Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kudusan, Kawasan Pertokoan yang Dulu Dihuni Pedagang dari Kudus

Mardi Sampurno • Minggu, 11 Desember 2022 | 04:35 WIB
PENGINGAT SEJARAH: Lampu yang membentuk tulisan KUDUSAN terpampang di atas gerbang Jalan Zainul Arifin Gang 1A, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen.
PENGINGAT SEJARAH: Lampu yang membentuk tulisan KUDUSAN terpampang di atas gerbang Jalan Zainul Arifin Gang 1A, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen.
Sesuai namanya, cikal-bakal Kampung Kudusan memang erat dengan para pendatang dari Kudus, Jawa Tengah. Waktu itu, mereka membuka deretan toko di lahan yang saat ini bernama Jalan Zainul Arifin. Pada zaman Belanda, jalan itu bernama Koedoesanstraat

DI ANTARA deretan toko di Jalan Zainul Arifin, terdapat dua gang kecil yang terhubung satu sama lain. Gang yang lebarnya tak sampai dua meter itu merupakan akses keluar masuk masyarakat Kampung Kudusan. Kampung itu terletak di RT 07/RW 02 Kelurahan Sukoharjo dan dihuni sekitar 46 kepala keluarga

Dari total 146 warga yang tinggal di kampung tersebut, mayoritas adalah pedagang. Kampung Kudusan memang memiliki ikatan sejarah dengan Kabupaten Kudus di Jawa Tengah. Masih banyak warga Kudusan yang menyimpan ingatan tentang asal-usul nama kampung mereka.

Salah satunya Sepeno, ketua RT 07 Kampung Kudusan. ”Kampung ini dulu berisi orangorang yang bermigrasi dari Kudus ke Malang,” ujarnya Pria kelahiran Blitar yang kini berusia 75 tahun itu mengaku sudah tinggal di Kampung Kudusan selama 49 tahun.

Pada saat pertama kali datang ke kawasan dekat Pasar Besar itu, Supeno mengenal banyak pendatang dari Kudus yang menjadi pedagang. Mereka berjualan di lokasi yang kini menjadi kawasan pertokoan Jalan Zainul Arifin.

Sebenarnya ada versi yang sedikit berbeda tentang asalusul nama Kudusan, namun masih tetap terkait dengan Kabupaten Kudus. Versi itu diungkapkan oleh Munaim, warga yang sudah menempati kampung itu selama 61 tahun. Dia meyakini Kampung Kudusan dulu merupakan hutan yang kemudian dibuka oleh seorang tokoh dari Kudus bernama Haji Salim.

Kepada Jawa Pos Radar Malang, Munaim juga menunjukkan salah satu sumur tua yang disebutnya sebagai peninggalan Haji Salim. ”Sumur ini sudah ada sebelum saya datang ke sini. Dari cerita yang saya dapat, sumur ini peninggalan Haji Salim,” ujar pria 77 tahun itu dengan logat Madura yang kental. Warga menyebut peninggalan Haji Salim itu dengan nama Sumur Tiban.

Alasannya, tidak pernah ada yang tahu kapan sumur itu dibangun dan siapa pekerja yang membangunnya. Tiba-tiba ada seperti jatuh dari langit. ”Sebagai penghormatan kepada Haji Salim, warga di sini masih selalu menyelipkan doa untuk beliau setiap selesai salat berjamaah. Doa itu sekaligus bentuk rasa terima kasih kepada pembuka lahan yang tanahnya kami tempati hingga sekarang,” terang Munaim.

Saat pertama kali tiba di Kudusan pada 1961, Munaim mengatakan bahwa kampung tersebut sudah padat penduduk. Bahkan dia pernah hidup dalam satu rumah triplek yang berisi tiga keluarga. Dalam perkembangannya, Kampung Kudusan juga kedatangan perantau dari beberapa daerah.

Yang terbanyak pedagang dari Madura. Saat ini, Munaim memperkirakan 50 persen warga yang menempati Kampung Kudusan adalah keturunan Madura.

Menurut Munaim, dulu ada beberapa toko yang sangat terkenal di Kudusan. Antara lain, Toko Sejati yang menjual peci atau kopiah, Toko Kaset Pertama, Toko Bumi Putera, Toko Menara Kudus, dan Tolaram yang merupakan pusat penjualan kain. ”Saya dulu sering membeli kitab di Toko Menara Kudus. Koleksinya lengkap, pilihannya banyak.

Kalau Tolaram itu milik orang keturunan India,” terang pria yang juga pernah menjabat sebagai ketua RT di Kudusan. Kisah Haji Salim sebagai tokoh terdahulu di Kampung Kudusan juga dibenarkan budayawan Kota Malang Suwardono. Namun dia mengatakan, saat Haji Salim datang, kampung itu sudah dihuni lebih dulu oleh masyarakat Malang. ”Kudusan itu kampung transisi, di mana orang- orangnya tidak tetap,” ujarnya Menurut Suwardono, Kampung Kudusan berhubungan erat dengan orang-orang yang setiap hari melakukan jual beli sejak pusat pasar (Pasar Besar) pindah di dekat kampung itu. Sebelumnya, pusat pasar Malang terletak di Kecamatan Kedungkandang. Lalu pada 1901, pasar lama pindah ke tengah kota menjadi pasar besar.

”Karena Belanda konsentrasinya di sebelah barat sungai. Akhirnya area itu menjadi ramai,” imbuhnya. Dalam buku Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Kota Malang pada 2013, disebutkan bahwa daerah Kudusan mulai ramai setelah pusat pemerintahan Malang dipindahkan dari Kutho Bedah di Madyopuro ke Jodipan. Perpindahan itu terkait pergantian era Kadipaten Malang (1614-1767) ke era Katumenggungan Malang pada 1767 sampai 1820-an.

Begitu juga saat sistem pemerintahan berganti dari Katumenggungan Malang menjadi Kabupaten Malang pada 1820. Pusat pemerintahan bergeser lagi sedikit ke arah barat, yaitu ke Kidul Dalem. Ditambah pembangunan Pasar Pecinan di Pecinan Kecil yang memicu kehadiran pedagang asing (China, India, Arab, dan Pakistan), maka Kampung Kudusan yang dulu masuk dalam wilayah Kidul Dalem semakin ramai.

Sejarah juga mencatat bahwa Kudusan sudah menjadi nama jalan pada saat Belanda menduduki Indonesia. Waktu itu masih menggunakan ejaan lama yang digabung dengan bahasa Belanda, yakni Koedoesanstraat. Saat ini namanya sudah berganti menjadi Jalan Zainul Arifin. ”Dulu, deretan toko di sepanjang Jalan Zainul Arifin memang ditempati para pedagang dari Kudus. Sekarang sudah tergeser oleh pedagang dari tempat lain. Kebanyakan dari Gresik dan Pasuruan ” ungkap Syukri, generasi keempat pemilik Toko Menara Kudus yang merupakan pedagang dari Kudus. (bersambung/fat) Editor : Mardi Sampurno
#Pengingat Sejarah #Desa Kudusan #Kota Malang #pedagang Kudus