persebaya. Ini bukan kali pertama dia menyaksikan klub berjuluk Singo Edan bertanding. Sejak SMP Cahayu rajin memberikan dukungan kepada para pemain Arema dari tribun.
Hari itu dia pergi tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Itu dia lakukan karena sempat dilarang pergi menonton pertandingan dengan aroma rivalitas yang sangat tinggi tersebut. “Waktu itu hanya pamit ke kakaknya. Kemudian berangkat ke stadion bersama tiga temannya. Salah satunya Najwa Zalfa Abdillah yang merupakan teman SMP-nya,” terang Nurul.
Bersama teman-temannya, Cahayu duduk di tribun 12. Dia dan Najwa sempat mengambil foto bersama. Sayang, akhirnya Najwa ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Meski demikian, kondisi Cahayu juga tidak kalah memprihatinkan. Dari video yang diperlihatkan Nurul, Cahayu ditemukan di RS Wava Husada dalam keadaan terbaring di lantai dan dikelilingi banyak orang.
Menurut dokter yang menangani, ada pendarahan di otak Cahayu. Tangan kirinya tidak bisa digerakkan. Ada pula cedera di punggung belakang dan matanya berwarna kemerahan hingga kini. “Dia sempat koma selama 3 hari. Kondisi kakinya juga dingin. Saya sempat bilang ikhlas seandainya dia meninggal. Tapi saya bacakan Surat Yasin dan Ar-Rahman terus sambil pijit kakinya. Ternyata tubuhnya berangsur hangat dan sadar,” cerita Nurul.
Sayang, hingga kini Cahayu kesulitan mengingat. Dia hanya bisa bercerita saat ada suporter yang turun ke lapangan dan tembakan gas air mata. Selebihnya dia tidak tahu menahu. Usai kejadian tersebut, Cahayu hanya bisa mengingat beberapa kerabatnya saja, termasuk sang ibu.
Selain Cahayu, nasib malang turut menimpa Verlitha Noor Zia. Pelajar kelas 3 dari SMP Al Hidayah itu kini hanya bisa terbaring di rumah kakeknya di Jalan Bido nomor 17. Verlitha tidak boleh banyak bergerak sampai rompi yang akan membantu menopang tubuhnya selesai dibuat. Sama seperti Cahayu, ini bukan kali pertama Verlitha menonton laga Arema FC. Setelah pandemi berlalu, dia sudah beberapa kali duduk di tribun. Seperti saat Arema melawan Persib, PSIS, Persija, Borneo, dan Persebaya.
“Kami sekeluarga sebenarnya sudah mewanti-wanti Verlitha untuk tidak berangkat. Kebetulan hari Senin dia ujian. Tapi karena sudah dibelikan tiket, akhirnya berangkat. Pamit kepada kakeknya ngopi,” ujar tante dari Verlitha, Sri Endah Rahayu. Remaja 13 tahun itu berangkat bersama 7 temannya. Namun, teman-teman yang pergi bersamanya selamat dan tidak mengalami luka apapun.
Menurut dokter, Verlitha mengalami sejumlah luka di tubuh. Yakni luka pada bagian kepala, retak tulang rusuk sebanyak 9 titik, retak tulang belakang sebanyak 2 titik, flek di paru-paru, dan mata merah.
“Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik. Meski begitu, dokter hanya memperbolehkan dia berbaring sampai rompi yang bisa menopang tubuhnya tersedia. Katanya, pembuatan rompi itu butuh waktu 2 mingguan,” tutur Endah.
Kepada koran ini, Verlitha mengaku tak banyak ingat detail tragedi Kanjuruhan. Saat selesai pertandingan, dia hanya membuat video melalui ponsel. Tidak lama kemudian terjadi kericuhan. “Saya ada di tribun 12. Setelah ada asap gas air mata, dada saya sesak. Akhirnya saya lari menyelamatkan diri,” jelasnya.
Belum sampai pintu keluar, Verlitha tidak sadarkan diri. Saat sadar, dia sudah berada di RSUD Kota Malang. Di sana dia dirawat selama satu hari, kemudian dirujuk ke RS Islam Aisyiyah Malang hingga 8 Oktober lalu. “Setelah ini belum tau mau nribun lagi atau tidak,” pungkasnya sembari tersenyum lemah. (mel/fat) Editor : Mardi Sampurno