Sehingga, warga setempat mengartikan penamaan Kebalen sebagai tempat ”orangorang nakal”. Seperti diungkapkan Ketua RT 15 M. Yusuf. Meskipun wilayah tempatnya tinggal masuk dalam RW 02, tapi sertifikat PBB miliknya pada zaman dulu masih berbunyi Kebalen Wetan. Dia juga sudah tinggal di Kebalen sejak 1973. Menurut Yusuf, dulu di Kampung Kebalen banyak perempuan yang menjajakan diri sebagai pelacur. Mereka bekerja di bawah pengawasan mucikari atau germo. Selain banyak beraktivitas di jalan, para pelacur juga bekerja di hotel atau penginapan. ”Dulu di sebelah timur Kebalen ada hotel untuk tempat pelacur bekerja. Sekarang bangunannya masih ada. Aktivitas pelacuran itu dibubarkan pada 1980 dengan pertimbangan kondisi psikologis dan masa depan anak-anak,” terang pria berambut gondrong tersebut.
Cerita serupa juga dituturkan Daselan. Lelaki yang sudah tinggal di Kebalen sejak 1946 itu mengatakan, dulu para pelacur kerap lewat di depan rumahnya. Terutama setiap Selasa untuk memeriksakan kesehatan di klinik Jalan Arjuno. Karena terkenal sebagai lokasi prostitusi, anak-anak tidak berani atau malu untuk menyebut nama Kebalen jika ditanya. ”Karena itu juga, lokasi pelacuran diprotes warga. Akhirnya, sekarang sudah tidak ada dan digantikan dengan banyaknya langgar (surau), pondok pesantren, serta santri-santri,” ujarnya. Ada beberapa titik yang dulu menjadi lokasi para pelacur. Mulai dari jalan dekat Pasar Kebalen, gang 3, sampai gang 8. Karena dirasa memberikan pengaruh buruk, warga mengadakan unjuk rasa pada 1980-an untuk mengusir pelacur-pelacur tersebut. ”Namun aktivitas prostitusi belum berhenti dan berpindah ke Kebalen Wetan,” kata Samsul Islam, warga yang tinggal di kawasan tersebut sejak kecil. Kala itu, Kebalen Wetan juga dikenal dengan sebutan plorotan karena posisi jalannya yang sedikit menurun.
Samsul menceritakan, meski sudah terbiasa melihat pelacur yang berseliweran, dia selalu diperingatkan oleh orang tua agar tidak mendekati rumahrumah yang nyala lampunya berwarna merah. ”Lalu, pada 1980-an saya pindah ke RT 04 RW 01,” imbuhnya. Menurut dia, penghentian aktivitas prostitusi di Kampung Kebalen juga tidak lepas dari peran pemerintah kota. Terutama pada zaman Wali Kota Soesamto. Terlebih, di Kebalen dulu terdapat rumah pejabat pemerintah kota. Sehingga perubahan kampung begitu diperhatikan. Dalam tulisan Reza Hudiyanto yang berjudul Yang Tersisa di Tengah Kemajuan: Kaum Miskin di Kota Malang 1916-1950, disebutkan bahwa aktivitas prostitusi di Kota Malang sudah berlangsung sejak 1915. Di Kebalen, prostitusi masih berlangsung hingga menjelang akhir abad ke-19.
Prostitusi di sana sulit dihentikan karena banyaknya jejaka yang takut menikah. Selain itu, ada pria-pria yang membutuhkan hiburan karena mengalami masalah di lingkungan keluarga. Dipaparkan Reza, sebenarnya Kampung Kebalen pada masa itu juga bukan kampung kumuh. Sebab, Jawatan Kebersihan Gemeente kerap melakukan pemeriksaan. Terutama pada rumah-rumah yang melakukan aktivitas pelacuran. Tujuannya untuk mencegah penyebaran penyakit menular. Selain pernah terkenal sebagai lokalisasi, ada beberapa bangunan di kawasan tersebut yang menggunakan nama Kebalen. Salah satunya adalah pasar. Sampai sekarang, pasar itu masih eksis dan menjadi jujukan warga Malang berbelanja. Warga Kebalen menyebutnya dengan nama Pasar Krusuk.
