”Ini sebagai tonggak baru. Kami ingin membawa Jaranan Malang Raya ke panggung kebudayaan sepenuhnya. Tidak sekadar kesenian pinggiran,” ujar Deklarator Organisasi Jaranan Malang Raya Ratmoko.
Pantauan Jawa Pos Radar Malang, alunalun tugu sudah dipadati masyarakat sejak pukul 09.00. Mereka ingin menyaksikan Gelaran Agung Jaranan Malang Raya. Total ada 103 grup yang tampil dalam kegiatan tersebut.
Selain menyuguhkan jaranan, mereka juga menampulkan reog Ponorogo, pegon, back dor Malangan, rapak barong, rapak kucing, dan bantengan. ”Total ada 103 grup yang terdaftar. Tapi walaupun tidak terdaftar, biasanya kalau mau tampil ikut tampil,” terang Ratmoko.
Dia menjelaskan, sebenarnya gelaran ini sudah direncanakan sejak empat tahun lalu. Namun terganjal urusan kepengurusan dan pandemi Covid-19, sehingga baru bisa diadakan pada tahun ini.
Ke depan, dia berharap agar kesenian jaranan bisa digelar rutin, baik di tingkat desa maupun kota. ”Rencananya, tahun depan gelaran puncak akan berlangsung di Kota Batu,” imbuhnya.
Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji mengapresiasi Gelaran Agung Jaranan Malang Raya. Dia berharap ke depan seniman maupun masyarakat bisa saling menghargai. Terlebih lagi, dalam kesenian jaranan terdapat banyak aliran.
“Semoga para tokoh bisa saling membina. Karena sudah waktunya masyarakat tahu isi dari akar budaya jaranan,” ucapnya.
Hal serupa juga diungkapkan Kapolres Malang Kombes Pol Budi Hermanto. Dia menyatakan, jaranan merupakan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Jika perlu, lanjutnya, jaranan diperkenalkan di tingkat sekolah sebagai muatan lokal seni budaya. Hal itu bisa dilakukan agar budaya lokal tidak diklaim orang asing. “Kami membantu dari sisi pengamanan dan pengalihan arus. Harapannya ini bisa dilakukan berkala serta menampung aspirasi budayawan,” tandasnya. (mel/dan) Editor : Mardi Sampurno