Banyaknya pohon asam jadi cikal bakal nama Kampung Klaseman. Awalnya dulu disebut Karangaseman. Selanjutnya berubah menjadi Kalaseman. Setelah ada persetujuan antara warga dan pamong, namanya berganti menjadi Klaseman.
Sebelum familiar dengan sebutan Klaseman, kampung ini dulunya bernama Karangaseman. Versi itu disampaikan sejarawan Kota Malang Suwardono. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karang berarti tempat berkumpul. Sementara, kata aseman berasal dari pohon asam. Jika digabung menjadi Karangaseman, artinya yakni tempat berkumpulnya pohon asam. Saat membicarakan Kampung Klaseman, ingatan Suwardono langsung beralih ke tahun 1970-an.
”Waktu saya kecil, di dekat kuburan (Makam Klaseman) itu pohon asamnya memang besar-besar,” kata dia. Menurut dia, saat itu pohonnya berderet dari Jalan Galunggung sampai Jalan Surabaya, Kota Malang.
Sekitar tahun 1986, beberapa pohon asam itu masih ada. Kini sudah berganti dengan deretan ruko. Hanya tersisa satu pohon asam yang masih di kecil di dekat Makam Klaseman. Suwardono melanjutkan, zaman dulu, orang Jawa kuno kerap mengubah pengucapan R menjadi L. Sehingga, istilah Karangaseman berubah menjadi Kalaseman.
Penyingkatan kata juga menjadi kebiasaan masyarakat Jawa. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan zaman, nama Karangaseman kemudian berubah menjadi kalaseman, dan berakhir dengan Klaseman. Seperti yang dipakai hingga saat ini.
Dari penelusuran Jawa Pos Radar Malang, nama Karangaseman juga tercantum dalam laporan Belanda yang berjudul Oudheidkundig Verslag 1923 (Laporan Antik 1923). Dalam laporan itu, Karangasem disebutkan sebagai salah satu desa di Kecamatan Daoe (Dau). Ketika laporan itu diterbitkan tahun 1924, Desa Karangasem sudah berasosiasi dengan Desa Badut dan Desa Karangbesuki. Di sana, kabarnya juga sempat ditemukan dua lumpang (alat tumbuk) dan dua lingga (simbol Dewa Siwa). Sayangnya, keberadaan temuan itu tidak diketahui hingga saat ini.
Setelah bergabung secara administrasi dengan Kota Malang di tahun 1987, wilayahnya berubah. Desa Karangasem menjadi dusun dan ada di dalam Desa Karangbesuki. Kemudian bergabung dengan Kecamatan Sukun. Istilahnya kemudian berubah sejak tahun 2001. Menjadi Kelurahan Karangbesuki. Seiring perjalanan waktu, istilah Karangasem sudah tidak digunakan lagi. Berubah menjadi Kampung Klaseman.
Lokasinya ada di RW 2, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun. Total ada 12 RT di dalam RW 2 itu. Versi serupa diungkapkan oleh Bakri, 79. Sesepuh di sana itu mengakui bila nama aslinya bukan Klaseman. Dia juga menyebut tidak ada alasan khusus terkait perubahan itu. ”Karena persetujuan orang desa dan pamong-pamong saja, makanya diubah menjadi Klaseman,” kata Bakri.
Di zaman penjajahan Belanda, ayah dari Bakri dulunya adalah Kepala Desa Karangasem. ”Dulu nggak ada yang berani menjadi kepala desa. Saat menjadi kepala desa, ayah saya juga sempat dihukum Belanda,” terangnya.
Saat ini, Klaseman lebih dikenal sebagai Kampung Sanitair. Di Jalan Raya Candi II yang memiliki panjang sekitar satu kilometer itu, berjajar produk-produk sanitair. Mulai dari kijing makam, nisan, pilar, pot bunga, ornamen taman, guci, hingga wastafel. Dalam website resmi Kelurahan Karangbesuki, terdapat 49 industri rumahan yang memproduksi sanitair di RW 2.
Salah satunya milik Bakri. Usaha turun temurun dari ayahnya itu telah dirintis sejak tahun 1941. Waktu itu, ayahnya orang pertama yang memiliki industri sanitair. Kemudian, usaha itu semakin terkenal sejak tahun 1960-an. Saat dia mengelolanya bersama kakaknya, Ahmad.
Pemasaran sanitair milik Bakri tidak hanya untuk lingkup lokal saja. Sebab beberapa produknya juga dikirim hingga Kalimantan dan Bali. ”Saya juga pernah menangani pengiriman ke Belanda,” kata Bakri. Secara umum, kualitas produk sanitair dari Kampung Klaseman memang banyak mendapat pengakuan.
Sebagai identitas kampung, plakat besar sudah ada di gapura saat memasuki Kampung Klaseman. Tertulis “Sentra Industri Sanitair” sebagai penunjuk lokasi. Letaknya di simpang tiga Jalan Galunggung - Jalan Candi II. (*/by) Editor : Mardi Sampurno