Namun, warga dari luar mengenalnya sebagai Pasar Kebalen. ”Disebut Pasar Kebalen, artinya mbalekno. Karena dulu kalau ada dagangan yang masih tersisa, akan dijual kembali di pasar itu,” terang Haji Chotip Iksan yang sudah mendiami Kebalen sejak 1941. Chotip menambahkan, kini Kampung Kebalen sudah berubah drastis. Selain banyak warga yang semakin peduli terhadap agama, kampung itu juga didominasi warga yang berdagang. ”Dulu di sini didominasi orang Madura, sehingga banyak yang menjual nasi bhuk. Sekarang beralih menjadi tempat pedagang ayam potong dan kacangkacangan,” jelasnya. Perubahan kondisi kampung juga disebutkan dalam Stadsgemeente Malang 1914-1939. Selain pada zaman Orde Baru, upaya untuk menjaga lingkungan di Kampung Kebalen sudah dilakukan pada Zaman Kolonial.
Terdapat pemeliharaan jalan-jalan hingga perbaikan drainase. Versi Lain Seperti di kampung-kampung lainnya, Kebalen juga memiliki beragam versi asal-usul penamaan. Misalnya yang diungkapkan pemerhati sejarah Kota Malang Suwardono. Mengambil penafsiran dari sisi etimologi bahasa, dia menduga bahwa Kebalen termasuk nama lama, tapi tidak tercantum dalam prasasti. Suwardono mengatakan, Kebalen berasal dari kata dasar walyan yang mendapat awalan ka. Jika digabung, maka maknanya menyatakan tempat walyan. Yakni tabib atau dokter.
Namun bisa juga berasal dari kata walli yang berarti tumbuhan sulur-suluran. Sayangnya tak ada dokumen yang mencatat hal tersebut. ”Nama Kebalen sudah ada di Peta Belanda tahun 1866. Untuk itu, perlu diteliti lagi apakah penyebutan Kebalen benarbenar berhubungan dengan kampung yang pernah jadi lokasi prostitusi,” terangnya. Dalam buku Wanwacarita Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang disebutkan ada nama daerah yang mirip dengan Kebalen. Lokasinya di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang.
Dulu kawasan itu disebut dengan Kabalan. Namun sekarang menjadi Dusun Kabalon. Menurut sejarah, Kabalan merupakan salah satu tempat dalam Watak Tugaran. Watak atau watek adalah satuan wilayah administrasi pemerintahan pada Zaman Hindu-Buddha. Penamaan kawasan itu sesuai dengan nama pejabat yang memimpin, yakni Bhre Kabalan. Diperkirakan, Watak Tugaran memiliki wilayah yang cukup luas. Meliputi bagian timur dan selatan Malang Raya. Pusatnya ada di lembah sisi barat Gunung Buring atau yang sekarang menjadi Dusun Tengaron di Kelurahan Lesanpuro.
Jika memang demikian, beberapa desa di sekitarnya, termasuk Kabalan, menjadi desa-desa pendukung (hinterland). Sebab, sebuah pusat pemerintahan membutuhkan dukungan dari kawasan-kawasan di sekitarnya. Prof Drs S. Wojowasito dalam bukunya yang berjudul Malang Selayang Pandang menjelaskan bahwa nama Kabalon tercantum pada naskah Pararaton dan diinterpretasikan sebagai Kebalen. Dalam naskah Pararaton, Kabalon diartikan sebagai pertapa, guru hyang, atau punta. Dengan kata lain, Kabalon merupakan mandala (kedewagurwan). Yakni tempat untuk mempelajari agama dan keterampilan duniawi di lokasi terpencil, seperti lereng gunung, yang dipimpin dewaguru atau siddharsi. Prof Wojowasito menjelaskan, Desa Kebalen yang letaknya berseberangan dengan Kutobedah dulu adalah mandala atau penepen (goa) bernama Kebalon.
Dia berasumsi bahwa di lembah Sungai Brantas yang terletak di sebelah timur Kebalen (kini Jalan Muharto) terdapat penepen. Tapi, pendapat ini diragukan karena kawasan yang dekat Watak Tugaran justru Kabalan di Cemorokandang. Sumber lain mengenai penamaan Kampung Kabalen berasal dari warga setempat. Salah satunya Ahmad Hudan Dardiri.
Dalam buku Toponim Kota Malang yang ditulis Ismail Lutfi dan kawan-kawan, Dardiri mengungkapkan jika nama Kabalen bukan dari Bali, tapi dari kata Ka-balu-an. Balu berarti janda. Dengan kata lain, Kebalen merupakan tempat yang ditinggali banyak janda. Meski demikian, kaitan antara kata Ka-balu-an dengan karakter kawasan Kebalen yang pernah menjadi lokasi prostitusi masih belum bisa dipastikan. Versi lain yang dipaparkan Ismail Lutfi adalah dari pendekatan etimologis. Yakni Kebalen yang berasal dari kata Ke-Bali-an. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno