Seperti yang dilakukan Hariono, salah satu pedagang lato-lato di Jalan Bareng Tenes, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen. Kini dia bisa menjual mainan dua bola yang diikat dengan tali sebanyak 15-25 buah per hari. ”Iya, itu per hari sudah banyak dengan harga jual paling murah Rp 10 ribu,” katanya saat ditemui kemarin (27/12).
Pria yang sudah berjualan mainan sejak 1980-an itu mengaku baru pertama kali menjual lato-lato setelah mainan tersebut viral di media sosial. Di samping itu, larisnya mainan tersebut juga menaikkan pendapatannya sekitar 25 persen. Sebelumnya, dia hanya berjualan layang-layang, gelembung air, dan kitiran. Itu pun kadang laris kadang tidak. Tak hanya Hariono, pedagang lain yakni Wahyudi juga meraup keuntungan.
Dia yang berdagang di Alun-Alun Malang bisa menjual 25-30 buah per hari. Apalagi saat hari libur atau akhir pekan bisa mencapai 40-50 buah. ”Pembeli rata-rata nostalgia, karena sebagian ada yang pernah memainkannya di era 1980-an,” ucap dia. Ditanya pendapatan, dia bisa mendapat uang sebesar Rp 300-400 ribu per hari. Tentu jadi keuntungan yang menggiurkan. Mengingat mainan tersebut juga bermanfaat bagi anak agar tidak kecanduan dengan smartphone. (kr2/adn) Editor : Mardi Sampurno