Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Longsor, Rumah Tak Berpenghuni Dibongkar

Mardi Sampurno • Sabtu, 17 Desember 2022 | 20:46 WIB
SUDAH LAMA RUSAK: Pekerja merobohkan rumah di Jalan Raya Serayu Selatan  Nomor 18A menggunakan ekskavator kemarin siang. Sehari sebelumnya, tembok  samping rumah itu roboh akibat tanah di bawahnya longsor ke sungai.
SUDAH LAMA RUSAK: Pekerja merobohkan rumah di Jalan Raya Serayu Selatan Nomor 18A menggunakan ekskavator kemarin siang. Sehari sebelumnya, tembok samping rumah itu roboh akibat tanah di bawahnya longsor ke sungai.
MALANG KOTA – Dalam beberapa waktu terakhir, hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Kota Malang mengakibatkan tebing sungai longsor. Dampaknya, rumah yang tepat berada di atas bibir sungai terancam ikut ambruk. Contohnya yang melanda rumah di Jalan Raya Serayu Selatan Nomor 18A pada Kamis sore (15/12).

Sebagian tembok rumah milik keluarga Sumardi (alm) itu roboh akibat tanah di bawahnya longsor ke sungai.

Kejadian tersebut berlangsung pada pukul 16.07. Saat itu hujan turun berjam-jam dengan intensitas tinggi. Tiba-tiba tembok samping lantai dua bangunan yang menempati bibir Sungai Bango itu terlihat bergerak dan perlahan ambruk. Untungnya tidak ada orang yang berada di dalam rumah. Sejak tujuh bulan lalu, anak dan istri Sumardi pindah ke Tajinan, Kabupaten Malang.

Warga di sekitar lokasi kejadian mengatakan, rumah itu sudah mengalami kerusakan sejak lama. Beberapa temboknya retak. Lantai kamarnya juga sudah ambles. Karena itulah penghuninya memilih pindah.

”Saya melihat langsung waktu terjadi longsor karena kebetulan sedang lewat. Kemarin (Kamis, red), hujan memang turun dengan lebat sampai jalan di depan rumah itu tergenang setinggi 30 cm,” ujar Gerardus, Ketua RT 02/RW 02 Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, kemarin. Saat melintas di depan rumah Sumardi, Gerardus tiba-tiba melihat tembok di lantai roboh. Disusul kerusakan lain di lantai rumah, teras, dan kamar depan. Karena kondisi rumah semakin miring, Gerardus menghubungi menantu Suciati yang bernama Wahid.

Kepada Wahid, dia menyarankan agar rumah tersebut dirobohkan. Sebab jika tidak segera dirobohkan akan berdampak ke dua rumah lain di sisi belakang dan satu rumah di sisi kiri. ”Saya minta mereka untuk segera mengambil keputusan supaya rumahnya bisa dirobohkan. Kalau tidak akan membahayakan rumah-rumah lain,” terangnya.

Pihak keluarga pun menyetujui saran Gerardus. Perangkat RT segera menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang. ”Pembongkaran dilakukan Kamis malam hingga hari ini (16/12). Kalau ditaksir kerugiannya sekitar Rp 850 juta. Tapi pihak keluarga tidak mempermasalahkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Malang Prayitno menjelaskan, pembongkaran dilakukan karena bangunan milik keluarga Sumardi itu membahayakan rumah-rumah lain. Material rumah juga berpotensi menyumbat aliran sungai. ”Untuk warga yang lain, kami mengimbau agar lebih waspada potensi bencana pada musim penghujan seperti ini,” tutur mantan Camat Kedungkandang tersebut.

Petugas yang ikut membongkar bangunan mengungkapkan, di bagian bawah rumah berukuran 5x15 meter itu tidak tampak fondasi besi. Akibatnya, struktur yang menyangga rumah kurang kuat. ”Kemiringan rumah di bagian belakang sudah sangat membahayakan. Makanya harus segera dibongkar. Untuk sementara, Jalan Amandit dan Jalang Batang Hari kami tutup sehubungan dengan pembongkaran ini,” jelas Samsul Ismail, staf DPUPRPKP Kota Malang. (mel/fat) Editor : Mardi Sampurno
#longsor #Jalan Serayu Selatan #angin kencang #Kota Malang #hujan angin #hujan deras