Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Nenek 80 Tahun Meninggal Penuh Luka

Mardi Sampurno • Sabtu, 26 November 2022 | 23:44 WIB
PERIKSA LUKA: Janazah Nanik Suyatni dibawa ke Unit Forensik RSSA untuk proses visum et repertum pada Kamis malam (24/11). (RJT FOR RADAR MALANG)
PERIKSA LUKA: Janazah Nanik Suyatni dibawa ke Unit Forensik RSSA untuk proses visum et repertum pada Kamis malam (24/11). (RJT FOR RADAR MALANG)
KESAKSIAN WARGA, KORBAN SERING DIANIAYA

MALANG KOTA – Dugaan pembunuhan terjadi di Jalan Manyar, RT 016/RW 008, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kamis sore (24/11). Seorang nenek berusia 80 tahun ditemukan meninggal dengan banyak luka yang mencurigakan. Hingga kemarin (25/11), pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan, termasuk meminta keterangan orang yang tinggal satu rumah dengan nenek bernama Nanik Suyatni itu.

Nanik ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa pada pukul 16.00. Di beberapa bagian tubuhnya tampak luka berlumuran darah. Menurut Ketua RT 016 /RW 008, Kelurahan Sukun, Jumari, korban yang akrab disapa Mami itu diketahui meninggal setelah anak angkatnya, Rahmad Irwanto alias Iwan, 40, keluar rumah.

“Awalnya Iwan keluar rumah menuju rumah adik perempuannya yang bernama Isa di Sukun Gang 7. Dia mengabarkan kalau Bu Nanik sudah meninggal,” ujar Jumari kepada Jawa Pos Radar Malang, Kamis malam.

Mendapat kabar itu, Isa bergegas menuju lokasi kejadian dan mendapati Nanik sudah tak bernyawa. Dalam kondisi panik, Isa mendatangi rumah Jumari dan menceritakan bahwa Nanik meninggal dalam kondisi mengenaskan. Sekitar satu jam kemudian, Jumari datang ke lokasi kejadian bersama Lurah Sukun, dokter Puskesmas Sukun, dan beberapa anggota kepolisian.

Anehnya, yang dilihat Jumari bersama rombongan sangat berbeda dengan kondisi yang diceritakan Isa. “Ketika saya datang, korban sudah dalam keadaan bersih. Dasternya juga sudah berganti,” ungkap dia. Jumari lantas bertanya kepada Iwan mengapa kondisi jenazah Nanik berbeda dengan yang diceritakan Isa. Iwan menjawab bahwa dia yang telah membersihkan jenazah ibu angkatnya itu.

Dokter puskesmas pun diminta melakukan pemeriksaan awal. Hasilnya ditemukan luka di kepala atas sebelah kiri. Bentuk lukanya seperti terkena kepala martil. Selain itu ada luka sayatan di pelipis kanan dengan panjang sekitar 2 sentimeter. “Tapi waktu itu tidak ditemukan martil,” terang Jumari.

Dokter puskesmas juga menemukan luka lain. Yakni lebam menghitam di kedua mata korban dan pergelangan tangan kiri yang bengkak sebesar genggaman tangan. Iwan sempat mengatakan kepada petugas dan Jumari bahwa ibu angkatnya itu meninggal karena terjatuh di kamar mandi. Setelah mendapati keterangan itu, warga langsung melakukan pengecekan kamar mandi yang ada di belakang rumah. Namun tak ada jejak darah yang ditemukan. Lagi-lagi, Iwan mengaku sudah membersihkannya.

Warga pun tak percaya dengan perkataan Iwan. Apalagi jika melihat luka di tubuh Nanik, tidak mungkin hanya karena terjatuh saja. Polisi akhirnya melakukan oleh TKP. Setelah itu mereka pergi dengan membawa tiga kantong barang bukti. Iwan juga dibawa untuk dimintai keterangan.

Kasat Reskrim Polresta Malang Kota AKP Bayu Febrianto Prayoga mengatakan bahwa kasus kematian Nanik memang mengindikasikan akibat pembunuhan. Karena itu, pihaknya terus melakukan penyelidikan dan meminta keterangan para saksi. Termasuk menunggu hasil visum jenazah Nanik di Unit Forensik RSSA.

“Untuk sementara kami sudah memeriksa tiga saksi, termasuk Iwan,” ujar Bayu. Kabarnya, hingga kemarin Iwan masih terus menjalani pemeriksaan dan belum keluar dari Mapolresta Malang Kota.

Photo
Photo


Nanik Selalu Membela Iwan

Di kalangan warga Jalan Manyar, sempat muncul kecurigaan bahwa kematian Nanik ada kaitannya dengan perangai Iwan. Sebab, warga kerap mendapati pertengkaran yang terjadi antara ibu dengan anak angkatnya itu. Bahkan beberapa kali Iwan nyaris baku hantam dengan warga sekitar.

“Iwan pernah hampir ribut dengan warga sekitar karena pertengkaran yang terjasi di rumahnya. Tetapi karena belum melewati pagar rumah, dia masih aman,” kata Samsul Arifin, salah seorang tetangga Nanik.

Menurut pria 56 tahun itu, keributan terjadi sekitar sebulan lalu. Saat itu Iwan berteriakteriak sambil menghajar ibu angkatnya. Warga yang melihat kejadian itu langsung mengepung rumahnya. Menyadari perbuatannya dilihat banyak orang, Iwan akhirnya menghentikan penganiayaan itu.

Iwan sebenarnya pernah punya istri. Namun pernikahannya berakhir sekitar tahun 2020. Semenjak itu, Iwan terlihat temperamental. Salah satu korban keganasan Iwan adalah anaknya sendiri. Bocah kelas 6 SD itu dihajar Iwan hingga akhirnya memilih ikut ibunya.

Ketua RT 016 Jumari juga pernah melihat Nanik keluar rumah dalam kondisi babak belur. “Terakhir saya lihat pada Agustus lalu, seperti habis dihajar. Tapi Bu Nanik bilang habis jatuh dari kamar mandi,” ucap dia.

Dinas Sosial Kota Malang sudah pernah berusaha memisahkan ibu dan anak angkat itu dengan menempatkan Nanik di sebuah panti jompo. Namun tawaran itu ditolak oleh Nanik. Sekali waktu Nanik pernah mengalami luka patah tulang di pergelangan tangan kirinya. Warga tahu persis hal itu terjadi setelah dia ribut dengan Iwan. Namun Nanik selalu membela anak angkatnya itu jika ditanya warga. “Warga sudah menyarankan Bu Nanik meninggalkan Iwan. Tapi beliau selalu meminta agar warga tidak menyalahkan anaknya,” papar Jumari.

Kabar lain yang diungkapkan warga Jalan Manyar, Iwan pernah didiagnosis mengalami gangguan jiwa oleh dokter RSJ Lawang. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga pernah mendatangi Iwan karena ada laporan penganiayaan anak. (biy/fat) Editor : Mardi Sampurno
#nenek dibunuh #kasus pembunuhan #pembunuhan di sukun malang