Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Embong Arab Jadi Lokasi Niaga dan Dakwah Warga Yaman

Mardi Sampurno • Jumat, 9 Desember 2022 | 16:12 WIB
Photo
Photo
Sama seperti Pecinan, Embong Arab yang berada di Jalan Syarif Al-Qodri, Kecamatan Klojen, muncul dari kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda. Pakar Sejarah Islam Universitas Negeri Malang (UM) Najib Jauhari mengatakan, saat Belanda menjajah Indonesia, ada pengelompokan kelas-kelas sosial. Pengelompokan itu didasarkan pada suku bangsa.

Warga Eropa dianggap sebagai kelas tertingi atau kelas atas. Sementara warga keturunan Arab merupakan kelas tengah. Sedangkan pribumi dianggap kelas yang paling bawah. Pengelompokkan itu berimbas pada penentuan kawasan

Mereka yang masuk kelas atas ditempatkan pada kawasan strategis. ”Misalnya di sepanjang Jalan Ijen,” kata Najib, sapaan akrabnya. Sedangkan, orang-orang Arab mendapat jatah di kawasan Embong Arab saat ini. Notabene wilayah itu merupakan kawasan di tepi kota, yang sengaja dijadikan pusat perdagangan.

Sementara untuk pribumi tinggal di kawasan pinggiran. Seperti di sepanjangan bantaran sungai dekat Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Pada umumnya, orang Arab yang ada di Kota Malang mulai dari zaman Belanda merupakan keturunan dari Yaman.

Tepatnya dari daerah Tarim dan Hadramaut. Keterangan itu disampaikan Habib Baqir bin Shalih Mauladawilah, salah seorang cucu pembabat alas di Embong Arab.

Dia mengatakan bila kakeknya, yakni Habib Muhammad bin Ali Mauladawilah, sudah hijrah ke Indonesia sebelum masa kemerdekaan. ”Yang jelas sebelum tahun 1930,” kata dia saat ditemui beberapa waktu lalu. Saat itu kakeknya berlayar dari negeri Yaman menuju Jawa menggunakan kapal laut. Saat berlabuh di Surabaya, kakeknya sempat ditolak oleh Pemerintah Belanda. ”Mereka bilang di sini bukan tempatnya,” kata Habib Baqir, sapaan karibnya.

Tak gentang dengan penolakan dari pihak Belanda, kakeknya menetap dan berdagang di Singosari. Di sana, kakeknya juga mengajar ilmu agama. Singkat cerita, kakeknya kemudian mempunyai banyak murid dan punya harta melimpah.

Dari situ lah Pemerintahan Belanda mulai memberi perhatian. ”Pemerintah Belanda saat itu menawari lokasi di sini (Embong Arab) kepada kakek saya,” ucap Habib Baqir.

Tawaran itu pun disetujui kakeknya dengan membeli lahan di Embong Arab. Sejak saat itu lah Kampung Arab mulai terbentuk. ”Saat itu kakek saya tetap berdagang sambil mengajar. Sesuai dengan tujuannya hijrah ke Jawa, yakni untuk dakwah,” imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang dari Yaman kemudian ikut datang dan menetap ke Embong Arab. Itu tidak lepas dari peran sang kakek. Sebab Habib Baqir mengatakan bila setiap tahun kakeknya pulang ke Yaman untuk ziarah ke makam Nabi Hud AS. Saat pulang kampung itu lah kakeknya ikut mengajak orangorang Yaman untuk ikut tinggal di Jawa.

Terkenal kaya raya dan dermawan, kakeknya membawa orang-orang Yaman itu dengan cuma-cuma. Semua biaya perjalanan ditanggung Habib Muhammad bin Ali Mauladawilah.

Saat kejatuhan Pemerintahan Belanda di Kota Malang, penduduk di Embong Arab menjadi beragam. ”Tetapi tetap jumlahnya (warga keturunan Arab) masih mendominasi,” kata Faris Indra Praja, Ketua RW 6 Embong Arab, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen.

Dia mengestimasi bila saat ini Embong Arab dihuni sekitar 60 persen warga keturunan Arab. ”Kalau penduduk totalnya ada 750 orang,” imbuhnya. Sebenarnya, ada tiga RW yang masuk kawasan Embong Arab.

Namun yang terletak di sepanjang Embong Arab masuk RW 6 saja. Pria yang akrab disapa Indra itu mengatakan, di RW 6 ada 7 RT. ”Tiga RW yang termasuk dalam perkampungan Arab adalah RW 6, RW 9, dan RW 10,” tambahnya.

Untuk menambah semarak keberagaman di Kota Malang, Indra mengaku pernah mengusulkan ke Pemkot Malang agar Embong Arab bisa menggelar event mingguan. Dia menggagas adanya sebuah bazar yang digelar setiap hari Minggu.

Dalam bazar tersebut, yang dijajakan yakni olahan makanan khas Arab. Harapan dia, Embong Arab nisa menjadi salah satu ikon Kota Malang. ”Bayangan saya di sepanjang Jalan Embong Arab itu bisa ditutup untuk kegiatan itu,” tandasnya. Sayangnya, dia belum bisa memastikan realisasi dari program itu. (*/by) Editor : Mardi Sampurno
#Embong Arab #Kota Malang #Dakwah Warga Yaman