Kampung Talun (Taloen) sudah ada jauh sebelum zaman Belanda. Namanya bahkan tertulis dalam Prasasti Pamotoh 1198 Masehi. Beberapa penelusuran sejarah menyebut Talun sebagai awal terbentuknya Kampung Kajoetangan.
MENGUTIP catatan dalam Prasasti Ukir Negara (Pamotoh), Talun disebut ber sama beberapa nama Kampung yang hingga kini masih langgeng di Kota Malang. Pada Prasasti Pamotoh kelompok 3 diceritakan, Sri Dingkas Resi memberi anugerah kepada Dyah Limpa, Dyah Mgat, Dyah Duhet, dan Dyah Rinami masing-masing tanah Sima disertai hak-hak istimewa. Sebagian dari tanah yang dihadiahkan itu berada sebelah Timur tempat ber buru yang bernama Malang. Beberapa di an ta ranya disebutkan juga dalam Kitab Pa raraton, yakni Malang, Kabalan, Gadang, Sagenggeng, Talun, Gasek, Wurangdungan, Dau, Syifa dan Paniwen.
Hingga kini, Talun termasuk salah satu nama kampung yang familiar di telinga warga Kota Malang. Lokasinya berada di RW 10 Kelurahan Kauman. Terdiri dari 6 RT dan dibagi menjadi dua bagian, yakni Talun Lor dan Talun Kidul.
Talun Lor terletak di Jalan Kawi dan Jalan Arif Rahman Hakim Gang 1. Sedangkan Talun Kidul berada di seberang Jalan KH Hasyim Ashari. Hingga kini, di perkampungan tersebut masih banyak berdiri rumah-rumah kuno. Pemiliknya sengaja mem pertahankan bentuk asli rumah yang dibangun sejak zaman Belanda itu.
Kisah turun-temurun tentang ter bentuknya Kampung Talun juga masih terjaga di lingkungan tersebut. Seperti dituturkan Mila Kur niawati, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kajoetangan Heritage. Dia menjelaskan bahwa nama Talun mengacu pada lahan yang sudah di buka, namun tak kunjung ditempati. Akibatnya muncul ta naman liar yang disebut dengan istilah Talun.
”Dulu Talun adalah perkebunan yang baru di buka. Kampung ini justru menjadi asal muasal Kam pung Kajoetangan karena merupakan perkampungan pribumi,” ujarnya. Mila juga men jelaskan, secara tidak lang sung Talun sudah mem bentuk pengelompokan ma syarakat. Talun Lor merupakan area seni man, sedangkan Talun Kidul adalah area saudagar,” terangnya.
Lahan Talun dulu merupakan hutan yang ditumbuhi tanaman patangtangan (salah satu versi asal-usul nama Kajoetangan). Konon hutan itu penuh tantangan karena menjadi pelarian Ken Arok. Wilayah itu juga diperkirakan menjadi awal mula permukiman warga, khususnya di tepi Kali Sukun.
Menurut Mila, dulu di sebelah kanan Kali Sukun merupakan hutan dan di sebelah kiri meru pakan persawahan. Pada saat masih berusia TK, se kitar 1980, Mila juga menjumpai war ga yang memelihara kijang di tepi sungai.
Beralih ke era 1800-an, di Talun muncul kisah Mbah Honggo. Dia merupakan keturunan asli Ma taram dan menjadi guru spiritual Bupati Malang pertama, yaitu R. A. A. Notodiningrat. Keberadaan Mbah Honggo juga diperkirakan berkaitan dengan sejarah penyebaran Islam di Kota Malang.
Penyebaran Islam di Talun terlihat dari banyaknya surau atau musala di sepanjang Kali Sukun. Mbah Onggo juga memiliki peran dalam membangun Pasar Talun dan mengubah pekuburan menjadi area perka pungan. Kini makam Mbah Honggo berada tidak jauh dari Pasar Talun, tepatnya di Jalan Jenderal Bauki Rahmat Gang 4, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Suwardono, penulis buku Monografi Sejarah Kota Malang juga mengungkapkan, cikal ba kal nama Talun berasal dari la han yang baru dibuka namun belum dihuni oleh warga, sehingga ditumbuhi banyak tanaman liar. Tanaman liar itu tumbuh di dekat area perkampungan.
Untuk mempermudah gambaran fisik tanaman liar Talun, Suwardono mengaitkan dengan la gu berjudul Kidang Talun. Dalam lagu itu ada baris yang ber bunyi: Kidang talun, Mangan ka cang talun. Menurut Suwardono, Kidang Talun adalah hewan rusa yang hidup di kebun dan makanannya kacang tanah serta daun lembayung.
Karena itu, tanaman liar yang ada di Talun diyakini tak jauh berbeda dengan pohon kacang dan lembayung. Ukurannya tidak terlalu tinggi sehingga bisa dimakan oleh rusa.
Serupa dengan yang disebutkan dalam buku Wanwacarita, Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang. Kampung Talun telah ada pada akhir abad XII. Talun memiliki maknai kebun luar. Lokasinya di tepi hutan dan belum lama di buka. Penjelasan itu memberi gambaran tentang pembukaan areal hutan untuk perkebunan serta permukiman para petani.
Pasar dan Es Talun Sejak dulu Talun sudah mengemban predikat sebagai salah satu pusat perdagangan di Kota Malang. Itu terbukti dengan adanya Pasar Talun yang menjadi awal mula tempat transaksi per dagangan rakyat kecil di Malang. Aneka jualannya juga cukup lengkap.
Saat ini Pasar Talun disebut sebagai pasar krempyeng karena aktivitas jual beli hanya berlangsung singkat. Tidak penuh dalam satu hari. ”Di sepanjang Kali Sukun juga terkenal ada pasar loak atau rombengan Talun. Tapi pedagangnya mayoritas bukan warga Talun,” ungkap Mila.
Pada zaman Belanda, Pasar Talun terdiri dari 3 los dan menempati area kurang lebih 50 kali 30 meter. Pasar itu muncul dari banyaknya kusir kuda dan tukang becak yang mangkal di Talun. Lama kelamaan, datang beberapa penjual dan semakin lama semakin banyak.
Pasar Talun diperkirakan dibangun bersamaan dengan beberapa pasar pembantu Kota praja Malang yang dimulai pada 1919. Melingkupi Pasar Bunulrejo, Pasar Klojen, Pasar Kebalen, Pasar Oro-Oro Dowo, Pasar Embong Brantas, dan Pasar Lowokwaru.
Suseno, warga asli Kampung Talun, mengatakan bahwa Talun juga dikenal dengan pasar rombeng. Banyak barang antik yang dijual di pasar itu. ”Sebelum di bangun perumahan warga, Talun merupakan kuburan. Rumah yang saya tempati juga bekas kuburan,” ujarnya.
Selain pasar, Kampung Talun juga memiliki ikon kuliner, yakni Es Talun. Berdiri sekitar 1950, pe milik pertamanya adalah orang China bernama Yok Yan atau sering disebut Om Loek oleh warga sekitar. Karena tidak ada penerus, usaha itu dijual ke pihak lain.
Es Talun ahirnya dibeli oleh Hj Wiwik pada 1985. ”Tapi dengan perjanjian bahwa ruko harus tetap dibuat untuk berjualan es campur. Tujuannya agar sejarah Es Talun tetap abadi di Malang,” kata Siti Jubaidah, karyawan Es Talun. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno