Pada zaman penjajahan Belanda, warga bergotong-royong menanam pohon bambu di tepi Sungai Brantas yang saat ini secara administratif masuk wilayah Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen.
Pohon-pohon bambu itu menjadi pagar alami yang berfungsi mencegah tebing sungai longsor.
Dalam Bahasa Jawa, pagar bambu bisa disebut juga dengan istilah bethek. Maka, untuk menandai agar wilayah itu mudah diingat, digunakanlah nama Kampung Betek.
Sejarah tentang nama kampung yang terletak di Jalan Mayjen Panjaitan itu juga masih tersimpan dalam ingatan sebagian warga setempat. Sebelum ada nama Betek, wilayah itu dikenal dengan nama Jenggrik. Hingga kini, masih ada orang tua di kampung itu yang menyebut generasi mudanya dengan istilah arek Jenggrik.
Kisah serupa diungkapkan Suwardono, penulis buku Monografi Sejarah Kota Malang. Menurutnya, Jenggrik dahulu adalah sebuah desa yang terisolasi. Makna kata jenggrik adalah lereng atau kaki. ”Tapi dalam konteks masa lalu Kampung Betek, lereng yang dimaksud bukan kaki gunung. Melainkan lereng candi pusat Kerajaan Kanjuruhan yang ada di Dinoyo,” ujarnya.
Dalam Jurnal Kajian Toponimi Kampung di Sepanjang Sungai Brantas juga disebutkan, pada peta tahun 1882, Betek masih disebut dengan nama Jenggrik. Berasal dari kata jeng-grik, merujuk pada tempat yang lebih tinggi dari sekitarnya. Jenggrik berada di tepi Sungai Brantas.
Jurnal itu juga menyebutkan, secara harfiah Betek memiliki makna pagar dari bambu. Keberadaan tanaman atau hutan bambu itu dapat dilihat pada peta topografi tahun 1882, khususnya di sepanjang kawasan Betek hingga Oro-Oro Dowo. Bambu berperan dalam konservasi air dan tanah, yaitu menjaga tepi sungai dari luapan air berlebih yang bisa mengikis lereng.
Suwardono menambahkan, wilayah Betek awalnya dibagi menjadi dua. Yakni Betek NIROM dan Betek Templek. NIROM merupakan singkatan dari Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij atau RRInya Belanda. NIROM digunakan sebagai penanda wilayah permukiman mereka di Betek.
Sedangkan Betek Templek digunakan untuk menunjukkan perkampungan kecil yang dihuni warga pribumi. Dalam buku catatan Belanda berjudul Malang Beeld Van Een Stad, NIROM berada di dekat pertigaan besar menuju Oro-Oro Dowo.
Sentra Gerabah Seiring perkembangan zaman, sejarah nama kampung Betek yang diambil dari istilah pagar bambu dalam Bahasa Jawa terkesan dilupakan. Orang lebih mengenal kawasan tersebut sebagai pusat industri gerabah.
Seperti dituturkan Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri yang merupakan warga asli kawasan tersebut. Menurutnya, Kampung Betek pernah menjadi sentra gerabah yang sangat terkenal. Hampir seluruh warga Betek memproduksi gerabah. Seperti gentong, cobek, kendil, dan tembikar.
Gentong yang dibuat mayoritas berukuran besar. Tanah yang menjadi bahan pembuatan gentong diambil dari kawasan Jalan Soekarno-Hatta. Pembakaran gerabah masih menggunakan tungku tradisional yang sangat besar. ”Yang paling terkenal pada masa industri gerabah adalah pabrik milik Haji Saiun dan Haji Rifai’i,” terang mantan rektor Universitas Brawijaya itu.
Menurutnya, hampir semua warga Betek pernah menggantungkan hidup dari pembuatan gerabah. Tak sedikit yang akhirnya mengalami gangguan pendengaran. ”Tetangga saya membuat gentong sampai telinganya tuli. Pekerjaannya masuk gentong, lalu gentongnya dipukul pukul. Lama-lama jadi tuli,” kenangnya.
Pria kelahiran 1958 itu juga menceritakan, pada masa Belanda, lahan yang saat ini ditempati Malang Town Square merupakan Sekolah Peternakan Menengah Atas atau disebut Snakma. Sekolah itu sangat terkenal dan menjadi tempat rekreasi warga Betek. Fasilitasnya lengkap. Mulai dari lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan badminton, hingga kandang-kandang sapi dan domba.
Sutoyo, warga RW 04 Kampung Betek mengatakan, pada tahun 1950-an, mayoritas rumah di kawasan itu masih terbuat dari bambu. Hanya rumah-rumah Belanda di kawasan NIROM yang sudah permanen. Beberapa bangunan besar yang Berdiri di Betek pada masa itu adalah tandon air PDAM, radio milik Belanda, pabrik es, percetakan, pabrik keramik, perusahaan timbangan, dan Snakma.
Pria kelahiran 1946 itu menambahkan, dulu ada dua sungai di Kampung Betek. Warga menyebutnya kali wedhok dan kali lanang. Aliran sungai itu digunakan sebagai jaringan pabrik es mengambil air. Namun sekarang sungai itu ditutup untuk dijadikan permukiman.
Hingga kini, Kampung Betek masih memiliki bangunan yang belum mengalami perubahan sejak zaman Belanda. Di antaranya, rumah milik Yudho Nugroho yang terletak di RW 04 (sebelah Kafe Boy), Rumah kecil di depan makam Jalan Mayjen Panjaitan, pabrik es di gang 4, hingga SD Sang Timur (dulu masuk kawasan NIROM). (bersambung/fat) Editor : Mardi Sampurno